Arsip Kategori: Ngentot Sama Orang baru

Tetangga Toge Jablay

Setelah 10thn menjalani rmh tangga dan telah dikaruniai 2 ank, tentunya kadang timbul kejenuhan dalam rmh tangga, untunglah karna kehidupan kami yang terbuka, kami dapat mengatasi rasa jenuh itu, termasuk dalam urusan seks tentunya.
awal dari segalanya adalah cerita dari istriku saat akan tidur, yang mengatakan bahwa evi tetangga depan rumah aq ternyata mempunyai suami yang impoten, aq agak terkejut tidak menyangka sama sekali, karna dilihat dari postur suaminya yang tinggi tegap rasanya tdk mungkin, memang yg aku tau mereka telah berumah tangga sekitar 5 tahun tapi blm dikaruniai seorang anakpun, Baca lebih lanjut

Juragan Toge Dengan Cerita Dewasa Berselingkuh Dengan Teman Isteriku

yang ingin Juragan Toge ceritakan pada situs cerita dewasa ini adalah pengalaman ML dengan teman istriku. Pernikahan kami berdua sangat bahagia, jarang seumuran kami sudah berkelurga.menikah pada usia muda mungkin bukan rencana ku dan suamiku.Tapi Tuhan sudah berkehndak lain inilalah jalan yang harus kulalui.Sebetulnya perkenalkan ku sama suamiku sangat cepat,secara kebetulan kami berkenalan saat Ultah teman ku,Ini mungkin jatuh cinta pada pandang pertama.Sosok lelaki yang pertama ku kenal ini mampu meluluhkan kepingan hati yang semapat hancur secara tiba-tiba.Kedekatan dengannya makin akrap sejak kami putuskan untuk saling tukar tlp.Tiada hari tanpa bayang
Baca lebih lanjut

Anak Perempuan Pembantuku Jadi Isteri Kedua Yang Memuaskanku By Juragan Toge

Malam itu aku berembuk tentang wanita itu, sebenarnya istriku agak keberatan jika wanita itumengajak anaknya untuk bekerja di rumah kami yang dikatakan istriku sebagai beban tambahan, tapi setelah kuyakinkan akhirnya istriku setuju juga kalau wanita itu beserta anak gadisnya bekerja sebagai pembantu di rumah kami, alasanku karena istriku sedang sibuknya mengurus bisnisMLM-nya dan karena pernikahan kami yang sudah 6 tahun belum mendapatkan keturunan, sehingga anak gadis itu bisa kami anggap sebagai anak kami sendiri. Baca lebih lanjut

Mama Selingkuhi Tukang Koran

Terus terang tak pernah aku berpikir bisa berlaku macam ini sebelumnya. Di kalangan pergaulan komplek rumahku aku termasuk ibu rumah tangga yang alim dan terhormat. Aku sangat mencintai suamiku yang 38 tahun, cukup ganteng, punya jabatan (insinyur dan manager dari sebuah perusahaan konstruksi). Aku sendiri Ani, 32 tahun, cukup cantik, bahkan menurut tetanggaku aku sangat cantik hingga mereka bilang aku mirip Ussy Susilowati, itu pembawa acara KDI yang berpasangan dengan Ramsi di stasiun televisi TPI.
Baca lebih lanjut

JURAGAN TOGE “BERBAGI NO TELPON BISPAK DAN TANTE GIRANG JUGA OM OM SENANG

Cerita Nikmat Holic sekalian, kini saatnya kita berbagi list no telpon tante girang, cewek bisa pakai dan juga om om senang! bagi kalian yang mempunyai no mereka bisa berbagi disini melalui kotak komentar, atau buat kalian yang ingin ditelpon sama om om senang, tante girang dan cewek bisa pakai, tinggalkan saja no kalian di kotak komentar, karena blog ini sudah dikunjungi sebanyak 4000 an lebih pengunjung dan diantara mereka sedang mencari no telpon buat dihubungi dan diajak kencan!! monggo mariiii!!!

Aku tak tahan bila tidak ngentot, aku butuh lelaki

Panggil aku Ayu. Sesungguhnya namaku yang benar adalah Kustinah. Sejak sekolah hingga sekarang sesudah umur 28 tahun teman-teman gaulku selalu memanggilku Ayu karena kecantikanku. Dan panggilan itu akhirnya keterusan hingga orang-orang rumaHPun memanggilku demikian. Sebagai seorang perempuan, menurut omongan dari banyak teman-temanku, aku termasuk cantik dan sensual. Dengan tinggi tubuhku yang 174 cm dan berat badan yang 57 kg serta wajah ayuku mereka bilang aku pantas kalau jadi model atau bintang sinetron.

<script type=”text/javascript” src=”http://www.jaringurl.com/campaign_.php”></script&gt;

Dari ukuran normal, sebagai seorang istri aku telah mendapatkan segalanya. Menjadi putri ke 3 dari keluarga yang cukup terpelajar, ayahku yang berasal dari Jambi adalah seorang ahli hukum laut menikah dengan ibuku yang berasal dari Jawa Timur adalah seorang dokter, aku mendapatkan kasih sayang yang cukup melimpah.

Demikian pula, sebagai istri dari Mas Surya yang seorang insinyur arsitek, aku mendapatkan apapun yang aku inginkan. Tetapi ini pula mungkin pangkalnya. ‘Mendapatkan apapun yang aku inginkan’ itu di kemudian hari ternyata menghadapi banyak godaan yang tak mampu aku hindari dan kendalikan. ‘Apapun yang kuinginkan’ ini berkembang dimensinya. Khususnya dalam masalah syahwatku.

Telah 8 tahun aku menikah dengan Mas Surya. Suamiku termasuk type pria idaman bagi kebanyakan wanita. Insinyur, tampan, lembut, cerdas dan romantis. Walaupun hingga kini belum memiliki anak, kami nggak pernah kesepian. Ada saja yang membuat kami asyik mengarungi bahtera sebagai suami isteri ini. Setiap pulang kerja ada saja oleh-oleh yang dia bawa untuk menyenangkan aku. Banyak kejutan yang dia persiapkan untukku. Apa saja.

Dalam hal hubungan seksual, dia termasuk lelaki yang normal. Gairah, kelembutan dan romantisme yang ada padanya selalu menghasilkan hubungan seksual yang tak ada cacatnya.
Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang sangat mempengaruhi tingkah-lakuku dalam hal syahwat.

Bermula dari rumah temanku..
Sehabis program aerobik yang secara rutin aku lakukan bersama teman-teman dalam klub, aku tidak langsung pulang. Yang punya rumah, Mbak Sari, namanya ngajak aku ngobrol dulu. Kebetulan dia sedang sendirian. Suaminya belum pulang dari kantornya, anaknya nginep di rumah neneknya dan Warsih pembantunya sedang pulang kampung. Sesudah dia buatkan aku teh panas kesukaanku kami ngobrol di ruang keluarga. Sesudah ngomong macam-macam topik, Sari ngajak aku nonton VCD porno.
Walaupun aku sering dengar tentang VCD macam itu terus terang aku belum pernah menontonnya. Dan aku kok nggak enak kalau menolak ajakan Sari ini. Yaa.., akhirnya kami nonton sama-sama.

Ternyata dari VCD itu aku baru melihat apa-apa yang sebelumnya tak terbayangkan olehku.
Wanita-wanita yang sangat cantik secara agresif digauli maupun menggauli lelaki kasar, hitam atau coklat dan sebagainya. Wanita-wanita itu sepertinya begitu bernafsu terhadap kemaluan lelaki. Dan yang aku nggak pernah terbayangkan sebelumnya, ternyata lelaki-lelaki itu memiliki penis yang demikian gede, kuat, panjang dan penuh otot. Penis itu begitu berkilat saat tegang karena birahi.

Saat ‘close up’ kulihat, bibir lubang kencingnya yang lebar dengan lubangnya yang dipenuhi cairan syahwatnya yang jernih bening. Kameranya menangkap citra kemaluan itu begitu tajam dan detail seperti penyajian citra makanan yang demikian lezatnya. Kilatan kepalanya yang mengkilat seakan hendak meletus pada saat tegang bernafsu. Aku jadi ingat kemaluan suamiku yang mungkin hanya seperempat besarnya dibanding kemaluan-kemaluan bintang VCD itu. Dan pada saat penis itu menembusi vagina, betapa sesaknya. Sampai nampak bibir vaginanya, yang pasti sangat mencengkeram, ikut terbawa keluar masuk ketika penis itu memompa. Aku jadi merinding melihatnya.

Dan lihat wanita-wanita cantik itu.. Dari desahan-desahan dan jeritan erotisnya nampak mereka diterkam oleh kenikmatan yang tak terhingga. Dan kenikmatan itu lebih lagi saat muncratnya air mani si lelaki yang ditumpahkan ke bibir-bibir cantik mereka. Terkadang berceceran di seputar wajahnya, kacamatanya, buah dadanya. Dan.. oohh.. si cantik-cantik itu menelan sperma-sperma lelaki kasar itu. Bahkan mereka juga menjilati yang tercecer pada bagian-bagian tubuhnya. Ah.. aku nggak tahan melihatnya.

Aku malu sama Mbak Sari kalau sampai dia melihati wajahku. Aku cepat-cepat pamit dengan alasan rumah kosong. Dan sepanjang jalan pulang aku masih berpikir.. benarkah ada kemaluan sebesar itu. Dan perempuan-perempuan tadi.. cantik-cantik dengan mulutnya yang terus menjilati penis-penis lelaki kasar-kasar itu. Aku ingat betapa si lelaki menyeringai kenikmatan saat spermanya muncrat-muncrat.. dan iihh.. si wanita dengan rakusnya minum, menelan dan menjilati yang tercecer. Ahh.. Gedenya kemaluan ituu.. Aahh.. tidak! Jangan! Aku berusaha melupa-lupakan apa yang barusan kutonton. Aku tak mau mengingatnya lagi. Tetapi..

Sejak itu, setiap kali aku melihat lelaki, apalagi lelaki yang kasar-kasar macam tukang becak atau kuli, tak terelakkan, aku selalu membayangkan dan bertanya dalam hatiku, apa kemaluan mereka juga gede sebagaimana yang aku lihat di VCD itu!? Dan yang membuat lebih repot lagi, saat Mas Surya menggauli aku selalu datang bayangan kemaluan-kemaluan gede itu. Bahkan akhir-akhir ini aku seakan merasakan hambar saat-saat kemaluan Mas Surya memasuki vaginaku. Rasa kegatalan pada dinding-dinding vaginaku tak juga mau bangkit. Untungnya aku bisa berpura-pura bergairah dan meraih orgasme, hingga Mas Surya tak merasakan ketidak beresanku.

Tetapi aku rasa hal ini tak mungkin berjalan selamanya. Dorongan syahwatku sendiri menuntut agar aku meraih orgasme. Kepalaku akan pusing dan kerjaku tidak bisa konsentrasi setiap gagal orgasme saat bersetubuh bersama Mas Surya. Lama kelamaan hal ini benar-benar menjadi derita bagi aku. Beberapa hari terakhir ini Mas Surya menegorku, kenapa aku nampak kurang segar. Dia perhatikan raut kegembiraan di wajahku nampak jarang terlihat. Dia bertanya apakah aku punya masalah. Dia bahkan beri saran, kalau ada masalah ngomong, dia mungkin bisa membantu. Jangan simpan masalah itu berlarut-larut. Hal itu akan mempengaruhi kesehatanku.

Ah, kasihan Mas Surya. Dia nggak tahu apa yang sedang aku dambakan. Tetapi kata-katanya yang ‘jangan simpan masalah hingga berlarut-larut’ itu telah merangsang timbulnya gagasanku. Tapi entahlah.. Aku kacau dan oleng.

Setiap bulan aku belanja cukup banyak untuk keperluan rumah tangga. Aku belanja di toko agen tidak jauh dari rumah. Dengan blus katun tipis yang adem dan celana jeans ketat kesukaanku aku keluar rumah. Aku senang melihat para lelaki dan juga wanita kagum dan menikmati sensual tubuhku berkat busanaku ini. Saat pergi tanpa bawaan barang aku naik angkot, nanti pulangnya dengan berbagai macam barang belanjaan yang cukup berat aku biasa naik becak. Toko agen itu cukup mengenalku. Mereka melayani aku dengan ramah. Aku juga lihat bagaimana taoke menikmati sensual penampilan tubuhku. Siapa tahu dia sambil mengelusi kemaluannya dari meja kasirnya. Ah.. kenapa pikiranku mudah jorok macam ini sejak menonton VCD di tempat Mbak Sari itu.

Sesudah selesai belanja seperti biasanya anak buah taoke pemilik toko membantu aku memanggil tukang becak dan menaikkan barang-barangku ke becak. Saat aku mau naik sepintas aku ngomong sama abang becaknya kemana tujuanku. Pada saat itulah tiba-tiba aku merasa bergidik merinding. Melihat sosok tubuh yang kekar dan kecoklatan serta bertatapan muka dengan si abang becaknya aku kembali ingat tayangan VCD itu. Wajahnya sangat seksi dengan bibirnya yang tebal itu rasanya siap melahap aku. Matanya nampak liar seakan hendak memandang telanjangnya tubuhku. Aku sepertinya kena sihir, bengong, hingga dia yang menegor,
“Kemana, buu..?!”
Masih dalam bengong aku naik ke becak,
“Kemana, buu..?!,” sekali lagi kudengar pertanyaannya.
“Ah, iyaa.. ke kompleks bang..,” jawabanku terasa tanpa berpikir.

Sepanjang jalan itu aku terus melamun.. Adakah kemaluan si abang becak yang sedang kutumpangi ini juga gede? Duhh.., kenapa pikiranku terus tertuju kepada si abang ini? Sebagaimana biasa, begitu sampai di rumah, karena barang-barangnya cukup banyak dan berat, si abang becaknya membantu untuk menurunkan dan memasukkan barang-barang belanjaanku tersebut ke dalam rumah.
Aku tak bisa mengelak dari keinginanku untuk mengamati sosok si abang becak. Kulihat tubuhnya yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek yang setengah dekil, mengkilat karena keringatnya. Nampak gumpalan daging dan otot-ototnya yang kecoklatan pada lengan-lengan dan paha serta betisnya. Wajahnya nampak kasar oleh tempaan kehidupannya. Walaupun wajah itu tidak tampan, dengan bibirnya yang agak tebal, dia nampak sangat seksi. Lelaki macam inilah yang sering aku bayangkan memiliki kemaluan yang gede. Benarkah?

Dengan sigap dia mengangkat dan memanggul barang-barangku ke dalam rumah. Saat itulah dorongan syahwatku kembali menyergap aku. Alangkah seksinya tubuh si abang ini. Timbul keinginan untuk menahannya lebih lama. Aku bilang, tunggu sebentar bang, sambil aku berpura-mencari dompet yang sengaja tak kutemukan. Aku berpura-pura bingung seperti orang lupa. Sementara menungu kupersilahkan dia duduk di kursi makan dekat dapur. Aku sendiri masuk ke kamar untuk meneruskan pencarian dompetku. Sesaat kudengar dia ngomong,
“Bu, boleh pinjam toiletnya, saya pengin buang air kecil?”
Ah, kebeneran, kata dalam hatiku,
“Silahkan, bang,” aku menyahut dari kamar.

Kemudian aku keluar sementara si abang becak kencing di toilet. Kuperhatikan pintu kamar mandiku. Aku agak blingsatan. Darah syahwatku mengalir deras. Aku pengin banget ngintip saat dia kencing. Ini merupakan kesempatan yang langka dan paling kutunggu. Dan pada saat seperti sangat mungkin. Pintu kamar mandiku yang terbuat dari papan memberikan celah-celah kecil sepanjang sambungannya. Tak mampu untuk menahan diri aku berjingkat mengendap-endap untuk mengintip. Jantungku berdegup keras. Cukup edan bagiku yang istri insinyur untuk bisa berbuat macam ini. Tetapi..

Darahku langsung syuurr.. saat bisa mengintipnya. Nampak si abang sedang memegangi kemaluannya. Loh, ngapain dia..? Kulihat kemaluannya tegang dengan tangannya yang menguruti sambil wajahnya sesekali menyeringai menatap ke langit-langit. Aku menjadi lebih penasaran lagi. Inikah yang disebut onani. Jadi si abang becak ini sedang onani di kamar mandiku? Darahku langsung tersirap naik ke permukaan wajahku. Kudengar pukulan jantung pada dadaku. Aku sepertinya disergap kobaran birahi. Buah dadaku terasa mengeras dan didesak-desak rasa gatal.

Secara otomatis tanganku menjamah dan meremas-remas buah dadaku kemudian memelintir puting susunya. Kuraih kenikmatan tak terhingga. Pandangan ke kemaluan si abang yang sedang ngaceng onani dan remasan buah dadaku membuahkan nikmat syahwat yang tak terhingga. Nafasku memburu.
Kudengar si abang mendesah pelan, pasti karena khawatir aku mendengarnya. Aku baru tahu sekarang, inilah cara lelaki melakukan onani. Aku kembali bertanya, kenapa dia lakukan disini? Di rumahku, saat dia melakukan tugasnya selaku penarik becak? Haa.. mungkinkah birahinya timbul karena dia menyaksikan tampilan seksualku. Bukankah dia cukup kesempatan selama mengantar barang-barang dan menunggu aku mencari dompet untuk mengamati aku. Sangat mungkin.

Kocokkan tangannya yang membuat otot kemaluannya semakin mengencang. Dan lihat.. Duuhh.. sungguh perkasa. Aku taksir kira-kira panjangnya 2 kali genggaman tangannya. Itu nampak saat dia menarik ke belakang dan melepas ke depan genggamannya. Dan bulatan batangnya, sepertinya dia sedang menggenggam pisang tanduk. Aku sangat terpesona. Aku tak mau mengedipkan mataku. Aku sedang benar-benar meyaksikan sensasi. Kulihat kembali wajahnya yang menyeringai menahan nikmat tengadah ke langit-langit kamar mandiku. Sementara tangannya yang terus mengocok ritmis dengan tempo yang semakin cepat.

Dan kusaksikan kini detik-detik seorang pria meregang karena orgasmenya. Dengan sedikt teriakkan kecil, dia meregangkan tubuhnya hingga seperti busur yang melengkung ke belakang. Sementara penisnya yang begitu tegak dan tegar lurus ke arah depan menampakkan kepalanya yang bulat licin berkilatan karena menahan tekanan darah dari dalam. Dan aku sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba kusaksikan puncratan pertamanya. Spermanya muncrat seperti peluru yang di tembakkan kearah dinding kamar mandiku. penis itu mengangguk setiap memuncratkan cairan kental dan pekatnya. Kusaksikan ada sekitar 7 kali penis itu mengangguk dan memuncratkan spermanya. Ternyata begitu banyak kandungan sperma abang ini.

Sesudahnya nampak si abang dengan lunglai bersandar kedinding untuk istirahat sejenak. Mungkin energinya tersedot habis. Aku bergegas bangkit dan kembali ke kamarku sebelum dia memergoki aku.
Saat aku keluar dia masih juga di kamar mandi. Kesempatanku untuk membuatkan dia teh panas manis. Sikapku wajar-wajar saja saat dia muncul dari pintu kamar mandiku.
“Ayo, Bang, minum dulu..,” kutawarkan minumannya dan kuberikan upah becaknya. Kuperhatikan sepintas, dia sepertinya seseorang yang telah berlega karena telah melepas bebannya. Dan aku juga berpikir pasti dia melakukan onani sambil membayangkan nikmatnya menyetubuhi aku. Aku kembali terbakar syahwatku.

Berhari-hari berikutnya peristiwa itu selalu lekat dalam pikiran dan hatiku. Sering timbul rasa sesalku, kenapa tak kutahan saja dia untuk kemudian kuajak ke ranjangku. Aku membayangkan bagaimana buasnya dia melahap diriku. Aku sangat mendambakan bagaimana rasanya saat penisnya menembus kemaluanku. Tentu G-spotku akan menjemputnya dengan penuh kegatalan yang amat sangat. Tentu aku akan meraih orgasme beruntun dari si abang ini. Yang aku sesalkan juga, aku tidak menanyakan namanya. Aku pastikan pada setiap kali belanja aku akan mencari dia untuk membantuku nanti.

Sebenarnya sih, saat ini belum tanggalnya aku belanja. Baru seminggu yang lalu aku ke toko agen. Tetapi ah.. mungkin aku sudah nggak bener lagi nih. Aku pengin banget ketemu itu si abang becak itu. Aku bener-bener kesengsem dengan kemaluannya. Aku nggak lagi berpikir pantas atau tidaknya orang ayu macam aku, terpelajar dengan suaminya yang insinyur kok merindukan tukang becak. Apakah syahwat itu memang demikian hebat kekuatannya hingga bisa merubah cara pandangku mengenai kenikmatan syahwat. Aku sudah ditelan sikap masa bodoh. Aku tak merasa wajib untuk lagi menempatkan yang namanya martabat atau harga diri dalam kaitan syahwat ini. Lihat saja tontonan VCD itu. Bukankah mereka cantiknya luar biasa. Dan juga nampak terpelajar dan bermartabat.

Mereka melakukan kesenangan seksualnya di tempat-tempat yang amat mewah, di atas mobil mewah, di dalam apartemen yang mewah, bahkan di atas kapal-kapal pribadi yang mewah juga. Dan lihat pasangan prianya, disamping yang juga nampak terpelajar ada juga yang bertampang pekerja kasar. Bukankah “contrastistic’ itu juga menjadi salah satu konsep mengenai indah atau keindahan. Terus terang aku memang mencoba mencari pembenaran atas sikap dan tingkah lakuku ini. Dan akhirnya aku berangkat juga pergi belanja yang ke 2 untuk bulan ini.

Aku nggak tahu mesti beli apa. Semua kebutuhan bulananku sudah kudapatkan mingu lalu. Akhirnya aku beli saja lagi beberapa barang yang bisa disimpan lama, sabun, shampoo, pasta gigi atau obat nyamuk. AKu nggak sempat memperhatikan taoke yang selalu menikmati kehadiranku di tokonya. Aku ingin cepat selesai dan pulang. Aku ingin secepatnya menemui si abang becak itu.

Di jalanan tempat pangkalan becak aku tak langsung bisa menjumpai abang becakku. Aku tak berani tanya ke mereka untuk menghindarkan kecurigaan. Ah, itu dia.. baang.., dari kejauhan aku melambaikan tanganku. Dia tahu. Dan tanpa ba bi Bu aku langsung naik saat becaknya mendekat. Woo.. aku sedikit terlupa.
Bukankah belanjaanku kali ini amat sedikit untuk dia bantu memasukkan ke rumah nanti. Ah, sudahlah, bagaimana nanti saja..

Sesampai di rumah aku bilang, “Masuk dulu, Bang, aku ambil uang dulu.”
Aku berlagak seakan uangku kurang dan perlu ambil dari rumah.
“Ayoo, masuk,” ajakku lagi setelah kulihat dia agak ragu karena nggak ada barangku yang mesti dia panggul. Ahhirnya kembali dia kuajak untuk duduk di kursi makan dekat dapur. Kini aku berpikir bagaimana memulai segalanya yang selama 7 hari terakhir ini sangat kudambakan.
“Bang, siapa namanya? Minum dulu ya? Nggak buru-buru khan?,” aku berusaha beramah-ramah dan membuatkan minuman tanpa menunggu jawabannya. Aku ingin dia tinggal lebih lama. Aku berusaha mengulur-ulur waktunya.

“Nama saya Darius, Bu. O, ya, boleh saya ke toilet ya, Bu?,
“Silahkan.”
Nah, rupanya dia kebelet juga. Pasti ingin mengulang kembali onani di kamar mandiku. Tentu hal yang sangat membuat aku gembira. Syahwatku langsung syurr.. naik. Kupercepat adukan teh manisnya. Aku pengin cepat mengintip lagi.

Dan aku mendapatkan pemandangan indahku kembali. Dia benar-benar melakukannya lagi. Yang aneh, kali ini dia justru menghadap ke pintu dengan ujung kemaluannya tepat di belahan papan pintu. Aku jadi curiga. Adakah dia tahu aku mengintip?! Dan sekarang ini dengan sengaja dan berani menghadapkan kemaluannya langsung ke celah pintu yang seakan menantang aku. Duh, lihatlah.., demikian dekat ke celah ini. Oohh.. Bang Dariuuss.. gede bener sih penismuu..

Tangannya mengurut-urut dengan indahnya. Desah-desahnya mulai kedengaran seiring nafasku yang memburu. penis itu seakan nempel di wajahku. Rasanya aku bisa menangkap baunya. Bau penis lelaki sebagaimana bau kemaluan suamiku juga. Hanya yang ini demikian lebih jauh merangsang birahiku. Tanganku kembali meremasi buah dadaku. Adegan ini edan dan sekaligus lucu. Aku jadi membayangkan seandainya ada sutradara VCD komedi porno.

Sambil terus meremasi susuku kunikmati benar pemandangan ini. penis itu semakin membesar dan mengkilat. Nampak urat-uratnya melingkar-lingkar kasar di sepanjang batangnya. Kemudian aku menyaksikan cairan birahinya mulai membasahi ujungnya. Pada lubang kencingnya nampak ada titik bening yang kemudian meleleh. Bang Darius mengocok semakin cepat. Cepat, cepat..

Akhirnya kusaksikan kembali spermanya muncrat. Kali ini tepat menembaki celah-celah sambungan papan pintu ini. Walaupun tidak terlempar keluar pintu, sperma itu nampak bening kental mengalir turun di celah itu. Aku cepat bangkit menghindar agar tidak kepergok. Dengan setengah lari kecil aku menuju ke dapur, mengambil cangkir tehnya. Kusajikan tepat saat dia muncul di pintu. Aku senyum yang dia juga balas dengan senyum dari mukanya yang ber-rona kemerahan. Dia nampak kembali meraih kelegaan dari beban syahwatnya yang tersalur.

Kali ini aku sudah bertekad untuk mengulur waktu agak dia bisa tertahan lebih lama sambil mencari peluang untuk kemungkinan lebih jauh. Aku ajak ngobrol. Dengan penuh maklum karena pendidikannya yang rendah, demikian perkiraanku, aku lemparkan dialog yang gampang-gampang saja. Di mana tinggalnya, istrinya, berapa anaknya, sudah berapa lama narik becak dan sebagainya. Dia nampak sangat santun, atau malu barangkali, omongannya secukupnya saja. Tetapi ada satu hal yang kulihat dari matanya. Dia nampak sangat menikmati kehadirannya dekat dengan aku ini. Matanya itu sering mencuri pandang pada tubuhku. Kusaksikan beberapa kali dia begitu melotot melihat belahan dadaku. Kemudian ketiakku, yang memang saat itu aku sedang memakai blus “u can see.” Aku yakin dia pengin banget melahapku.

Hal ini mendorongku untuk beraksi lebih banyak. Terkadang sambil ngomong aku menunjuk sesuatu sehingga lengan dan ketiakku menjadi lebih terbuka. Atau aku berdiri, berjalan atau merunduk atau membelakang. Aku sepertinya benar-benar peragawati yang ingin menampillkan bagian-bagian tubuhku yang sensual ini. Sesudah sekian lama ngobrol sana-sini, tak juga kudapatkan perkembangan yang berarti pada pertemuan ini. Yang kulihat hanyalah wajah bengong si abang. Mungkin karena onaninya tadi membuat birahinya tak lagi begitu menyala. Aku mesti rela untuk menunda bayangan nikmat syahwatku. Bang Darius pulang sesudah menerima upahnya. Sebagai pelarian hari itu aku mendapatkan kepuasan dengan masturbasi. Dari lemari es kukeluarkan simpanan ketimun besar dan panjang. Kira-kira sebanding dengan kemaluan Bang Darius. Kurendam ke air hangat agar menjadi hangat. Aku masturbasi dengan ketimun itu sambil membayangkan penis Bang Darius menembusi memekku. Ah. nikmatnya.. Orgasmeku kudapatkan beruntun-runtun.

Tiga hari kemudian aku kembali dilanda sepi dan rindu pada Bang Darius. Aku mesti kembali belanja ke toko agen itu. Aku sudah menyiapkan apa yang mesti kubeli. Apapun, pulangnya aku harus diantar Bang Darius. Kali ini aku ingin bisa meraih lebih banyak dari sebelumnya. Aku mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan agar hal itu bisa terwujud. Mungkin kuncinya berada di aku. Aku harus lebih berani. Yang kuhadapi adalah orang dari klas sosial yang berbeda. Kalau Bang Darius merasa rendah diri di depanku itu adalah wajar. Aku yang seharusnya memulai. Aku harus agresif. Benarkah itu?! Bisakah aku?

Encik istri taoke pemilik toko heran aku memborong belanjaan lagi. Ah, masa bodoh, itu urusanku. Aku bilang kalau saudaraku minta dibeliin ini itu di tokonya karena harganya miring. Encik senang mendengarnya. Saat pulang Bang Darus sudah menunggu dengan becaknya. Itu memang sengaja aku atur. Aku nggak mau terjadi saat selesai belanja, dia sedang pergi karena mengantar orang lain. Dia angkati barang-barangku dan menyusul aku naik ke becaknya. Kali ini kami telah akrab. Sepanjang jalanan kami banyak ngobrol.

Sesampai di rumah, tanpa aku minta lagi dia langsung menurunkan dan memanggul barang-barang untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Dan tanpa kusuruh lagi dia menunggu aku duduk di kursi makan itu. Tanpa memberikan tawaran, aku juga langsung membuatkan teh manis untuknya. Bahkan aku juga menyediakan makanan kecil. Aku akan tahan dia lebih lama lagi. Kali ini dia tidak minta ijin ke toilet. Barangkali dia malu setiap ke rumahku kok selalu ke toilet.

Kami kembali ngobrol. Hari ini sengaja aku memakai busana yang lebih “hot.” Blusku lebih banyak memperlihatkan belahan dada dan ketiakku. Aku pakai jeansku yang hanya sampai ke lututku, sehingga disamping menampilkan pantatku yang seksi betisku yang ranum mulus nampak sangat menggoda. Aku sudah bertekad untuk lebih agresif padanya. Aku akan lebih banyak bergerak untuk memperlihatkan bagian-bagian sensual tubuhku. Aku sudah siapkan cara kuno. Aku akan pura-pura kepleset dan minta Bang Darus menolong aku. Kakiku akan kesleo dan dia akan memberikan urutan. Tentu saja di atas ranjangku. Aku akan mengaduh atau merintih kesakitan dengan irama dan nada yang erotis banget. Aku benar-benar siap membuat jebakan untuknya. Dan kini harus kumulai. Aku masuk ke kamarku dengan penuh tekad..

Dan sesaat kemudian.. brukk.. aku menjatuhkan diriku ke lantai,
“Aduuhh.. Bang.. tolongiinn..,” aku berteriak minta tolong.
Kudengar suara kursi yang ditarik berderit dan dengan langkah terburu Bang Darius telah muncul di pintu yang kemudian dengan cepat jongkok meraih aku. Aku berteriak kesakitan, seakan tidak mampu berdiri. Dia raih punggungku pelan kemudian pahaku. Dia angkat aku untuk direbahkan ke ranjang.
“Kenapa, Bu?,” tanyanya nampak panik.
Aku tidak menjawab kecuali aku terus merintih setengah menangis sambil memegangi sendi kakiku untuk menunjukkan bahwa kakiku kesleo. Aku lihat dia mau membantu mengurut tetapi ragu. Dia khawatir dianggap kurang ajar.
“Adduuhh.. tolongi aku Bang, sakiitt..,” baru sesudah rintihanku itu dia berani memeriksa kakiku.
“Kesleo, ya, bu?!” kemudian membantu menguruti kakiku.
Duuhh.. nikmatnyaa.. Sepintas hidungku menangkap aroma tubuhnya. Tubuh dari lelaki yang gempal, penuh keringat dan sangat seksi ini menebarkan bau kejantanannya. Tangan-tangannya yang kurasakan sangat keras dan kasar itu terus mengurut pelan sendi kakiku. Dan hasilnya adalah darah syahwatku yang melonjak panas. Sampai disini skenarioku berjalan mulus.

Aku sudah memasuki tahap tak akan mundur lagi dalam memenuhi nafsu libidoku. Aku harus teruskan permainan sandiwara ini. Dengan setengah menutup mata sambil memegangi betis aku terus menangis dan mengaduh-aduh, atau lebih tepatnya mendesah-desah sambil berguling menggeliat-geliat di kasur. Kadang tengkurap, setengah tengkurap atau telentang. Aku yakin suguhan pemandangan ini akan langsung menggoda saraf birahi Bang Darius.

Kurasakan urutan tangannya tersendat. Diperlukan minyak untuk pelicin. Dari meja rias di sebelah ranjangku kuraih ‘baby oil’ yang sering kupakai untuk membersihkan lubang kuping.
“Pakai ini Bang..,” kusodorkan padanya agar urutannya lancar sambil terus mengeluarkan rintihan yang membuat iba pendengarnya. Walaupun nampak sangat bingung, rupanya soal urut mengurut tidak terlampau susah bagi Bang Darius ini. Mungkin di rumahnya dia juga sering mengurut anak atau istrinya. Dengan minyak yang kusodorkan dia mengurut lebih nikmat.

“Yaa, enak, baang.. teruss,” rintihku yang sengaja kuperdengarkan dengan nuansa kemanjaan dan sangat erotis. Aku tahu pasti, mendengar rintihanku ini Bang Darius akan sesak nafas menahan syahwatnya. Dan itu kurasakan ketika urutan tangannya mulai melebar dan naik ke arah betisku. “Biar cepat baik, Bu,” kudengar bicaranya bergetar.
“Iya, Bang, enakan disituu..,” aku terus mendorongnya sambil mengeluarkan jurus menggeliat-geliatkan pinggul dan pantatku serta menaburkan erangan dan rintihan erotisku secara berkepanjangan.

Dan aku mulai merasakan hasilnya. Tangan Bang Darius merambah lebih lebar lagi. Dia sudah meraih lututku. Aku sendiri semakin terbakar oleh birahiku.
“Ah.. Bang Darius.. yaa.. enaakk.. teruss.. baang.. Enaakk..’.
Dengan tetap setengah menutup mata aku meliuk menambah gelombang geliatan pada pinggul dan pantatku. Aku rasa Bang Darius sudah tak lagi konsentrasi untuk menyembuhkan aku. Aku merasakan pijatannya sudah berubah menjadi remasan-remasan. Aku pastikan bahwa Bang Darius sudah masuk jeratku saat tangannya mulai menjamah pahaku dan kemudian naik hingga pangkal pahaku. Dan akhirnya..

“Buu.., Bu Ayuu.. Ayyuu..,” tiba-tiba kudengar suranya yang semakin bergetar memanggil manggil namaku. Ah, dari mana dia tahu namaku. Aku tidak menjawab kecuali meneruskan rintihanku.
Dan memang Bang Darius tidak menunggu jawabanku. Dia langsung rebah keranjang menindih tubuhku, kemudian dengan tangannya langsung menjemput pinggulku, meraih dan memeluki aku dengan kedua tangan kasarnya. Didekapkannya tubuhku ke tubuhnya. Kurasakan gumpalan dadanya melekat di dadaku. Tak ayal lagi aku langsung sambut pelukannya. Kuraih bahunya yang gempal itu.
“Baanng..,” dengan tak tertahankan aku menjemput bibirnya untuk aku pagut dan lumati. Uuhh.. akhirnya kudapatkan bibir dan lidah yang kasar ini.

Seperti singa liar, Bang Darius menyambut lumatan hausku dengan buas. Bibirnya menyedot bibirku. Tangannya yang penuh otot itu langsung turun kebawah untuk menjamah dan meremas-remasi vagina di balik jeans-ku. Saat bibirnya kulepaskan dia meliar ke leherku. Dia sedoti kulit leherku. Jangan .., nanti keluar cupang. Tetapi nikmat yang kurasakan membuat aku tak mampu mengelak dan Bang Darius tak lagi mendengarku. Yang dia dengar kini hanyalah syahwat hewaniahnya yang buas itu. Dari leher dia turun ke dadaku. Dia renggut blusku dengan kasar hingga kancing-kancingnya putus lepas. Dia tenggelamkan wajahnya ke belahan dadaku. Dia menciumi buah dadaku dan menyedoti puting-puting susuku. Aduuhh, luar biasa nikmat yang kutanggung ini.. Aku langsung terlempar ke awing-awang dan tak lagi menyadari bahwa aku masih istri Mas Surya itu. Rasanya aku terbawa gelombang tsunami yang menghempas-hempaskan sanubariku di karang-karang terjal pantai kenikmatan. Aku remuk redam dalam nikmatnya syahwat. Ayoo, baang.. teruss.. jamah seluruh tubuhkuu bang.. teruus..

Sambil terus melumat susuku, dengan tak sabarnya dia lepasi celana jeans sekaligus celana dalamku. Dan dia lepasi pula celananya sendiri. Kulihat sepintas penisnya yang super itu langsung lepas terayun-ayun. Aku menggigil membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku.
Mungkin seorang macam Bang Darius ini tak lagi perlu ‘foreplay’ yang romantis. Begitu aku bugil dia langsung terkam aku. Dia kuak pahaku dan tubuhnya masuk di antaranya. Kemaluannya yang mengayun-ayun itu di pegangnya dan langsung di arahkan untuk menembusi vaginaku. Ternyata aku merasakan nikmat atas kekasarannya itu. Sambil dia tekan kemaluannya ke vaginaku kembali bibirnya menjarah buah dadaku dan menggigit-gigit pentil-pentil susunya. Duh, nikmat tak tertanggungkan. Aku menggelinjang dan merintih penuh manja. Darah birahiku memang telah menyala berkobar-kobar.

Bagiku ‘foreplay’ku sudah berlangsung berhari-hari sebelumnya. Kini yang aku dambakan memang selekasnya kemaluan Darius yang super itu masuk meretas dinding-dinding vaginaku yang sudah telah lebih 3 minggu menunggunya. Sepertinya aku dilanda kehausan yang amat sangat. Aku kuak sendiri lebih lebar pahaku untuk memberi kesempatan kemaluan Darius cepat menemukan dan menembus gerbang vaginaku.

Dan..,
“Ooohh, Baanng.. Aku rindu Abaang.. Aku rindu kamu bang.. Aku rinduu..
Kemaluan itu bergocek menggelitik bibir-bibir vaginaku. Kepala penisnya yang bulat besar itu tidak mudah menembus gerbang vaginaku yang sempit. Kulihat dengan tak sabarnya Bang Darius meludahi tangannya untuk mengusapkan pelicin pada bibir vaginaku. Dan setelah beberapa kali saling tekan dan dorong, penis Bang Darius itu berhasil.. blezz.. merambah bibir vaginaku, tembus untuk langsung dijepit dinding-dinding vaginaku. Daging besar yang hangat milik Bang Darius telah masuk ke perangkapnya. Dinding vaginaku mencengkeram untuk tak melepaskannya. Aku merasakan vaginaku mengempot-empot seperti hendak menghisap habis darahnya. Sensasi nikmat yang luar biasa telah melandaku.

Duhh.. surga duniaa.. Rasanya aku ingin pingsan untuk mengabadikan kenikmatan tak bertara ini. penis Darius terus melesak menyodok gerbang rahimku. Aku menjerit kecil. Dia menekan sedikit lebih menyodok lagi. Aku kembali menjerit .

Pada tarikan pertamanya kurasakan seakan batang panasnya itu meninggalkan sejuta rama-rama yang menebari saraf-saraf peka pada dinding vaginaku. Kegatalan pada seluruh permukaan dinding membuat cengkeraman vaginaku akan terasa sangat legit pada batang kemaluan Bang Darius. Dia melenguh hebat sambil menggigit leherku. Aku kembali menjerit sekaligus menggeliat dan goyangkan pantatku yang enggan..

Itulah pola awal yang seterusnya menjadi gerakan ritmis pompaan kemaluan Bang Darius pada vaginaku. Saat Bang Darius menusuk, vaginaku menjemput dan melahap lebih dalam. Saat Bang Darius menarik, vaginaku mencengkeram seakan menahannya. Gerakan ritmis itu berulang ratusan kali sambil bibir-bibir kami terus menerus saling sedot atau gigit.

Dan kini aku mulai merasakan seluruh saraf-sarafku mulai merangkak menapaki jalan menuju puncak-puncak kenikmatan syahwat. Keringatku yang mulai mengucur deras membuat Bang Darius semakin gencar melangsungkan pompaannya. Desahan dan rintihan nikmatku memacu Bang Darius untuk terus melahapi puting susuku, leherku, ketiakku, buah dadaku. Aku sudah membayangkan ciuman-ciuman buas Bang Darius ini akan meninggalkan cupang-cupang yang bertebaran di tubuhku. Bagaimana aku mesti berhadapan dengan Mas Surya, soal nanti sajalah..

Penis Bang Darius yang keluar masuk semakin liat dan legit kurasakan dalam cengkeraman vaginaku. Dan kini aku benar-benar berada di ambang puncak itu.
“Ampuunn.. Baanng.., ampuunn.. Baanng.., teruus Bang.. aku nggak tahaann..”
Bang Darius tahu apa yang akan kudapatkan. Dia terkam, jilat dan sedoti ketiakku dengan lebih ganas. Rupanya dia betul-betul bernafsu dengan ketiakku ini.

Dan akibatnya rasa yang kualami sungguh luar biasa. Rasa macam itu tak pernah kuraih saat aku tidur dengan suamiku, Mas Surya. Rasa yang luar biasa itu adalah datangnya orgasmeku secara merambat dalam mendekati klimaksnya. Sepertinya nikmat merambat menjalari setiap urat-urat bagian tubuhku. Rambatan nikmat itu mengarah menuju ke titik pusat yaitu wilayah vaginaku. Kondisi itu membuat aku secara refleks bergelinjangan dan meliuk-liukkan tubuhku bak ulat sutra yang bergelut. Tentu saja hal itu semakin membuat syahwat Bang Darius menggelora. Dengan sepenuh energinya dia terus menimba kenikmatan dari gelinjang dan liuk tubuhku.

Dan ketika akhirnya orgasmeku datang, Bang Darius tak mampu menahan emosiku. Cakar-cakarku langsung menancapkan kukunya ke punggungnya hingga meninggalkan goresan luka. Orgasmeku yang datang itu menerjang kesadaranku. Aku sepertinya tercekik dengan nafasku yang tersengal-sengal terlanda nikmat yang amat sangat. Hal itu berlangsung berdetik-detik, secara beruntun. Sampai-sampai aku seperti orang kesurupan menghentak-hentakkan kepalaku ke bantal. Rambutku terlempar-lempar awut-awutan.

Sementara itu, ternyata orgasme Bang Darius juga datang menyusul. Oleh karenanya dia sama sekali tidak mengendorkan pompaannya. Semakin tajam, semakin kuat dan cepat penisnya terus merangsek ke dalam vaginaku.. hingga meledaklah cairan panas yang menyemprot dan meluberi vaginaku. Seperti kuda jantan yang membuahi betinanya dia menggeliat dan mendongakkan kepalanya sambil mengeluarkan teriakan histeris. Berliter-liter spermanya tumpah hingga membuat vaginaku kuyup dalam cairan lendir kental itu.

Klimaks yang datang bersama-sama itu benar-benar menguras seluruh tenaga kami. Pada saat segalanya usai kami langsung rubuh bersama. Tubuh-tubuh telanjang kami terkapar melintang di ranjang. Yang kemudian terdengar hanyalah nafas-nafas panjang dari aku maupun Bang Darius. Kami sangat kelelahan. Aku langsung diserang rasa ngantuk yang luar biasa. Aku masih merasakan ciuman-ciuman terakhir Bang Darius sesaat setelah klimaks bersama tadi. Sesudah itu aku tertidur tanpa ingat apa-apa lagi. Sesaat aku terbangun meraba Bang Darius di sebelahku. Ternyata dia sudah bangun lebih dahulu. Rupanya dia langsung pulang tanpa membangunkan aku yang demikian pulas tertidur.

Jangan tanya keadaan ranjangku. Sesudah semuanya selesai baru kusadari betapa pertarungan kami itu benar-benar memporak porandakan ranjangku. Seprei tempat tidurku telah terbongkar. Bantal dan gulingku terlempar ke lantai. Pakaian kami terlempar entah kemana.

Aku cepat bangun dan mandi. Kubersihkan kemaluanku dari lumuran sperma Bang Darius. Kemudian kurapikan kembali kamarku. Aku ganti seprei dan sarung bantalnya. Aku pastikan tak ada lagi jejak-jejak yang akan mengundang kecurigaan suamiku. Untuk menutupi cupang-cupang di dadaku aku cukup pakai baju yang rapat. Yang membuat aku agak panik adalah cupang di leher. Akhirnya aku putuskan untuk berpura-pura terserang batuk sehingga aku selalu menggunakan selendang penutup leher. Ternyata cupang-cupang itu baru hilang sesudah 4 hari.

Beberapa hari sesudah peristiwa itu, aku banyak melamun. Aku membayangkan kembali nikmat luar biasa yang kudapatkan dari Bang Darius. Rasa sesak vaginaku saat mencengkeram kemaluannya sungguh tak bisa kulupakan. Rasa legit saat cairan birahiku mulai membasah untuk mengiringi pompaan kemaluan Bang Darius benar-benar tak pernah kuraih dari Mas Surya.

Sejak hari itu aku tak pernah jumpa lagi dengan Bang Darius. Menurut temannya dia telah pulang ke kampung. Dia menggarap sawah warisan orang tuanya. Aku sedikit menyesal karena pada hari itu aku nggak sempat membayar upahnya.

Terus terang aku akui, berbulan-bulan sesudahnya aku dilanda rasa sepi. Kepuasan seksual semakin sulit kudapatkan dari suamiku. Tentu saja aku tidak mungkin terjun menjadi perempuan haus seks yang bisa kuraih dengan mudah karena kecantikan dan sensual yang kumiliki. Aku ingat pada kata-kata seorang teman, bahwa kepuasan seksual tak akan habis-habisnya kecuali seseorang telah memahami makna dari kepuasan itu.

Kini aku mencoba belajar memahami kata-kata itu. Dan rupanya Mas Surya sangat peduli padaku. Dia memiliki kepekaan dan bisa membaca bahwa aku sedang bermasalah. Pada saat dia mendapatkan cuti dari kantornya yang selama 1 bulan perusahaannya juga memberikan bonus berupa pilihan tamasya ke kota-kota dunia. Mau ke New York, Paris, Tokyo atau kota dan negeri lain. Sesudah mempelajari tempat-tempat tujuan dari berbagai brosur yang kami dapatkan dari agen perjalanan akhirnya kami memilih tamasya safari ke Serengeti, taman nasional di Afrika. Tempat itu sangat eksklusive.

Mungkin tidak menarik bagi turis populer. Kami menikmati pemandangan alam yang sungguh fantastis saat matahari terbit maupun tenggelam. Kami langsung menyaksikan kehidupan binatang liar banteng, singa, jerapah, cheetah dan sebagainya di alamnya yang sejati. Selama lebih dari 20 hari kami tidur di pondok-pondok pedalaman Afrika itu. Kami makan makanan asli setempat yang tentunya sudah diolah dengan standar makanan yang baik, karena pondok itu dikelola oleh jaringan hotel internasional. Kami tidak menonton TV dan tidak berhubungan telepon dengan dunia luar untuk lebih mendapatkan dan menghayati suasana yang benar-benar alami selama kami tinggal.

Dan yang hebat, aku dan Mas Surya merasakan sebagai bulan madu kami yang kedua. Aku bisa meraih kembali kegembiraanku sebagaimana kegembiraan sebelum menonton VCD di tempat Mbak Sari itu. Kini kusadari betapa Mas Surya telah sepenuhnya menunjukkan kemampuannya sebagai lelaki sejati. Berkali-kali aku berhasil meraih orgasme pada setiap hubungan seksual bersamanya. Saat pulang aku sepertinya lahir kembali ke dunia. Mampu memandang hari depan yang penuh cerah dan kegembiraan. Jauh dari sekedar mengejar kepuasan dunia.

Takut Hamil

Kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu ketika aku masih kuliah di suatu perguruan tinggi di kota BS. Saat itu, aku punya satu teman yang cukup dekat, Dian namanya. Dia gadis Solo tulen, yang kalem, sangat lemah lembut, baik dalam berbicara, berjalan, dan sebagainya. Pokoknya, cKejadian ini terjadi beberapa tahun lalu ketika aku masih kuliah di suatu perguruan tinggi di kota BS. Saat itu, aku punya satu teman yang cukup dekat, Dian namanya. Dia gadis Solo tulen, yang kalem, sangat lemah lembut, baik dalam berbicara, berjalan, dan sebagainya. Pokoknya, cewek Solo seperti yang sering dideskripsikan orang ada padanya.

Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggangnya, kulitnya putih persih, tinggi sekitar 165 cm, dan berat badan yang tergolong kurus, mungkin hanya 40 kg atau malah kurang. Hanya satu yang kurang dari dirinya, yaitu payudaranya tidak menonjol seperti gadis lain di usianya. Karena ada salah satu teman dari kami yang memiliki payudara sangat menonjol, mungkin ada pada ukuran 36 atau malah 38. Gadis itu bernama Mia. Tapi cerita ini tidak berkisah tentang Mia.

Sebenarnya tidak ada hubungan yang cukup relevan antara diriku dan Dian. Hanya dalam beberapa kali, secara tidak sengaja aku bersama dia dalam satu kereta menuju kota Solo. Akhirnya hal tersebut membuat kami menjadi lebih akrab. Kemudian kami juga punya satu kelompok informal, yang sering bertemu sekedar berhura-hura atau ‘cangkruk’ istilahnya. Kami saat itu masih semester 5, belum KKN, dan masih banyak terlibat kuliah-kuliah teori dan banyak berkutat pada tugas-tugas membuat makalah.

Aku mendengar bahwa Dian baru saja putus dengan pacarnya, yaitu salah seorang dari kelompok kami juga. Cerita pastinya tidak kuketahui. Iseng, suatu sore aku datang ke kostnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakanku. Dian menerimaku di teras rumah dengan menggunakan celana pendek santai dan kaos oblong. No problem, karena aku temannya, dan sudah beberapa kali ke situ.

Aku bertanya kenapa Dian putus, dan apakah pacarnya tersebut yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Ternyata, hanya karena pertimbangan dari kakaknya, Dian rela berpisah karena alasan masih kuliah dan belum berpikir tentang hubungan yang serius dengan lawan jenis. Lucu. Saat duduk berdampingan itu, aku melirik ke kakinya yang jenjang, dan banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Wah, kecamatannya aja kayak gini ya..,” kataku sambil mengusap dengkulnya, “Apalagi kalo ibukotanya..?”
Dian hanya meringis tertawa, dan tidak menjawab. Sore itu tidak ada hal yang menarik yang dapat diceritakan.

Keesokannya, setelah selesai kuliah, kira-kira jam 2 siang, hari sangat mendung. Aku bergegas pulang, karena memang tidak ada rencana pergi atau ngelayap, serta masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Makanya aku pulang saja ke rumah kontrakanku. Sesampainya di sana, aku melihat ada motor bebek hitam diparkir di halaman, sedangkankan pintu garasinya terbuka.
Ada tamu, pikirku.
Ternyata tamu tersebut Dian, yang sebenarnya tadi ketemu di ruang kuliah.

“Tumben ke sini, ada apa Di..?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Nggak boleh aku main ke sini?” balasnya.
“Emang mau main apa..?” aku berusaha bercanda sambil mendorong motornya masuk garasi.
Aku kemudian mengajaknya masuk rumah.
“Sepi amat tempatmu Ko..?” tanya Dian seraya memperhatikan isi ruang tamuku yang memang sangat lengang.

Selain hanya berdua bersama seorang teman yang sedang mengambil kuliah Doktoralnya, ruang tamu itu berisi seperangkat kursi tamu dan beberapa lukisan. Selebihnya kosong.

Kemudian kami bercerita panjang lebar, mulai tentang materi kuliah, sampai mungkin siapa ketua RT di Timtim pun kami bahas. Sekitar setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras, hingga rumah tetangga depan pun sulit terlihat.

“Wah, aku susah pulangnya nih..!” kata Dian sambil berdiri di depan kaca.
“Ya udah, ditunggu saja, nanti kalo airnya habis hujannya berhenti juga.” jawabku.
Lalu aku memasak air untuk membuat teh hangat. Setelah itu, obrolan berlanjut lagi. Nah, pada saat aku menyiapkan teh di meja makan, Dian menyusul. Tidak ada yang menarik untuk aku berpikir jorok terhadapnya.

Pada saat berdampingan itu, aku bertanya kepada Dian, “Di, kamu waktu pacaran sama Ari udah pernah dicium, belum..?”
“Boro-boro disun, dibelai aja belum, ehh bubar.” katanya sambil terus mengaduk teh.
“Kamu mau tahu rasanya dicium..?” pancingku.
Dian hanya memandangku, tapi dengan sorot yang lain. Antara takut, malu, atau entah.. mungkin ingin juga.

Aku lalu memegang kedua tanganya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Dian diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Dian tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Dian membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.

“Di, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Dian kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Dian. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan kemeja yang dikenakan Dian, dan supaya tidak ada protes dari Dian, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Dian mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Dian, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil.

Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang tipis itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Dian terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Dian lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, setengah baju Dian terbuka. Nampak payudaranya sangat putih, namun tidak besar. Aku bahkan dapat memasukkan seluruh payudaranyanya dalam mulutku. Dian hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Dian hanya mampu menggigit-gigit bibirnya.

Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Dian yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Dian akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Dian hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Dian, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Dian. Untung besar pikirku. Besok-besok belum tentu ada kesempatan seperti ini. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Dian, kulot hitam yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Dian yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Dian sudah tidak mampu lagi berkata-kata.Kurasakan gundukan daging di selangkangan Dian lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita. Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Benar pikirku selama ini, rambut kemaluannya sangat lebat. Hanya saja cukup halus dan, terutama, wangi. Ah, rajin juga Dian merawat selangkangnya.

Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Dian semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Dian menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

“Di, mau yang lebih dari ini..?” tanyanku di sela-sela kesibukan menjilati kemaluan Dian.
“Mau diapain Ko..?” tanya Dian pasrah.
“Aku takut..” sambungnya.
“Enggak pa-pa kok, enggak bakal sakit.” kataku.
“Aku jamin lah, nggak bakal sakit. Aku tidak bakal memperkosamu.” sambungku lagi.

Lalu Dian kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Dian kecil dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Dian menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Saking lebatnya rambut kemaluan Dian, terpaksa kusibak dengan jari lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Dian. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Asin tapi sungguh sangat merangsang kelakianku.

Aku sebenarnya tersiksa, karena kemaluanku sakit terhimpit di dalam celana jeans-ku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku tidak boleh menyakiti Dian. Sudah janji.

Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Dian, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.

“Ohh, Ko.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung hujan lebat, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Dian orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Dian orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula. Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.

“Di, baru kali ini ngerasain seperti ini..?” tanyaku.
“He eh..” sahutnya.
“Itu namanya orgasme.., beruntung lho kamu ngerasain seperti tadi.” sambungku.
“O.. orgasme itu kayak itu..?” sahutnya lagi dengan wajah kemarahan seperti kepiting rebus.
“Gimana, enak nggak..?” tanyaku.
“Ngg.. not bad..!” jawabnya menggodaku.
Padahal aku sangat sangat yakin, dibandingkan hidangan yang pernah disantapnya, orgasme yang barusan dialaminya jauh lebih nikmat.

“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Ko..!” erang Dian saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Ko. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, tapi kemaluanku sangat sakit tergencet dalam celana.
“Di, biar fifty-fifty, kamu harus lihat punyaku.” kataku sambil mengeluarkan meriamku yang segera megacung tegak di hadapan Dian.

Dian agak kaget melihat batang kemaluanku telah mengacung sedemikian rupa di hadapannya. Aku yakin, itu pertama kalinya Dian melihat batang kemaluan pria dewasa secara langsung.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan batang tersebut ke arahnya.
Dian menerima batang itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat batangku berada dalam genggaman Dian. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

“Apa semua laki anunya bisa segede ini..?” tanya Dian.
“Wah, kamu belum tahu aja, kalo Negro bisa 30 centi, hitam, dan gede.” kataku sambil menikmati usapan dan belaian tangannya.
Dian kemudian tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya tanpa penutup. Ia mengatupkan kedua kakinya rapat-rapat. Lalu mencari celana dalamnya yang dari tadi teronggok di lantai.

“Please.., jangan dipakai dulu dong CD-nya..!” pintaku.
“Punyaku kan belum diapa-apain..” kataku lagi.
“Emang ini diapain, Ko..?” tanya Dian.
“Terserah lah, asal tidak dipotong..!” kataku lagi.
Dian kemudian kuajari mengocok batang tersebut perlahan-lahan. Nikmat sekali.

“Kalo mau, ini masukin aja di mulutmu..!”
“Ah.., enggak ah..!”
“Ya nggak pa-pa sih, tapi khan biar adil. Punyamu tadi kan juga pake mulut.” kataku.
Akhirnya meski agak jijik, Dian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Dian tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.

“Di, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung batang kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Dian yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Dian.. ohh..!”
Dian tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.

“Di, udah.. sakit..!”
“Itu namanya sperma, kalo masuk ke punyamu dan pas waktunya, bisa jadi junior.” kataku.
Dian mendengarkan hal itu tetapi lebih sibuk mencari kulotnya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai.

Setelah sekian waktu, Dian keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum.
“Hujannya udah reda, aku mau pulang. Capek..!” kata Dian seraya membereskan barang bawaannya.
“Di, kalo kamu suka sama apa yang kita kerjakan tadi, besok kalo kamu pingin, kamu pake jaket dan segera ke sini waktu kuliah pertama selesai.” ajakku kepada Dian.
Dia hanya diam saja sambil menatap ke arahku.

“Tapi, kalo kamu tidak suka, oke, aku minta maaf. Aku janji tidak akan ngasih tahu siapa pun.” kataku kemudian.
Dian tetap diam dan tanpa berkata-kata, aku terpaksa mengantarkan Dian hingga keluar dari halaman rumahku.

Keesokan harinya, aku sengaja telat ikut kuliah pagi. Selain malas, dosennya juga membosankan. Sambil masuk dari pintu belakang, aku mencari-cari wanita kurus dengan rambut panjang. Ternyata Dian berada di kursi paling depan, bersebelahan dengan teman-teman sekelompoknya (yang sebenarnya manis-manis, tetapi menurut beberapa kalangan, mereka sombong dan sering berlagak paling pintar). Tapi aku tidak ambil pusing. Yah, mereka toh tidak pernah konflik dengan diriku, dan yang jelas, siapa tahu aku dapat meniduri salah satu dari mereka (hahaha).

Ketika kuliah selesai, aku sengaja tidak segera beranjak keluar ruangan, tapi menunggu Dian. Bayangkan.., ternyata Dian mengenakan jaket. Wah, pertanda apa nih, pikirku.
“Hai Dian..” sapaku yang dijawab Dian dengan senyumnya.
“Kamu pake jaket yah..?” kataku lagi seperti orang bodoh.
“Emang nggak boleh..?” jawabnya lagi.

Seperti yang sudah kami sepakati, kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Namun, begitu keluar parkiran dengan kendaraan Dian, dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Budenya (yang sudah lama menjanda, dan tinggal di kota yang sama). Sesampai di sana, aku agak heran ketika rumah tersebut sepi.

“Kok sepi Di..?”
“Iya, Bude lagi pergi ke Solo, ada saudara yang sakit.”
“Lha, trus rumahnya yang jaga siapa..?”
“Sebenarnya ada pembantu, tapi dia ijin pulang kampung dua hari, jadi aku yang terpaksa jagain nih..!”

Begitu pintu garasi kututup, kemudian barang bawaan sudah kuletakkan di meja, langsung Dian kupeluk, bibirnya yang penuh kulumat. Dian tidak diam saja, berbeda seperti kemarin, kali ini Dian membalas pagutan dan kuluman lidahku. Sambil melumat bibirnya, tanganku tidak diam saja, tapi mulai bergerilya, mengelus dan memeras payudaranya, dan sesekali mengusap selangkang Dian. Dian melakukan hal yang sama, dia mengelus kemaluanku yang otomatis kejang dan kaku sekali.

Ah.., nikmat sekali setiap belaian dan usapan tangan Dian di selangkanganku. Tidak tahan hanya demikian, aku segera melepaskan ziper dan melepaskan celana panjang beserta celana dalamku, hingga batang kemaluanku lepas dari siksanya. Batang kemaluanku sepanjang 20 cm itu segera dikocok Dian dan diremas dengan mesra. Tanganku tidak diam juga, karena blouse dan celana panjang Dian segera teronggok di lantai. Bra krem dengan sekali jentik segera terlepas dari punggung Dian.

Aku kemudian jongkok di hadapan Dian, mengamati gundukan daging di selangkangnya yang masih terbungkus celana dalam satin berwarna merah muda. Sepertinya Dian sengaja menyiapkan dirinya. Bulu-bulu halus yang kemarin kusaksikan, kini sudah lebih teratur, tidak mencuat di sana sini dan keluar dari sisi-sisi celana dalamnya.

Aku menghirup udara di depan kemaluan Dian dalam-dalam. Wah.., harum.. Dan dengan sekali rengkuh, sisa kain terakhir di tubuh Dian lenyap. Aku kemudian membimbing Dian ke sofa di ruang tamu. Membuka kedua kakinya untuk lebih mengangkang. Kemudian kususupkan kepalaku di antara pangkal pahanya. Lidahku menyapu seluruh permukaan vagina Dian, yang tidak lama kemudian basah. Cairan asin dan lembab membasahi kemaluannya.

Dian hanya merintih kecil saat ujung lidahku menyapu vaginanya. Kadangkala dia terpekik, saat dengan penuh perasaan bibir vaginanya kusedot atau ketika ujung lidahku menusuk ke lubang kemaluannya yang terus menerus mengeluarkan cairan. 5 menit aku memperlakukan Dian seperti itu, kadang dengan cepat lidahku menyapu, kadang dengan sedotan-sedotan dan kecupan.

Dian mendelik dan kakinya mengejang. Tangannya menjambat rambutku. Wah.., Dian pasti sedang orgasme, pikirku. Aku kemudian menghentikan aktivitasku beberapa saat, untuk menenangkan Dian. Setelah reda, aku lalu berdiri, mengangsurkan batang kemaluanku yang mengacung penuh. Sebenarnya agak sakit kalau si penis ini bangun dengan kekuatan penuh seperti ini.

Dian menerimanya, mengusap perlahan lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Awalnya hanya dikeluar-masukkan tanpa hisapan. Namun perlahan-lahan, Dian mulai menikmati dan memperlakukan batang penisku seperti menghisap permen lolipop. Dikecup, dihisap dan dengan kecepatan tinggi keluar masuk mulutnya. Meski sudah berusaha keras, tapi ukuran penisku yang lumayan itu tidak mampu masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tapi cukuplah untuk membuatku merem melek merasakan nikmat yang oke punya ini.

Meski Dian sudah mendorong maju dan mundur kepalanya, aku tetap mendorong pantatku maju mundur sambil memegang rambutnya. Ahh.. nikmat sekali.
“Dian, kamu cepat bisa ya..!”
“Heeh.. mmhh.. shh..” jawabnya.

Kemudian aku mengangkat Dian untuk rebahan di sofa, tentu dengan kaki yang full mengangkang. Wuih.., indahnya itu vagina. Merah muda dan mengkilap. Tidak kusia-siakan kesempatan yang tidak mungkin ada tiap hari itu. Aku kembali melumat bibir Dian bagian bawah itu, gurih dan mulai basah lagi. Sapuan-sapuan lidahku ditanggapi Dian dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya dia sangat menikmati permainanku.

Sambil mencuri kesempatan, aku menyusupkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yang merekah. Dian terus merintih keenakan, tapi dia tidak menyadari salah satu jariku kini sibuk mengorek-ngorek vaginanya. Lalu aku bangkit, dan dalam posisi jongkok aku mengarahkan kepala kemaluanku ke depan lubang vaginanya. Dian tersentak kaget.
“Jangan Ko.., jangan dimasukin, aku masih perawan..!”

Tapi aku yang sudah gelap mata dan berpikir kapan lagi kesempatan seperti ada lagi, tidak perduli. Dan dengan sedikit memaksa, perlahan ujung kemaluan itu masuk, sesekali kutarik, lalu kutekan kembali. Dian menggigit bibirnya dan meringis, mungkin benar-benar sakit. Untuk mengatasinya, aku mengulum payudaranya sambil menekan batang penisku masuk lebih dalam. 2 cm, kemudian kucabut lagi, lalu kutekan, 5 cm, begitu seterusnya, sampai setengah batang itu masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Dian meraih punggungku, dan kuku-kukunya menancap erat. Sakit juga ketika aku menekan dengan keras pinggulku ke bawah untuk menusuk lubang kemaluan Dian. Seiring dengan itu, di ujung batang kemaluanku, aku merasa telah menembus sesuatu. Wah.., selaput dara Dian akhirnya berhasil kuterobos.

Dian masih setengah menjerit, namun dengan perlahan dan pasti aku mendorong keluar masuk batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang menjadi basah sekali.
Lama kelamaan, Dian mulai ikut mengoyangkan pinggulnya. Wah, dia mulai menikmati.
“Ahh.., terus Ko..! Aaghh.., sshh.. shh..!” erang Dian berulang-ulang.
Tangannya merangkulku erat. Aku mempercepat gerakan menusuk.., mencabut.., berulang-ulang.

Tidak lama, “Oohh.., aaghh.., aduhh Ko, Aku nggak kuat..!”
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia orgasme hebat sekali. Aku juga tidak mampu lagi menahan diri, dan kurasakan sesuatu yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Akhh.. oohh..! Di.. keluarin di dalam atau di luar..?” tanyaku bodoh, karena saat itu Dian masih meratapi orgasme yang sebenarnya dalam hubungan seks sesungguhnya.
Dan tidak dapat ditahan lebih lama lagi, jebol sudah pertahanan. Banyak sekali batang kemaluanku menyemburkan sperma. Dan sialnya, tidak terkontrol karena semua tumpah di dalam vagina.

Batangku tertancap sempurna ketika semburan sperma meledak. Bingung aku ketika seluruh sperma sudah tuntas kumuntahkan. Wah, ini anak kalau hamil, mati aku. Aku lalu berbaring di samping Dian yang masih terengah-engah. Saat aku melirik ke bagian bawahnya, tampak cairan putih mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya, bercampur dengan bercak-bercak merah. Di pelupuk matanya, masih ada air mata yang makin lama semakin banyak. Aku tahu, Dian pasti menyesali hilangnya keperawanannya.

“Nggak pa-pa Say. Aku akan tanggungjawab.” kataku mencoba menghiburnya sambil memeluk dan mengecup dahinya.
Kami lalu tertidur kelelahan dan bangun beberapa jam kemudian.

Sejak saat itu, aku agak segan untuk bertemu langsung dengan Dian hingga beberapa hari kemudian. Yang kuperhatikan adalah kegiatan Dian di kampus. Biasanya Dian rajin, dan kira-kira dua minggu sejak kejadian itu, Dian tetap berada di perpustakaan jurusan (yang relatif lebih kecil daripada perpustakaan fakultas) padahal beberapa teman lainnya sedang belajar.

Beberapa teman lainnya ada yang mengajak Dian untuk belajar bersama, tapi ditolaknya. Sempat kudengar kalau Dian mengatakan sedang halangan. Wah.., mendengar hal itu agak lega juga aku. Kemudian kudekati dirinya yang menanggapiku acuh tidak acuh. Aku tahu kalau dia masih marah.

“Sorry Dian, kamu nggak apa-apa..?”
Kemudian dia mau ketika kuajak keluar ruangan. Di kantin yang kebetulan sepi, Dian menangis sesengukan. Ternyata Dian marah karena aku telah merenggut keperawanannya dan dia bingung bagaimana kalau hamil. Setelah menjelaskan dengan segombal-gombalnya, Dian mau sedikit tersenyum.

“Tapi, gimana rasanya Di..?” tanyaku.
“Engg.., enak sih..” jawabnya malu-malu.
“Kalo kita buat lagi gimana..?” pancingku.
“Tapi nggak mau kalau dimasukin. Takut Ko..!”

Sejak saat itu, kami sering ke kostku atau ke tempatnya untuk saling melumat dan mengoral. Sesekali aku masih dapat memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya, tapi ketika ejakulasi aku mengeluarkannya di luar. Bisa di perutnya, dadanya, dan lebih gila, di wajahnya.

TAMAT
ewek Solo seperti yang sering dideskripsikan orang ada padanya.

Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggangnya, kulitnya putih persih, tinggi sekitar 165 cm, dan berat badan yang tergolong kurus, mungkin hanya 40 kg atau malah kurang. Hanya satu yang kurang dari dirinya, yaitu payudaranya tidak menonjol seperti gadis lain di usianya. Karena ada salah satu teman dari kami yang memiliki payudara sangat menonjol, mungkin ada pada ukuran 36 atau malah 38. Gadis itu bernama Mia. Tapi cerita ini tidak berkisah tentang Mia.

Sebenarnya tidak ada hubungan yang cukup relevan antara diriku dan Dian. Hanya dalam beberapa kali, secara tidak sengaja aku bersama dia dalam satu kereta menuju kota Solo. Akhirnya hal tersebut membuat kami menjadi lebih akrab. Kemudian kami juga punya satu kelompok informal, yang sering bertemu sekedar berhura-hura atau ‘cangkruk’ istilahnya. Kami saat itu masih semester 5, belum KKN, dan masih banyak terlibat kuliah-kuliah teori dan banyak berkutat pada tugas-tugas membuat makalah.

Aku mendengar bahwa Dian baru saja putus dengan pacarnya, yaitu salah seorang dari kelompok kami juga. Cerita pastinya tidak kuketahui. Iseng, suatu sore aku datang ke kostnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakanku. Dian menerimaku di teras rumah dengan menggunakan celana pendek santai dan kaos oblong. No problem, karena aku temannya, dan sudah beberapa kali ke situ.

Aku bertanya kenapa Dian putus, dan apakah pacarnya tersebut yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Ternyata, hanya karena pertimbangan dari kakaknya, Dian rela berpisah karena alasan masih kuliah dan belum berpikir tentang hubungan yang serius dengan lawan jenis. Lucu. Saat duduk berdampingan itu, aku melirik ke kakinya yang jenjang, dan banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Wah, kecamatannya aja kayak gini ya..,” kataku sambil mengusap dengkulnya, “Apalagi kalo ibukotanya..?”
Dian hanya meringis tertawa, dan tidak menjawab. Sore itu tidak ada hal yang menarik yang dapat diceritakan.

Keesokannya, setelah selesai kuliah, kira-kira jam 2 siang, hari sangat mendung. Aku bergegas pulang, karena memang tidak ada rencana pergi atau ngelayap, serta masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Makanya aku pulang saja ke rumah kontrakanku. Sesampainya di sana, aku melihat ada motor bebek hitam diparkir di halaman, sedangkankan pintu garasinya terbuka.
Ada tamu, pikirku.
Ternyata tamu tersebut Dian, yang sebenarnya tadi ketemu di ruang kuliah.

“Tumben ke sini, ada apa Di..?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Nggak boleh aku main ke sini?” balasnya.
“Emang mau main apa..?” aku berusaha bercanda sambil mendorong motornya masuk garasi.
Aku kemudian mengajaknya masuk rumah.
“Sepi amat tempatmu Ko..?” tanya Dian seraya memperhatikan isi ruang tamuku yang memang sangat lengang.

Selain hanya berdua bersama seorang teman yang sedang mengambil kuliah Doktoralnya, ruang tamu itu berisi seperangkat kursi tamu dan beberapa lukisan. Selebihnya kosong.

Kemudian kami bercerita panjang lebar, mulai tentang materi kuliah, sampai mungkin siapa ketua RT di Timtim pun kami bahas. Sekitar setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras, hingga rumah tetangga depan pun sulit terlihat.

“Wah, aku susah pulangnya nih..!” kata Dian sambil berdiri di depan kaca.
“Ya udah, ditunggu saja, nanti kalo airnya habis hujannya berhenti juga.” jawabku.
Lalu aku memasak air untuk membuat teh hangat. Setelah itu, obrolan berlanjut lagi. Nah, pada saat aku menyiapkan teh di meja makan, Dian menyusul. Tidak ada yang menarik untuk aku berpikir jorok terhadapnya.

Pada saat berdampingan itu, aku bertanya kepada Dian, “Di, kamu waktu pacaran sama Ari udah pernah dicium, belum..?”
“Boro-boro disun, dibelai aja belum, ehh bubar.” katanya sambil terus mengaduk teh.
“Kamu mau tahu rasanya dicium..?” pancingku.
Dian hanya memandangku, tapi dengan sorot yang lain. Antara takut, malu, atau entah.. mungkin ingin juga.

Aku lalu memegang kedua tanganya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Dian diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Dian tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Dian membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.

“Di, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Dian kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Dian. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan kemeja yang dikenakan Dian, dan supaya tidak ada protes dari Dian, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Dian mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Dian, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil.

Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang tipis itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Dian terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Dian lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, setengah baju Dian terbuka. Nampak payudaranya sangat putih, namun tidak besar. Aku bahkan dapat memasukkan seluruh payudaranyanya dalam mulutku. Dian hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Dian hanya mampu menggigit-gigit bibirnya.

Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Dian yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Dian akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Dian hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Dian, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Dian. Untung besar pikirku. Besok-besok belum tentu ada kesempatan seperti ini. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Dian, kulot hitam yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Dian yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Dian sudah tidak mampu lagi berkata-kata.Kurasakan gundukan daging di selangkangan Dian lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita. Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Benar pikirku selama ini, rambut kemaluannya sangat lebat. Hanya saja cukup halus dan, terutama, wangi. Ah, rajin juga Dian merawat selangkangnya.

Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Dian semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Dian menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

“Di, mau yang lebih dari ini..?” tanyanku di sela-sela kesibukan menjilati kemaluan Dian.
“Mau diapain Ko..?” tanya Dian pasrah.
“Aku takut..” sambungnya.
“Enggak pa-pa kok, enggak bakal sakit.” kataku.
“Aku jamin lah, nggak bakal sakit. Aku tidak bakal memperkosamu.” sambungku lagi.

Lalu Dian kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Dian kecil dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Dian menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Saking lebatnya rambut kemaluan Dian, terpaksa kusibak dengan jari lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Dian. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Asin tapi sungguh sangat merangsang kelakianku.

Aku sebenarnya tersiksa, karena kemaluanku sakit terhimpit di dalam celana jeans-ku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku tidak boleh menyakiti Dian. Sudah janji.

Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Dian, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.

“Ohh, Ko.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung hujan lebat, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Dian orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Dian orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula. Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.

“Di, baru kali ini ngerasain seperti ini..?” tanyaku.
“He eh..” sahutnya.
“Itu namanya orgasme.., beruntung lho kamu ngerasain seperti tadi.” sambungku.
“O.. orgasme itu kayak itu..?” sahutnya lagi dengan wajah kemarahan seperti kepiting rebus.
“Gimana, enak nggak..?” tanyaku.
“Ngg.. not bad..!” jawabnya menggodaku.
Padahal aku sangat sangat yakin, dibandingkan hidangan yang pernah disantapnya, orgasme yang barusan dialaminya jauh lebih nikmat.

“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Ko..!” erang Dian saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Ko. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, tapi kemaluanku sangat sakit tergencet dalam celana.
“Di, biar fifty-fifty, kamu harus lihat punyaku.” kataku sambil mengeluarkan meriamku yang segera megacung tegak di hadapan Dian.

Dian agak kaget melihat batang kemaluanku telah mengacung sedemikian rupa di hadapannya. Aku yakin, itu pertama kalinya Dian melihat batang kemaluan pria dewasa secara langsung.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan batang tersebut ke arahnya.
Dian menerima batang itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat batangku berada dalam genggaman Dian. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

“Apa semua laki anunya bisa segede ini..?” tanya Dian.
“Wah, kamu belum tahu aja, kalo Negro bisa 30 centi, hitam, dan gede.” kataku sambil menikmati usapan dan belaian tangannya.
Dian kemudian tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya tanpa penutup. Ia mengatupkan kedua kakinya rapat-rapat. Lalu mencari celana dalamnya yang dari tadi teronggok di lantai.

“Please.., jangan dipakai dulu dong CD-nya..!” pintaku.
“Punyaku kan belum diapa-apain..” kataku lagi.
“Emang ini diapain, Ko..?” tanya Dian.
“Terserah lah, asal tidak dipotong..!” kataku lagi.
Dian kemudian kuajari mengocok batang tersebut perlahan-lahan. Nikmat sekali.

“Kalo mau, ini masukin aja di mulutmu..!”
“Ah.., enggak ah..!”
“Ya nggak pa-pa sih, tapi khan biar adil. Punyamu tadi kan juga pake mulut.” kataku.
Akhirnya meski agak jijik, Dian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Dian tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.

“Di, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung batang kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Dian yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Dian.. ohh..!”
Dian tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.

“Di, udah.. sakit..!”
“Itu namanya sperma, kalo masuk ke punyamu dan pas waktunya, bisa jadi junior.” kataku.
Dian mendengarkan hal itu tetapi lebih sibuk mencari kulotnya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai.

Setelah sekian waktu, Dian keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum.
“Hujannya udah reda, aku mau pulang. Capek..!” kata Dian seraya membereskan barang bawaannya.
“Di, kalo kamu suka sama apa yang kita kerjakan tadi, besok kalo kamu pingin, kamu pake jaket dan segera ke sini waktu kuliah pertama selesai.” ajakku kepada Dian.
Dia hanya diam saja sambil menatap ke arahku.

“Tapi, kalo kamu tidak suka, oke, aku minta maaf. Aku janji tidak akan ngasih tahu siapa pun.” kataku kemudian.
Dian tetap diam dan tanpa berkata-kata, aku terpaksa mengantarkan Dian hingga keluar dari halaman rumahku.

Keesokan harinya, aku sengaja telat ikut kuliah pagi. Selain malas, dosennya juga membosankan. Sambil masuk dari pintu belakang, aku mencari-cari wanita kurus dengan rambut panjang. Ternyata Dian berada di kursi paling depan, bersebelahan dengan teman-teman sekelompoknya (yang sebenarnya manis-manis, tetapi menurut beberapa kalangan, mereka sombong dan sering berlagak paling pintar). Tapi aku tidak ambil pusing. Yah, mereka toh tidak pernah konflik dengan diriku, dan yang jelas, siapa tahu aku dapat meniduri salah satu dari mereka (hahaha).

Ketika kuliah selesai, aku sengaja tidak segera beranjak keluar ruangan, tapi menunggu Dian. Bayangkan.., ternyata Dian mengenakan jaket. Wah, pertanda apa nih, pikirku.
“Hai Dian..” sapaku yang dijawab Dian dengan senyumnya.
“Kamu pake jaket yah..?” kataku lagi seperti orang bodoh.
“Emang nggak boleh..?” jawabnya lagi.

Seperti yang sudah kami sepakati, kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Namun, begitu keluar parkiran dengan kendaraan Dian, dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Budenya (yang sudah lama menjanda, dan tinggal di kota yang sama). Sesampai di sana, aku agak heran ketika rumah tersebut sepi.

“Kok sepi Di..?”
“Iya, Bude lagi pergi ke Solo, ada saudara yang sakit.”
“Lha, trus rumahnya yang jaga siapa..?”
“Sebenarnya ada pembantu, tapi dia ijin pulang kampung dua hari, jadi aku yang terpaksa jagain nih..!”

Begitu pintu garasi kututup, kemudian barang bawaan sudah kuletakkan di meja, langsung Dian kupeluk, bibirnya yang penuh kulumat. Dian tidak diam saja, berbeda seperti kemarin, kali ini Dian membalas pagutan dan kuluman lidahku. Sambil melumat bibirnya, tanganku tidak diam saja, tapi mulai bergerilya, mengelus dan memeras payudaranya, dan sesekali mengusap selangkang Dian. Dian melakukan hal yang sama, dia mengelus kemaluanku yang otomatis kejang dan kaku sekali.

Ah.., nikmat sekali setiap belaian dan usapan tangan Dian di selangkanganku. Tidak tahan hanya demikian, aku segera melepaskan ziper dan melepaskan celana panjang beserta celana dalamku, hingga batang kemaluanku lepas dari siksanya. Batang kemaluanku sepanjang 20 cm itu segera dikocok Dian dan diremas dengan mesra. Tanganku tidak diam juga, karena blouse dan celana panjang Dian segera teronggok di lantai. Bra krem dengan sekali jentik segera terlepas dari punggung Dian.

Aku kemudian jongkok di hadapan Dian, mengamati gundukan daging di selangkangnya yang masih terbungkus celana dalam satin berwarna merah muda. Sepertinya Dian sengaja menyiapkan dirinya. Bulu-bulu halus yang kemarin kusaksikan, kini sudah lebih teratur, tidak mencuat di sana sini dan keluar dari sisi-sisi celana dalamnya.

Aku menghirup udara di depan kemaluan Dian dalam-dalam. Wah.., harum.. Dan dengan sekali rengkuh, sisa kain terakhir di tubuh Dian lenyap. Aku kemudian membimbing Dian ke sofa di ruang tamu. Membuka kedua kakinya untuk lebih mengangkang. Kemudian kususupkan kepalaku di antara pangkal pahanya. Lidahku menyapu seluruh permukaan vagina Dian, yang tidak lama kemudian basah. Cairan asin dan lembab membasahi kemaluannya.

Dian hanya merintih kecil saat ujung lidahku menyapu vaginanya. Kadangkala dia terpekik, saat dengan penuh perasaan bibir vaginanya kusedot atau ketika ujung lidahku menusuk ke lubang kemaluannya yang terus menerus mengeluarkan cairan. 5 menit aku memperlakukan Dian seperti itu, kadang dengan cepat lidahku menyapu, kadang dengan sedotan-sedotan dan kecupan.

Dian mendelik dan kakinya mengejang. Tangannya menjambat rambutku. Wah.., Dian pasti sedang orgasme, pikirku. Aku kemudian menghentikan aktivitasku beberapa saat, untuk menenangkan Dian. Setelah reda, aku lalu berdiri, mengangsurkan batang kemaluanku yang mengacung penuh. Sebenarnya agak sakit kalau si penis ini bangun dengan kekuatan penuh seperti ini.

Dian menerimanya, mengusap perlahan lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Awalnya hanya dikeluar-masukkan tanpa hisapan. Namun perlahan-lahan, Dian mulai menikmati dan memperlakukan batang penisku seperti menghisap permen lolipop. Dikecup, dihisap dan dengan kecepatan tinggi keluar masuk mulutnya. Meski sudah berusaha keras, tapi ukuran penisku yang lumayan itu tidak mampu masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tapi cukuplah untuk membuatku merem melek merasakan nikmat yang oke punya ini.

Meski Dian sudah mendorong maju dan mundur kepalanya, aku tetap mendorong pantatku maju mundur sambil memegang rambutnya. Ahh.. nikmat sekali.
“Dian, kamu cepat bisa ya..!”
“Heeh.. mmhh.. shh..” jawabnya.

Kemudian aku mengangkat Dian untuk rebahan di sofa, tentu dengan kaki yang full mengangkang. Wuih.., indahnya itu vagina. Merah muda dan mengkilap. Tidak kusia-siakan kesempatan yang tidak mungkin ada tiap hari itu. Aku kembali melumat bibir Dian bagian bawah itu, gurih dan mulai basah lagi. Sapuan-sapuan lidahku ditanggapi Dian dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya dia sangat menikmati permainanku.

Sambil mencuri kesempatan, aku menyusupkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yang merekah. Dian terus merintih keenakan, tapi dia tidak menyadari salah satu jariku kini sibuk mengorek-ngorek vaginanya. Lalu aku bangkit, dan dalam posisi jongkok aku mengarahkan kepala kemaluanku ke depan lubang vaginanya. Dian tersentak kaget.
“Jangan Ko.., jangan dimasukin, aku masih perawan..!”

Tapi aku yang sudah gelap mata dan berpikir kapan lagi kesempatan seperti ada lagi, tidak perduli. Dan dengan sedikit memaksa, perlahan ujung kemaluan itu masuk, sesekali kutarik, lalu kutekan kembali. Dian menggigit bibirnya dan meringis, mungkin benar-benar sakit. Untuk mengatasinya, aku mengulum payudaranya sambil menekan batang penisku masuk lebih dalam. 2 cm, kemudian kucabut lagi, lalu kutekan, 5 cm, begitu seterusnya, sampai setengah batang itu masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Dian meraih punggungku, dan kuku-kukunya menancap erat. Sakit juga ketika aku menekan dengan keras pinggulku ke bawah untuk menusuk lubang kemaluan Dian. Seiring dengan itu, di ujung batang kemaluanku, aku merasa telah menembus sesuatu. Wah.., selaput dara Dian akhirnya berhasil kuterobos.

Dian masih setengah menjerit, namun dengan perlahan dan pasti aku mendorong keluar masuk batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang menjadi basah sekali.
Lama kelamaan, Dian mulai ikut mengoyangkan pinggulnya. Wah, dia mulai menikmati.
“Ahh.., terus Ko..! Aaghh.., sshh.. shh..!” erang Dian berulang-ulang.
Tangannya merangkulku erat. Aku mempercepat gerakan menusuk.., mencabut.., berulang-ulang.

Tidak lama, “Oohh.., aaghh.., aduhh Ko, Aku nggak kuat..!”
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia orgasme hebat sekali. Aku juga tidak mampu lagi menahan diri, dan kurasakan sesuatu yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Akhh.. oohh..! Di.. keluarin di dalam atau di luar..?” tanyaku bodoh, karena saat itu Dian masih meratapi orgasme yang sebenarnya dalam hubungan seks sesungguhnya.
Dan tidak dapat ditahan lebih lama lagi, jebol sudah pertahanan. Banyak sekali batang kemaluanku menyemburkan sperma. Dan sialnya, tidak terkontrol karena semua tumpah di dalam vagina.

Batangku tertancap sempurna ketika semburan sperma meledak. Bingung aku ketika seluruh sperma sudah tuntas kumuntahkan. Wah, ini anak kalau hamil, mati aku. Aku lalu berbaring di samping Dian yang masih terengah-engah. Saat aku melirik ke bagian bawahnya, tampak cairan putih mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya, bercampur dengan bercak-bercak merah. Di pelupuk matanya, masih ada air mata yang makin lama semakin banyak. Aku tahu, Dian pasti menyesali hilangnya keperawanannya.

“Nggak pa-pa Say. Aku akan tanggungjawab.” kataku mencoba menghiburnya sambil memeluk dan mengecup dahinya.
Kami lalu tertidur kelelahan dan bangun beberapa jam kemudian.

Sejak saat itu, aku agak segan untuk bertemu langsung dengan Dian hingga beberapa hari kemudian. Yang kuperhatikan adalah kegiatan Dian di kampus. Biasanya Dian rajin, dan kira-kira dua minggu sejak kejadian itu, Dian tetap berada di perpustakaan jurusan (yang relatif lebih kecil daripada perpustakaan fakultas) padahal beberapa teman lainnya sedang belajar.

Beberapa teman lainnya ada yang mengajak Dian untuk belajar bersama, tapi ditolaknya. Sempat kudengar kalau Dian mengatakan sedang halangan. Wah.., mendengar hal itu agak lega juga aku. Kemudian kudekati dirinya yang menanggapiku acuh tidak acuh. Aku tahu kalau dia masih marah.

“Sorry Dian, kamu nggak apa-apa..?”
Kemudian dia mau ketika kuajak keluar ruangan. Di kantin yang kebetulan sepi, Dian menangis sesengukan. Ternyata Dian marah karena aku telah merenggut keperawanannya dan dia bingung bagaimana kalau hamil. Setelah menjelaskan dengan segombal-gombalnya, Dian mau sedikit tersenyum.

“Tapi, gimana rasanya Di..?” tanyaku.
“Engg.., enak sih..” jawabnya malu-malu.
“Kalo kita buat lagi gimana..?” pancingku.
“Tapi nggak mau kalau dimasukin. Takut Ko..!”

Sejak saat itu, kami sering ke kostku atau ke tempatnya untuk saling melumat dan mengoral. Sesekali aku masih dapat memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya, tapi ketika ejakulasi aku mengeluarkannya di luar. Bisa di perutnya, dadanya, dan lebih gila, di wajahnya.

TAMAT