Arsip Tag: bersama dengan mama

Foto Bugil Gadis Dan Tante Tante Yang Terbaru BY Juragan TOGE

Nikmati saja gan!

JURAGAN TOGE “BERBAGI NO TELPON BISPAK DAN TANTE GIRANG JUGA OM OM SENANG

Cerita Nikmat Holic sekalian, kini saatnya kita berbagi list no telpon tante girang, cewek bisa pakai dan juga om om senang! bagi kalian yang mempunyai no mereka bisa berbagi disini melalui kotak komentar, atau buat kalian yang ingin ditelpon sama om om senang, tante girang dan cewek bisa pakai, tinggalkan saja no kalian di kotak komentar, karena blog ini sudah dikunjungi sebanyak 4000 an lebih pengunjung dan diantara mereka sedang mencari no telpon buat dihubungi dan diajak kencan!! monggo mariiii!!!

Ngentot Dengan Ibu Kandung, (Mama Memang Suka Sex)

Cerita disini beda sama cerita ditempat lain

Hallo semua, namaku Boby, aku akan menceritakan pengalaman seks-ku yang luar biasa yang pernah kurasakan dan kualami. Sekarang aku kuliah di salah satu PTS terkenal di kedah, dan tinggal di rumah di kawasan elite di keah utara dengan ibu, adik dan pembatuku. Sejak mula lagi aku dan adikku tinggal bersama nenekku di kedah, sementara ibu dan ayahku tinggal di KL karena memang ayah mempunyai perusahaan besar di wilayah Persekutuan, dan sejak nenek meninggal ibu kemudian tinggal lagi bersama kami, sedangkan ayah hanya pulang sebulan atau dua bulan sekali seperti biasanya sebelum nenekku meninggal. Sebenarnya kami diajak ibu dan ayahku untuk tinggal di KL, namun adik dan aku tidak mau meninggalkan Kedah karena kami sangat suka tinggal di tempat kami lahir.
Baca lebih lanjut

Ibu Mertuaku Janda Selalu Minta Ngentot

Keluarga istriku terdiri dari ibunya yang tak lain adalah mertuaku. Namanya Heny, umurnya baru 38 tahun, kelahiran tahun 1964. Mertuaku yang peracik jamu ini adalah istri ketiga dari camat di kampungya dari pernikahannya yang menghasilkan tiga anak. Anak pertama Cheny, 24 tahun, bekerja pada salah satu toko swalayan di Bandung, kedua Venny yang menjadi istriku, 22 tahun, seorang karyawati di perusahaan swasta dan ketiga Nony masih 20 tahun, baru lulus SMU dan masih menganggur. Ketiga wanita inilah yang pernah menjadi santapan seksualku.
Baca lebih lanjut

Takut Hamil

Kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu ketika aku masih kuliah di suatu perguruan tinggi di kota BS. Saat itu, aku punya satu teman yang cukup dekat, Dian namanya. Dia gadis Solo tulen, yang kalem, sangat lemah lembut, baik dalam berbicara, berjalan, dan sebagainya. Pokoknya, cKejadian ini terjadi beberapa tahun lalu ketika aku masih kuliah di suatu perguruan tinggi di kota BS. Saat itu, aku punya satu teman yang cukup dekat, Dian namanya. Dia gadis Solo tulen, yang kalem, sangat lemah lembut, baik dalam berbicara, berjalan, dan sebagainya. Pokoknya, cewek Solo seperti yang sering dideskripsikan orang ada padanya.

Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggangnya, kulitnya putih persih, tinggi sekitar 165 cm, dan berat badan yang tergolong kurus, mungkin hanya 40 kg atau malah kurang. Hanya satu yang kurang dari dirinya, yaitu payudaranya tidak menonjol seperti gadis lain di usianya. Karena ada salah satu teman dari kami yang memiliki payudara sangat menonjol, mungkin ada pada ukuran 36 atau malah 38. Gadis itu bernama Mia. Tapi cerita ini tidak berkisah tentang Mia.

Sebenarnya tidak ada hubungan yang cukup relevan antara diriku dan Dian. Hanya dalam beberapa kali, secara tidak sengaja aku bersama dia dalam satu kereta menuju kota Solo. Akhirnya hal tersebut membuat kami menjadi lebih akrab. Kemudian kami juga punya satu kelompok informal, yang sering bertemu sekedar berhura-hura atau ‘cangkruk’ istilahnya. Kami saat itu masih semester 5, belum KKN, dan masih banyak terlibat kuliah-kuliah teori dan banyak berkutat pada tugas-tugas membuat makalah.

Aku mendengar bahwa Dian baru saja putus dengan pacarnya, yaitu salah seorang dari kelompok kami juga. Cerita pastinya tidak kuketahui. Iseng, suatu sore aku datang ke kostnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakanku. Dian menerimaku di teras rumah dengan menggunakan celana pendek santai dan kaos oblong. No problem, karena aku temannya, dan sudah beberapa kali ke situ.

Aku bertanya kenapa Dian putus, dan apakah pacarnya tersebut yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Ternyata, hanya karena pertimbangan dari kakaknya, Dian rela berpisah karena alasan masih kuliah dan belum berpikir tentang hubungan yang serius dengan lawan jenis. Lucu. Saat duduk berdampingan itu, aku melirik ke kakinya yang jenjang, dan banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Wah, kecamatannya aja kayak gini ya..,” kataku sambil mengusap dengkulnya, “Apalagi kalo ibukotanya..?”
Dian hanya meringis tertawa, dan tidak menjawab. Sore itu tidak ada hal yang menarik yang dapat diceritakan.

Keesokannya, setelah selesai kuliah, kira-kira jam 2 siang, hari sangat mendung. Aku bergegas pulang, karena memang tidak ada rencana pergi atau ngelayap, serta masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Makanya aku pulang saja ke rumah kontrakanku. Sesampainya di sana, aku melihat ada motor bebek hitam diparkir di halaman, sedangkankan pintu garasinya terbuka.
Ada tamu, pikirku.
Ternyata tamu tersebut Dian, yang sebenarnya tadi ketemu di ruang kuliah.

“Tumben ke sini, ada apa Di..?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Nggak boleh aku main ke sini?” balasnya.
“Emang mau main apa..?” aku berusaha bercanda sambil mendorong motornya masuk garasi.
Aku kemudian mengajaknya masuk rumah.
“Sepi amat tempatmu Ko..?” tanya Dian seraya memperhatikan isi ruang tamuku yang memang sangat lengang.

Selain hanya berdua bersama seorang teman yang sedang mengambil kuliah Doktoralnya, ruang tamu itu berisi seperangkat kursi tamu dan beberapa lukisan. Selebihnya kosong.

Kemudian kami bercerita panjang lebar, mulai tentang materi kuliah, sampai mungkin siapa ketua RT di Timtim pun kami bahas. Sekitar setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras, hingga rumah tetangga depan pun sulit terlihat.

“Wah, aku susah pulangnya nih..!” kata Dian sambil berdiri di depan kaca.
“Ya udah, ditunggu saja, nanti kalo airnya habis hujannya berhenti juga.” jawabku.
Lalu aku memasak air untuk membuat teh hangat. Setelah itu, obrolan berlanjut lagi. Nah, pada saat aku menyiapkan teh di meja makan, Dian menyusul. Tidak ada yang menarik untuk aku berpikir jorok terhadapnya.

Pada saat berdampingan itu, aku bertanya kepada Dian, “Di, kamu waktu pacaran sama Ari udah pernah dicium, belum..?”
“Boro-boro disun, dibelai aja belum, ehh bubar.” katanya sambil terus mengaduk teh.
“Kamu mau tahu rasanya dicium..?” pancingku.
Dian hanya memandangku, tapi dengan sorot yang lain. Antara takut, malu, atau entah.. mungkin ingin juga.

Aku lalu memegang kedua tanganya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Dian diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Dian tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Dian membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.

“Di, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Dian kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Dian. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan kemeja yang dikenakan Dian, dan supaya tidak ada protes dari Dian, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Dian mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Dian, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil.

Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang tipis itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Dian terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Dian lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, setengah baju Dian terbuka. Nampak payudaranya sangat putih, namun tidak besar. Aku bahkan dapat memasukkan seluruh payudaranyanya dalam mulutku. Dian hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Dian hanya mampu menggigit-gigit bibirnya.

Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Dian yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Dian akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Dian hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Dian, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Dian. Untung besar pikirku. Besok-besok belum tentu ada kesempatan seperti ini. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Dian, kulot hitam yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Dian yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Dian sudah tidak mampu lagi berkata-kata.Kurasakan gundukan daging di selangkangan Dian lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita. Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Benar pikirku selama ini, rambut kemaluannya sangat lebat. Hanya saja cukup halus dan, terutama, wangi. Ah, rajin juga Dian merawat selangkangnya.

Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Dian semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Dian menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

“Di, mau yang lebih dari ini..?” tanyanku di sela-sela kesibukan menjilati kemaluan Dian.
“Mau diapain Ko..?” tanya Dian pasrah.
“Aku takut..” sambungnya.
“Enggak pa-pa kok, enggak bakal sakit.” kataku.
“Aku jamin lah, nggak bakal sakit. Aku tidak bakal memperkosamu.” sambungku lagi.

Lalu Dian kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Dian kecil dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Dian menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Saking lebatnya rambut kemaluan Dian, terpaksa kusibak dengan jari lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Dian. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Asin tapi sungguh sangat merangsang kelakianku.

Aku sebenarnya tersiksa, karena kemaluanku sakit terhimpit di dalam celana jeans-ku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku tidak boleh menyakiti Dian. Sudah janji.

Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Dian, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.

“Ohh, Ko.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung hujan lebat, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Dian orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Dian orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula. Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.

“Di, baru kali ini ngerasain seperti ini..?” tanyaku.
“He eh..” sahutnya.
“Itu namanya orgasme.., beruntung lho kamu ngerasain seperti tadi.” sambungku.
“O.. orgasme itu kayak itu..?” sahutnya lagi dengan wajah kemarahan seperti kepiting rebus.
“Gimana, enak nggak..?” tanyaku.
“Ngg.. not bad..!” jawabnya menggodaku.
Padahal aku sangat sangat yakin, dibandingkan hidangan yang pernah disantapnya, orgasme yang barusan dialaminya jauh lebih nikmat.

“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Ko..!” erang Dian saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Ko. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, tapi kemaluanku sangat sakit tergencet dalam celana.
“Di, biar fifty-fifty, kamu harus lihat punyaku.” kataku sambil mengeluarkan meriamku yang segera megacung tegak di hadapan Dian.

Dian agak kaget melihat batang kemaluanku telah mengacung sedemikian rupa di hadapannya. Aku yakin, itu pertama kalinya Dian melihat batang kemaluan pria dewasa secara langsung.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan batang tersebut ke arahnya.
Dian menerima batang itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat batangku berada dalam genggaman Dian. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

“Apa semua laki anunya bisa segede ini..?” tanya Dian.
“Wah, kamu belum tahu aja, kalo Negro bisa 30 centi, hitam, dan gede.” kataku sambil menikmati usapan dan belaian tangannya.
Dian kemudian tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya tanpa penutup. Ia mengatupkan kedua kakinya rapat-rapat. Lalu mencari celana dalamnya yang dari tadi teronggok di lantai.

“Please.., jangan dipakai dulu dong CD-nya..!” pintaku.
“Punyaku kan belum diapa-apain..” kataku lagi.
“Emang ini diapain, Ko..?” tanya Dian.
“Terserah lah, asal tidak dipotong..!” kataku lagi.
Dian kemudian kuajari mengocok batang tersebut perlahan-lahan. Nikmat sekali.

“Kalo mau, ini masukin aja di mulutmu..!”
“Ah.., enggak ah..!”
“Ya nggak pa-pa sih, tapi khan biar adil. Punyamu tadi kan juga pake mulut.” kataku.
Akhirnya meski agak jijik, Dian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Dian tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.

“Di, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung batang kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Dian yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Dian.. ohh..!”
Dian tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.

“Di, udah.. sakit..!”
“Itu namanya sperma, kalo masuk ke punyamu dan pas waktunya, bisa jadi junior.” kataku.
Dian mendengarkan hal itu tetapi lebih sibuk mencari kulotnya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai.

Setelah sekian waktu, Dian keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum.
“Hujannya udah reda, aku mau pulang. Capek..!” kata Dian seraya membereskan barang bawaannya.
“Di, kalo kamu suka sama apa yang kita kerjakan tadi, besok kalo kamu pingin, kamu pake jaket dan segera ke sini waktu kuliah pertama selesai.” ajakku kepada Dian.
Dia hanya diam saja sambil menatap ke arahku.

“Tapi, kalo kamu tidak suka, oke, aku minta maaf. Aku janji tidak akan ngasih tahu siapa pun.” kataku kemudian.
Dian tetap diam dan tanpa berkata-kata, aku terpaksa mengantarkan Dian hingga keluar dari halaman rumahku.

Keesokan harinya, aku sengaja telat ikut kuliah pagi. Selain malas, dosennya juga membosankan. Sambil masuk dari pintu belakang, aku mencari-cari wanita kurus dengan rambut panjang. Ternyata Dian berada di kursi paling depan, bersebelahan dengan teman-teman sekelompoknya (yang sebenarnya manis-manis, tetapi menurut beberapa kalangan, mereka sombong dan sering berlagak paling pintar). Tapi aku tidak ambil pusing. Yah, mereka toh tidak pernah konflik dengan diriku, dan yang jelas, siapa tahu aku dapat meniduri salah satu dari mereka (hahaha).

Ketika kuliah selesai, aku sengaja tidak segera beranjak keluar ruangan, tapi menunggu Dian. Bayangkan.., ternyata Dian mengenakan jaket. Wah, pertanda apa nih, pikirku.
“Hai Dian..” sapaku yang dijawab Dian dengan senyumnya.
“Kamu pake jaket yah..?” kataku lagi seperti orang bodoh.
“Emang nggak boleh..?” jawabnya lagi.

Seperti yang sudah kami sepakati, kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Namun, begitu keluar parkiran dengan kendaraan Dian, dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Budenya (yang sudah lama menjanda, dan tinggal di kota yang sama). Sesampai di sana, aku agak heran ketika rumah tersebut sepi.

“Kok sepi Di..?”
“Iya, Bude lagi pergi ke Solo, ada saudara yang sakit.”
“Lha, trus rumahnya yang jaga siapa..?”
“Sebenarnya ada pembantu, tapi dia ijin pulang kampung dua hari, jadi aku yang terpaksa jagain nih..!”

Begitu pintu garasi kututup, kemudian barang bawaan sudah kuletakkan di meja, langsung Dian kupeluk, bibirnya yang penuh kulumat. Dian tidak diam saja, berbeda seperti kemarin, kali ini Dian membalas pagutan dan kuluman lidahku. Sambil melumat bibirnya, tanganku tidak diam saja, tapi mulai bergerilya, mengelus dan memeras payudaranya, dan sesekali mengusap selangkang Dian. Dian melakukan hal yang sama, dia mengelus kemaluanku yang otomatis kejang dan kaku sekali.

Ah.., nikmat sekali setiap belaian dan usapan tangan Dian di selangkanganku. Tidak tahan hanya demikian, aku segera melepaskan ziper dan melepaskan celana panjang beserta celana dalamku, hingga batang kemaluanku lepas dari siksanya. Batang kemaluanku sepanjang 20 cm itu segera dikocok Dian dan diremas dengan mesra. Tanganku tidak diam juga, karena blouse dan celana panjang Dian segera teronggok di lantai. Bra krem dengan sekali jentik segera terlepas dari punggung Dian.

Aku kemudian jongkok di hadapan Dian, mengamati gundukan daging di selangkangnya yang masih terbungkus celana dalam satin berwarna merah muda. Sepertinya Dian sengaja menyiapkan dirinya. Bulu-bulu halus yang kemarin kusaksikan, kini sudah lebih teratur, tidak mencuat di sana sini dan keluar dari sisi-sisi celana dalamnya.

Aku menghirup udara di depan kemaluan Dian dalam-dalam. Wah.., harum.. Dan dengan sekali rengkuh, sisa kain terakhir di tubuh Dian lenyap. Aku kemudian membimbing Dian ke sofa di ruang tamu. Membuka kedua kakinya untuk lebih mengangkang. Kemudian kususupkan kepalaku di antara pangkal pahanya. Lidahku menyapu seluruh permukaan vagina Dian, yang tidak lama kemudian basah. Cairan asin dan lembab membasahi kemaluannya.

Dian hanya merintih kecil saat ujung lidahku menyapu vaginanya. Kadangkala dia terpekik, saat dengan penuh perasaan bibir vaginanya kusedot atau ketika ujung lidahku menusuk ke lubang kemaluannya yang terus menerus mengeluarkan cairan. 5 menit aku memperlakukan Dian seperti itu, kadang dengan cepat lidahku menyapu, kadang dengan sedotan-sedotan dan kecupan.

Dian mendelik dan kakinya mengejang. Tangannya menjambat rambutku. Wah.., Dian pasti sedang orgasme, pikirku. Aku kemudian menghentikan aktivitasku beberapa saat, untuk menenangkan Dian. Setelah reda, aku lalu berdiri, mengangsurkan batang kemaluanku yang mengacung penuh. Sebenarnya agak sakit kalau si penis ini bangun dengan kekuatan penuh seperti ini.

Dian menerimanya, mengusap perlahan lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Awalnya hanya dikeluar-masukkan tanpa hisapan. Namun perlahan-lahan, Dian mulai menikmati dan memperlakukan batang penisku seperti menghisap permen lolipop. Dikecup, dihisap dan dengan kecepatan tinggi keluar masuk mulutnya. Meski sudah berusaha keras, tapi ukuran penisku yang lumayan itu tidak mampu masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tapi cukuplah untuk membuatku merem melek merasakan nikmat yang oke punya ini.

Meski Dian sudah mendorong maju dan mundur kepalanya, aku tetap mendorong pantatku maju mundur sambil memegang rambutnya. Ahh.. nikmat sekali.
“Dian, kamu cepat bisa ya..!”
“Heeh.. mmhh.. shh..” jawabnya.

Kemudian aku mengangkat Dian untuk rebahan di sofa, tentu dengan kaki yang full mengangkang. Wuih.., indahnya itu vagina. Merah muda dan mengkilap. Tidak kusia-siakan kesempatan yang tidak mungkin ada tiap hari itu. Aku kembali melumat bibir Dian bagian bawah itu, gurih dan mulai basah lagi. Sapuan-sapuan lidahku ditanggapi Dian dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya dia sangat menikmati permainanku.

Sambil mencuri kesempatan, aku menyusupkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yang merekah. Dian terus merintih keenakan, tapi dia tidak menyadari salah satu jariku kini sibuk mengorek-ngorek vaginanya. Lalu aku bangkit, dan dalam posisi jongkok aku mengarahkan kepala kemaluanku ke depan lubang vaginanya. Dian tersentak kaget.
“Jangan Ko.., jangan dimasukin, aku masih perawan..!”

Tapi aku yang sudah gelap mata dan berpikir kapan lagi kesempatan seperti ada lagi, tidak perduli. Dan dengan sedikit memaksa, perlahan ujung kemaluan itu masuk, sesekali kutarik, lalu kutekan kembali. Dian menggigit bibirnya dan meringis, mungkin benar-benar sakit. Untuk mengatasinya, aku mengulum payudaranya sambil menekan batang penisku masuk lebih dalam. 2 cm, kemudian kucabut lagi, lalu kutekan, 5 cm, begitu seterusnya, sampai setengah batang itu masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Dian meraih punggungku, dan kuku-kukunya menancap erat. Sakit juga ketika aku menekan dengan keras pinggulku ke bawah untuk menusuk lubang kemaluan Dian. Seiring dengan itu, di ujung batang kemaluanku, aku merasa telah menembus sesuatu. Wah.., selaput dara Dian akhirnya berhasil kuterobos.

Dian masih setengah menjerit, namun dengan perlahan dan pasti aku mendorong keluar masuk batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang menjadi basah sekali.
Lama kelamaan, Dian mulai ikut mengoyangkan pinggulnya. Wah, dia mulai menikmati.
“Ahh.., terus Ko..! Aaghh.., sshh.. shh..!” erang Dian berulang-ulang.
Tangannya merangkulku erat. Aku mempercepat gerakan menusuk.., mencabut.., berulang-ulang.

Tidak lama, “Oohh.., aaghh.., aduhh Ko, Aku nggak kuat..!”
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia orgasme hebat sekali. Aku juga tidak mampu lagi menahan diri, dan kurasakan sesuatu yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Akhh.. oohh..! Di.. keluarin di dalam atau di luar..?” tanyaku bodoh, karena saat itu Dian masih meratapi orgasme yang sebenarnya dalam hubungan seks sesungguhnya.
Dan tidak dapat ditahan lebih lama lagi, jebol sudah pertahanan. Banyak sekali batang kemaluanku menyemburkan sperma. Dan sialnya, tidak terkontrol karena semua tumpah di dalam vagina.

Batangku tertancap sempurna ketika semburan sperma meledak. Bingung aku ketika seluruh sperma sudah tuntas kumuntahkan. Wah, ini anak kalau hamil, mati aku. Aku lalu berbaring di samping Dian yang masih terengah-engah. Saat aku melirik ke bagian bawahnya, tampak cairan putih mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya, bercampur dengan bercak-bercak merah. Di pelupuk matanya, masih ada air mata yang makin lama semakin banyak. Aku tahu, Dian pasti menyesali hilangnya keperawanannya.

“Nggak pa-pa Say. Aku akan tanggungjawab.” kataku mencoba menghiburnya sambil memeluk dan mengecup dahinya.
Kami lalu tertidur kelelahan dan bangun beberapa jam kemudian.

Sejak saat itu, aku agak segan untuk bertemu langsung dengan Dian hingga beberapa hari kemudian. Yang kuperhatikan adalah kegiatan Dian di kampus. Biasanya Dian rajin, dan kira-kira dua minggu sejak kejadian itu, Dian tetap berada di perpustakaan jurusan (yang relatif lebih kecil daripada perpustakaan fakultas) padahal beberapa teman lainnya sedang belajar.

Beberapa teman lainnya ada yang mengajak Dian untuk belajar bersama, tapi ditolaknya. Sempat kudengar kalau Dian mengatakan sedang halangan. Wah.., mendengar hal itu agak lega juga aku. Kemudian kudekati dirinya yang menanggapiku acuh tidak acuh. Aku tahu kalau dia masih marah.

“Sorry Dian, kamu nggak apa-apa..?”
Kemudian dia mau ketika kuajak keluar ruangan. Di kantin yang kebetulan sepi, Dian menangis sesengukan. Ternyata Dian marah karena aku telah merenggut keperawanannya dan dia bingung bagaimana kalau hamil. Setelah menjelaskan dengan segombal-gombalnya, Dian mau sedikit tersenyum.

“Tapi, gimana rasanya Di..?” tanyaku.
“Engg.., enak sih..” jawabnya malu-malu.
“Kalo kita buat lagi gimana..?” pancingku.
“Tapi nggak mau kalau dimasukin. Takut Ko..!”

Sejak saat itu, kami sering ke kostku atau ke tempatnya untuk saling melumat dan mengoral. Sesekali aku masih dapat memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya, tapi ketika ejakulasi aku mengeluarkannya di luar. Bisa di perutnya, dadanya, dan lebih gila, di wajahnya.

TAMAT
ewek Solo seperti yang sering dideskripsikan orang ada padanya.

Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggangnya, kulitnya putih persih, tinggi sekitar 165 cm, dan berat badan yang tergolong kurus, mungkin hanya 40 kg atau malah kurang. Hanya satu yang kurang dari dirinya, yaitu payudaranya tidak menonjol seperti gadis lain di usianya. Karena ada salah satu teman dari kami yang memiliki payudara sangat menonjol, mungkin ada pada ukuran 36 atau malah 38. Gadis itu bernama Mia. Tapi cerita ini tidak berkisah tentang Mia.

Sebenarnya tidak ada hubungan yang cukup relevan antara diriku dan Dian. Hanya dalam beberapa kali, secara tidak sengaja aku bersama dia dalam satu kereta menuju kota Solo. Akhirnya hal tersebut membuat kami menjadi lebih akrab. Kemudian kami juga punya satu kelompok informal, yang sering bertemu sekedar berhura-hura atau ‘cangkruk’ istilahnya. Kami saat itu masih semester 5, belum KKN, dan masih banyak terlibat kuliah-kuliah teori dan banyak berkutat pada tugas-tugas membuat makalah.

Aku mendengar bahwa Dian baru saja putus dengan pacarnya, yaitu salah seorang dari kelompok kami juga. Cerita pastinya tidak kuketahui. Iseng, suatu sore aku datang ke kostnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakanku. Dian menerimaku di teras rumah dengan menggunakan celana pendek santai dan kaos oblong. No problem, karena aku temannya, dan sudah beberapa kali ke situ.

Aku bertanya kenapa Dian putus, dan apakah pacarnya tersebut yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Ternyata, hanya karena pertimbangan dari kakaknya, Dian rela berpisah karena alasan masih kuliah dan belum berpikir tentang hubungan yang serius dengan lawan jenis. Lucu. Saat duduk berdampingan itu, aku melirik ke kakinya yang jenjang, dan banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Wah, kecamatannya aja kayak gini ya..,” kataku sambil mengusap dengkulnya, “Apalagi kalo ibukotanya..?”
Dian hanya meringis tertawa, dan tidak menjawab. Sore itu tidak ada hal yang menarik yang dapat diceritakan.

Keesokannya, setelah selesai kuliah, kira-kira jam 2 siang, hari sangat mendung. Aku bergegas pulang, karena memang tidak ada rencana pergi atau ngelayap, serta masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Makanya aku pulang saja ke rumah kontrakanku. Sesampainya di sana, aku melihat ada motor bebek hitam diparkir di halaman, sedangkankan pintu garasinya terbuka.
Ada tamu, pikirku.
Ternyata tamu tersebut Dian, yang sebenarnya tadi ketemu di ruang kuliah.

“Tumben ke sini, ada apa Di..?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Nggak boleh aku main ke sini?” balasnya.
“Emang mau main apa..?” aku berusaha bercanda sambil mendorong motornya masuk garasi.
Aku kemudian mengajaknya masuk rumah.
“Sepi amat tempatmu Ko..?” tanya Dian seraya memperhatikan isi ruang tamuku yang memang sangat lengang.

Selain hanya berdua bersama seorang teman yang sedang mengambil kuliah Doktoralnya, ruang tamu itu berisi seperangkat kursi tamu dan beberapa lukisan. Selebihnya kosong.

Kemudian kami bercerita panjang lebar, mulai tentang materi kuliah, sampai mungkin siapa ketua RT di Timtim pun kami bahas. Sekitar setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras, hingga rumah tetangga depan pun sulit terlihat.

“Wah, aku susah pulangnya nih..!” kata Dian sambil berdiri di depan kaca.
“Ya udah, ditunggu saja, nanti kalo airnya habis hujannya berhenti juga.” jawabku.
Lalu aku memasak air untuk membuat teh hangat. Setelah itu, obrolan berlanjut lagi. Nah, pada saat aku menyiapkan teh di meja makan, Dian menyusul. Tidak ada yang menarik untuk aku berpikir jorok terhadapnya.

Pada saat berdampingan itu, aku bertanya kepada Dian, “Di, kamu waktu pacaran sama Ari udah pernah dicium, belum..?”
“Boro-boro disun, dibelai aja belum, ehh bubar.” katanya sambil terus mengaduk teh.
“Kamu mau tahu rasanya dicium..?” pancingku.
Dian hanya memandangku, tapi dengan sorot yang lain. Antara takut, malu, atau entah.. mungkin ingin juga.

Aku lalu memegang kedua tanganya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Dian diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Dian tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Dian membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.

“Di, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Dian kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Dian. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan kemeja yang dikenakan Dian, dan supaya tidak ada protes dari Dian, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Dian mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Dian, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil.

Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang tipis itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Dian terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Dian lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, setengah baju Dian terbuka. Nampak payudaranya sangat putih, namun tidak besar. Aku bahkan dapat memasukkan seluruh payudaranyanya dalam mulutku. Dian hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Dian hanya mampu menggigit-gigit bibirnya.

Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Dian yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Dian akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Dian hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Dian, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Dian. Untung besar pikirku. Besok-besok belum tentu ada kesempatan seperti ini. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Dian, kulot hitam yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Dian yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Dian sudah tidak mampu lagi berkata-kata.Kurasakan gundukan daging di selangkangan Dian lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita. Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Benar pikirku selama ini, rambut kemaluannya sangat lebat. Hanya saja cukup halus dan, terutama, wangi. Ah, rajin juga Dian merawat selangkangnya.

Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Dian semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Dian menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

“Di, mau yang lebih dari ini..?” tanyanku di sela-sela kesibukan menjilati kemaluan Dian.
“Mau diapain Ko..?” tanya Dian pasrah.
“Aku takut..” sambungnya.
“Enggak pa-pa kok, enggak bakal sakit.” kataku.
“Aku jamin lah, nggak bakal sakit. Aku tidak bakal memperkosamu.” sambungku lagi.

Lalu Dian kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Dian kecil dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Dian menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Saking lebatnya rambut kemaluan Dian, terpaksa kusibak dengan jari lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Dian. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Asin tapi sungguh sangat merangsang kelakianku.

Aku sebenarnya tersiksa, karena kemaluanku sakit terhimpit di dalam celana jeans-ku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku tidak boleh menyakiti Dian. Sudah janji.

Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Dian, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.

“Ohh, Ko.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung hujan lebat, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Dian orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Dian orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula. Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.

“Di, baru kali ini ngerasain seperti ini..?” tanyaku.
“He eh..” sahutnya.
“Itu namanya orgasme.., beruntung lho kamu ngerasain seperti tadi.” sambungku.
“O.. orgasme itu kayak itu..?” sahutnya lagi dengan wajah kemarahan seperti kepiting rebus.
“Gimana, enak nggak..?” tanyaku.
“Ngg.. not bad..!” jawabnya menggodaku.
Padahal aku sangat sangat yakin, dibandingkan hidangan yang pernah disantapnya, orgasme yang barusan dialaminya jauh lebih nikmat.

“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Ko..!” erang Dian saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Ko. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, tapi kemaluanku sangat sakit tergencet dalam celana.
“Di, biar fifty-fifty, kamu harus lihat punyaku.” kataku sambil mengeluarkan meriamku yang segera megacung tegak di hadapan Dian.

Dian agak kaget melihat batang kemaluanku telah mengacung sedemikian rupa di hadapannya. Aku yakin, itu pertama kalinya Dian melihat batang kemaluan pria dewasa secara langsung.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan batang tersebut ke arahnya.
Dian menerima batang itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat batangku berada dalam genggaman Dian. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

“Apa semua laki anunya bisa segede ini..?” tanya Dian.
“Wah, kamu belum tahu aja, kalo Negro bisa 30 centi, hitam, dan gede.” kataku sambil menikmati usapan dan belaian tangannya.
Dian kemudian tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya tanpa penutup. Ia mengatupkan kedua kakinya rapat-rapat. Lalu mencari celana dalamnya yang dari tadi teronggok di lantai.

“Please.., jangan dipakai dulu dong CD-nya..!” pintaku.
“Punyaku kan belum diapa-apain..” kataku lagi.
“Emang ini diapain, Ko..?” tanya Dian.
“Terserah lah, asal tidak dipotong..!” kataku lagi.
Dian kemudian kuajari mengocok batang tersebut perlahan-lahan. Nikmat sekali.

“Kalo mau, ini masukin aja di mulutmu..!”
“Ah.., enggak ah..!”
“Ya nggak pa-pa sih, tapi khan biar adil. Punyamu tadi kan juga pake mulut.” kataku.
Akhirnya meski agak jijik, Dian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Dian tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.

“Di, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung batang kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Dian yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Dian.. ohh..!”
Dian tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.

“Di, udah.. sakit..!”
“Itu namanya sperma, kalo masuk ke punyamu dan pas waktunya, bisa jadi junior.” kataku.
Dian mendengarkan hal itu tetapi lebih sibuk mencari kulotnya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai.

Setelah sekian waktu, Dian keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum.
“Hujannya udah reda, aku mau pulang. Capek..!” kata Dian seraya membereskan barang bawaannya.
“Di, kalo kamu suka sama apa yang kita kerjakan tadi, besok kalo kamu pingin, kamu pake jaket dan segera ke sini waktu kuliah pertama selesai.” ajakku kepada Dian.
Dia hanya diam saja sambil menatap ke arahku.

“Tapi, kalo kamu tidak suka, oke, aku minta maaf. Aku janji tidak akan ngasih tahu siapa pun.” kataku kemudian.
Dian tetap diam dan tanpa berkata-kata, aku terpaksa mengantarkan Dian hingga keluar dari halaman rumahku.

Keesokan harinya, aku sengaja telat ikut kuliah pagi. Selain malas, dosennya juga membosankan. Sambil masuk dari pintu belakang, aku mencari-cari wanita kurus dengan rambut panjang. Ternyata Dian berada di kursi paling depan, bersebelahan dengan teman-teman sekelompoknya (yang sebenarnya manis-manis, tetapi menurut beberapa kalangan, mereka sombong dan sering berlagak paling pintar). Tapi aku tidak ambil pusing. Yah, mereka toh tidak pernah konflik dengan diriku, dan yang jelas, siapa tahu aku dapat meniduri salah satu dari mereka (hahaha).

Ketika kuliah selesai, aku sengaja tidak segera beranjak keluar ruangan, tapi menunggu Dian. Bayangkan.., ternyata Dian mengenakan jaket. Wah, pertanda apa nih, pikirku.
“Hai Dian..” sapaku yang dijawab Dian dengan senyumnya.
“Kamu pake jaket yah..?” kataku lagi seperti orang bodoh.
“Emang nggak boleh..?” jawabnya lagi.

Seperti yang sudah kami sepakati, kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Namun, begitu keluar parkiran dengan kendaraan Dian, dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Budenya (yang sudah lama menjanda, dan tinggal di kota yang sama). Sesampai di sana, aku agak heran ketika rumah tersebut sepi.

“Kok sepi Di..?”
“Iya, Bude lagi pergi ke Solo, ada saudara yang sakit.”
“Lha, trus rumahnya yang jaga siapa..?”
“Sebenarnya ada pembantu, tapi dia ijin pulang kampung dua hari, jadi aku yang terpaksa jagain nih..!”

Begitu pintu garasi kututup, kemudian barang bawaan sudah kuletakkan di meja, langsung Dian kupeluk, bibirnya yang penuh kulumat. Dian tidak diam saja, berbeda seperti kemarin, kali ini Dian membalas pagutan dan kuluman lidahku. Sambil melumat bibirnya, tanganku tidak diam saja, tapi mulai bergerilya, mengelus dan memeras payudaranya, dan sesekali mengusap selangkang Dian. Dian melakukan hal yang sama, dia mengelus kemaluanku yang otomatis kejang dan kaku sekali.

Ah.., nikmat sekali setiap belaian dan usapan tangan Dian di selangkanganku. Tidak tahan hanya demikian, aku segera melepaskan ziper dan melepaskan celana panjang beserta celana dalamku, hingga batang kemaluanku lepas dari siksanya. Batang kemaluanku sepanjang 20 cm itu segera dikocok Dian dan diremas dengan mesra. Tanganku tidak diam juga, karena blouse dan celana panjang Dian segera teronggok di lantai. Bra krem dengan sekali jentik segera terlepas dari punggung Dian.

Aku kemudian jongkok di hadapan Dian, mengamati gundukan daging di selangkangnya yang masih terbungkus celana dalam satin berwarna merah muda. Sepertinya Dian sengaja menyiapkan dirinya. Bulu-bulu halus yang kemarin kusaksikan, kini sudah lebih teratur, tidak mencuat di sana sini dan keluar dari sisi-sisi celana dalamnya.

Aku menghirup udara di depan kemaluan Dian dalam-dalam. Wah.., harum.. Dan dengan sekali rengkuh, sisa kain terakhir di tubuh Dian lenyap. Aku kemudian membimbing Dian ke sofa di ruang tamu. Membuka kedua kakinya untuk lebih mengangkang. Kemudian kususupkan kepalaku di antara pangkal pahanya. Lidahku menyapu seluruh permukaan vagina Dian, yang tidak lama kemudian basah. Cairan asin dan lembab membasahi kemaluannya.

Dian hanya merintih kecil saat ujung lidahku menyapu vaginanya. Kadangkala dia terpekik, saat dengan penuh perasaan bibir vaginanya kusedot atau ketika ujung lidahku menusuk ke lubang kemaluannya yang terus menerus mengeluarkan cairan. 5 menit aku memperlakukan Dian seperti itu, kadang dengan cepat lidahku menyapu, kadang dengan sedotan-sedotan dan kecupan.

Dian mendelik dan kakinya mengejang. Tangannya menjambat rambutku. Wah.., Dian pasti sedang orgasme, pikirku. Aku kemudian menghentikan aktivitasku beberapa saat, untuk menenangkan Dian. Setelah reda, aku lalu berdiri, mengangsurkan batang kemaluanku yang mengacung penuh. Sebenarnya agak sakit kalau si penis ini bangun dengan kekuatan penuh seperti ini.

Dian menerimanya, mengusap perlahan lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Awalnya hanya dikeluar-masukkan tanpa hisapan. Namun perlahan-lahan, Dian mulai menikmati dan memperlakukan batang penisku seperti menghisap permen lolipop. Dikecup, dihisap dan dengan kecepatan tinggi keluar masuk mulutnya. Meski sudah berusaha keras, tapi ukuran penisku yang lumayan itu tidak mampu masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tapi cukuplah untuk membuatku merem melek merasakan nikmat yang oke punya ini.

Meski Dian sudah mendorong maju dan mundur kepalanya, aku tetap mendorong pantatku maju mundur sambil memegang rambutnya. Ahh.. nikmat sekali.
“Dian, kamu cepat bisa ya..!”
“Heeh.. mmhh.. shh..” jawabnya.

Kemudian aku mengangkat Dian untuk rebahan di sofa, tentu dengan kaki yang full mengangkang. Wuih.., indahnya itu vagina. Merah muda dan mengkilap. Tidak kusia-siakan kesempatan yang tidak mungkin ada tiap hari itu. Aku kembali melumat bibir Dian bagian bawah itu, gurih dan mulai basah lagi. Sapuan-sapuan lidahku ditanggapi Dian dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya dia sangat menikmati permainanku.

Sambil mencuri kesempatan, aku menyusupkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yang merekah. Dian terus merintih keenakan, tapi dia tidak menyadari salah satu jariku kini sibuk mengorek-ngorek vaginanya. Lalu aku bangkit, dan dalam posisi jongkok aku mengarahkan kepala kemaluanku ke depan lubang vaginanya. Dian tersentak kaget.
“Jangan Ko.., jangan dimasukin, aku masih perawan..!”

Tapi aku yang sudah gelap mata dan berpikir kapan lagi kesempatan seperti ada lagi, tidak perduli. Dan dengan sedikit memaksa, perlahan ujung kemaluan itu masuk, sesekali kutarik, lalu kutekan kembali. Dian menggigit bibirnya dan meringis, mungkin benar-benar sakit. Untuk mengatasinya, aku mengulum payudaranya sambil menekan batang penisku masuk lebih dalam. 2 cm, kemudian kucabut lagi, lalu kutekan, 5 cm, begitu seterusnya, sampai setengah batang itu masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Dian meraih punggungku, dan kuku-kukunya menancap erat. Sakit juga ketika aku menekan dengan keras pinggulku ke bawah untuk menusuk lubang kemaluan Dian. Seiring dengan itu, di ujung batang kemaluanku, aku merasa telah menembus sesuatu. Wah.., selaput dara Dian akhirnya berhasil kuterobos.

Dian masih setengah menjerit, namun dengan perlahan dan pasti aku mendorong keluar masuk batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang menjadi basah sekali.
Lama kelamaan, Dian mulai ikut mengoyangkan pinggulnya. Wah, dia mulai menikmati.
“Ahh.., terus Ko..! Aaghh.., sshh.. shh..!” erang Dian berulang-ulang.
Tangannya merangkulku erat. Aku mempercepat gerakan menusuk.., mencabut.., berulang-ulang.

Tidak lama, “Oohh.., aaghh.., aduhh Ko, Aku nggak kuat..!”
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia orgasme hebat sekali. Aku juga tidak mampu lagi menahan diri, dan kurasakan sesuatu yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Akhh.. oohh..! Di.. keluarin di dalam atau di luar..?” tanyaku bodoh, karena saat itu Dian masih meratapi orgasme yang sebenarnya dalam hubungan seks sesungguhnya.
Dan tidak dapat ditahan lebih lama lagi, jebol sudah pertahanan. Banyak sekali batang kemaluanku menyemburkan sperma. Dan sialnya, tidak terkontrol karena semua tumpah di dalam vagina.

Batangku tertancap sempurna ketika semburan sperma meledak. Bingung aku ketika seluruh sperma sudah tuntas kumuntahkan. Wah, ini anak kalau hamil, mati aku. Aku lalu berbaring di samping Dian yang masih terengah-engah. Saat aku melirik ke bagian bawahnya, tampak cairan putih mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya, bercampur dengan bercak-bercak merah. Di pelupuk matanya, masih ada air mata yang makin lama semakin banyak. Aku tahu, Dian pasti menyesali hilangnya keperawanannya.

“Nggak pa-pa Say. Aku akan tanggungjawab.” kataku mencoba menghiburnya sambil memeluk dan mengecup dahinya.
Kami lalu tertidur kelelahan dan bangun beberapa jam kemudian.

Sejak saat itu, aku agak segan untuk bertemu langsung dengan Dian hingga beberapa hari kemudian. Yang kuperhatikan adalah kegiatan Dian di kampus. Biasanya Dian rajin, dan kira-kira dua minggu sejak kejadian itu, Dian tetap berada di perpustakaan jurusan (yang relatif lebih kecil daripada perpustakaan fakultas) padahal beberapa teman lainnya sedang belajar.

Beberapa teman lainnya ada yang mengajak Dian untuk belajar bersama, tapi ditolaknya. Sempat kudengar kalau Dian mengatakan sedang halangan. Wah.., mendengar hal itu agak lega juga aku. Kemudian kudekati dirinya yang menanggapiku acuh tidak acuh. Aku tahu kalau dia masih marah.

“Sorry Dian, kamu nggak apa-apa..?”
Kemudian dia mau ketika kuajak keluar ruangan. Di kantin yang kebetulan sepi, Dian menangis sesengukan. Ternyata Dian marah karena aku telah merenggut keperawanannya dan dia bingung bagaimana kalau hamil. Setelah menjelaskan dengan segombal-gombalnya, Dian mau sedikit tersenyum.

“Tapi, gimana rasanya Di..?” tanyaku.
“Engg.., enak sih..” jawabnya malu-malu.
“Kalo kita buat lagi gimana..?” pancingku.
“Tapi nggak mau kalau dimasukin. Takut Ko..!”

Sejak saat itu, kami sering ke kostku atau ke tempatnya untuk saling melumat dan mengoral. Sesekali aku masih dapat memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya, tapi ketika ejakulasi aku mengeluarkannya di luar. Bisa di perutnya, dadanya, dan lebih gila, di wajahnya.

TAMAT

Derita Nafsu Seorang Isteri Yang Ingin Dipuaskan

Dunia internet adalah dunia yang mengasyikkan sekaligus dunia yang maya. Kita bisa mengetahui semua situs dengan bebas. Terutama dunia porno, berbagai jenis ras manusia dapat kita ketahui seluk beluk dan lekuk tubuhnya. Dunia chatting tidak kalah hebatnya dengan itu semua, kita bisa ngobrol dengan orang-orang sesama pengguna MIRC di seluruh dunia.

Suatu sore, saya iseng-iseng chatting karena memang sudah lama saya tidak masuk di arena itu. “Malampanjang” adalah nick yang sering saya gunakan dan biasa memasuki line DALnet.
Sambil santai menghisap rokok, saya mulai iseng berkenalan dengan orang-orang sesama MIRC-is. Sebut saja nicknya “Mahon_f”, salah satu teman baru MIRC saya. Setelah ngobrol ke sana kemari, dia menyebut diri anak Semarang dan baru setahun tinggal di sana, jadi bahasa Indonesianya agak kaku. Tetapi anehnya, bicaranya rada-rada berani dibanding cewek lainnya, setelah ditelusuri, dia adalah anak bule dari USA. Bapaknya hijrah kerja di Semarang. Aku minta juga pic-nya dan langsung dikirim lewat DCC. Lumayan juga orangnya, agak montok, rambut pirang, ikal dan cantik. Hanya kulitnya merah karena kebanyakan kena sengat matahari.Nggobrol lama dan akhirnya aku mulai iseng untuk mengetahui kehidupan seksualnya. Ternyata dia termasuk orang yang menganut free sex.

Aku minta no telponnya dan membuat janji dengannya untuk bertemu. Aku adalah anak Yogyakarta yang kuliah di Politeknik Negeri di Bandung, jadi harus jauh-jauh kesana dulu untuk bisa bertemu dengannya. Sedangkan dia masih kuliah di sebuah universitas swasta di Semarang. Akhir bulan aku pulang dan mampir ke Semarang untuk bertemu dengan Mahony (nama dia). Aku naik bus dan sampai disana kira-kira pukul 4 sore, lalu aku telpon dia supaya menjemputku.
Vitara metalik datang menghapiriku yang isinya dua orang bule muda yang cantik-cantik.
“Kamu malampanjang yaa..?” sapa dia sambil melempar senyum, membuat otakku tidak karuan menjawabnya.
“Benar dan Kamu Mahony ya..?” balasku.
“Iya, apa khabar malam panjang..?” sapa dia.
Dada ini bergetar juga melihat gaya pakaiannya yang bersinglet ketat dan celama jeans rombeng sobek di lututnya.
“Ayo masuk..! Dan ini.., kenalkan kakakku, Garrel..” kata dia.
Kami bersalaman, sambil melapas kaca mata hitamnya dia memperkenalkan namanya.
“Hallo.. Aku Garrel, nama Kamu siapa..?” tanya dia.
“Aku Harris (samaran).” balasku sambil bersalaman.

Aku masuk ke dalam mobil dan berangkat karena sudah mengundang banyak mata memadang ke arah kami. Si Mahony pindah ke belakang menemani aku di belakang, sedangkan kakaknya gantian mengemudi mobil.
Berjalan melintasi tugu muda dan simpang lima, lalu entah ke mana aku tidak tahu arah karena asyik ngobrol dengan si Mahony. Dia banyak menceritakan tentang situasi kota Semarang yang terlalu panas dan tentang teman-temannya disini. Mahony orang yang supel dan cuek, jadi tidak terlalu kaku bicara dengan dia walaupun kadang bicaranya dicampur dengan bahasa Inggris.
Setelah lama berkeliling Semarang, akhirnya sampai di sebuah rumah besar di perumahan elite Semarang. Kami disambut oleh seorang wanita bule setengah baya yang berbahasa Indonesia dengan fasih. Itu adalah Ibunya Mahony. Dimana di rumah itu hanya tinggal orang tua Mahony, dua orang anaknya dan tiga orang pembantu. Kami bertiga ngobrol seperti sudah kenal lama saja, padahal kami beru bertemu.

Malam hari tiba dan aku dipaksa untuk menginap dan tinggal disana, aku sih baik-baik saja, lagian disuguhi dengan kulit-kulit mulus setiap saat. Aku tidak kuat, kemaluannku terus menegang melihat itu semua, serta nafas yang tidak beraturan karena otak kotorku sudah dipenuhi bisikan-bisikan nafsu dari sang iblis.
Aku pamit mandi, kesempatan itu tidak aku sia-siakan dengan melepaskan hasrat dengan beronani. Kamar mandi yang besar, lengkap dengan bak mandi tidur dan sebuah kaca besar di seberang. Tanpa komando, aku langsung melepas baju dan celana. Membasahi tubuhku dengan air hangat sambil mengocok batang kemaluanku perlahan. Berinspirasi membayangkan si Mahony dengan payudara yang menggantung indah dan Garrel tanpa selembar benang pun. Perlahan kukocok sambil memejamkan mataku.

Tanpa sadar, sebuah tangan yang halus memegang pinggulku, terbelalak aku buka mata, terpana dan tidak bisa bergerak, Mahony sudah di depan mataku sambil tersenyum memegang handuk.
“Waduh ketahuan nich..!” bisikku dalam hati.
“Kamu lupa mengunci pintu, Haris..” katanya tersenyum.
Suara yang lembut membuat jantungku berdegup kencang. Rupanya Mahony datang membawakan handuk buatku, dan sekarang dia mulai melepaskan baju singlet ketatnya. Seribu sumpah serapah keluar dalam batinku mengagumi keindahan tubuh moleknya. Tanpa berkedip dan nafas tidak beraturan, aku melihat pemandangan indah itu. Si Mahony secara perlahan membuka singletnya dan celana jeansnya. Hanya tinggal bra (36) dan celana dalamnya saja yang tersisa. Begitu mulus nan indah.
Perlahan dia merangkulku, sejuta maki ketidakpercayaan berkecamuk di dalam dada. Mencium lembut bibirku, aku hanya terdiam sebab belum pernah aku melihat bule berbugil ria di depanku, kecuali di dalam film BF yang sering aku toton.
“Kenapa Kamu, Haris..?” tanya dia membuyarkan lamunanku.
“Ehh.. ee.. tidak apa-apa kok.., ntar kalo ketahuan Ibu kamu gimana..?” tanyaku.

“Tidak apa-apa, dia baru tidur di kamarnya..” jawabnya.
Inilah kesempatanku, batinku mendukungku terhadap semua ini. Aku balas kecupan bibirnya dengan lembut, berpanggut dan terus berpanggut. Tanpa sadar, ritme kecupan kami menjadi cepat, mungkin karena nafsu kami yang sudah mulai berkobar. Bunuh aku dengan api nafsumu, hancurkan, lepaskan dalam semua kegirangan ini. Lama kami berpanggut di bawah siraman air dan uap hangat. Sampai aku beranikan diri membuka tali BH-nya, kini tampaklah sebuah gunung kembar menjulang dengan penuh gairah. Segera kusambut dengan usapan terlembutku.
Kuremas dan kuresapi apa yang ada di dalam payudaranya. Aku kecup leher, dadanya dengan perlahan sambil tanganku meremas pantatnya. Putting yang tampak menantang dengan warna merah tua tampak menggoda dengan jemari lentiknya. Aku permainkan lidahku di seputar putingnya, melingkar, gigitan kecil menghiasi kulit mulusnya.

“Aahh.. sshh.. aahh..” rintihnya ketika lidahku mengenai ujung putingnya.
Aku hisap putingnya dan aku putar-putar dengan lidahku, sambil sesekali bergerak ke samping tubuhnya, rusuk, dan punggung. Aku memang suka menjilati tubuh lawan mainku sampai benar-benar basah seluruh tubuhnya dengan lidahku.
Perlahan aku turun ke arah perut, pantat, paha, betis lalu naik lagi ke arah selangkangannya. Aku tidurkan dia di lantai kamar mandi, sambil aku angkat kedua kakinya hingga terkuak kini selangkangannya. Benar-benar indah vaginanya yang tanpa sebatang bulu pun menumbuhinnya, berwarna merah dengan klitoris yang sedikit menyembul. Aku urut dengan lidahku sepanjang pahanya menuju ke atas, berhenti di pinggir selangkangannya. Sambil aku remas-remas payudaranya, kuputar-putar lidahku di sekitar bibir kemaluannya, wangi dan sangat basah. Rupanya dia sudah terbakar nafsu emosi akibat cumbuanku. Dia terus meremas payudaranya sambil mendesah tidak karuan.

Perlahan aku jilat ujung klitorisnya yang berwarna merah merekah, jilat dan jilat.
“Aahh.. shh.. ooh.., Haris.. shh..” desahnya mengencang.
Kujilati terus klitorisnya dan sesekali kukorek isi vaginanya dengan lidahku. Kubuka pinggir vaginanya dengan kedua tanganku, lalu kujilati bagian dalam vaginanya, kutusuk dengan lidahku sampai benar-benar basah dengan cairan hangat vaginanya. Aku lihat dia memejamkan mata sabil mendesis keras disertai dengan kata-kata berbahasa Inggris yang aku tidak mengerti artinya. Kadang menjambak rambutku disertai dengan lolongan panjang dan menekan kepalaku ke arah liang senggamanya dan mengangkat pinggulnya, aku tidak tahu apakah dia sudah ejakulasi atau belum, aku tidak perduli, aku terlalu sibuk dengan vagina indahnya.

Tiba-tiba dia bangun dan membalikkanku dengan posisi telentang. Dengan liar dia kecupi dada dan putingku, hal itu tentu saja membuatku terbang dan meratap, sebab memang putingku adalah daerah “rawanku”, sambil aku sendiri mengocok batang kemaluanku yang terus menegang. Di kangkanginya tubuhku sambil dituntunnya kemaluanku ke arah vaginanya.
“Bllueess.. ss..” terasa nikmat sekali setelah beberapa bulan aku menahan gejolak nafsuku.
Terasa menggigit dan hangat di dalam vaginanya. Dia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun, aku sungguh menikmatinya.
Buah dadanya yang naik turun menciptakan sebuah pemandangan yang erotis bagi mataku. Tubuhku bergoncang hebat oleh karena goyangannya. Bagai kerasukan iblis seks, dia bergerak dengan tidak karuan, mendongak ke atas ke kiri dan ke kanan. Oohh.. aku sungguh terpuaskan. Aku coba melihat ke arah kaca kamar mandi, oohh.. pamandangan yang mampu mambuatku terangsang sendiri oleh karena tingkah liarnya.
“Clep.. clep.. clepp..” suara bibir vagina bertemu dengan pangkal batang kejantananku di sertai dengan air hangat.
Kulepaskan dia dan gantian aku yang berada di atas. Dengan posisi batang kejantananku yang masih menancap erat di vaginanya, aku mulai menggoyangnya dengan irama teratur, buah dadanya bergerak-gerak naik turun.
“Ahh.. ahh.. nikmat Hariss.. oh yes..!” desahnya yang membuat nafsuku terbakar hebat.
Kukangkangi dia di atas dengan posisi duduk, dengan batang kemaluanku yang masih tercepit, kurapatkan kedua kakinya, lalu aku mulai menggoyang. Dia mulai bergelinjang lagi sebab posisi itu begitu menekan vaginanya untuk bergesekan dengan batang kemaluanku.

“Clepp.. clep.. clep.. cleepp..” disertai erangan kenikmatan keluar dari bibir kami.
Posisi tersebut tentulah sangat kuat menggesek klitorisnya, sambil tanganku meremas buah dadanya. Ooh.. betapa nikmat dosa ini.
“Aaahh.. ahh.. ooh.. ooh.. I am coming.. I am coming.. oohh.. oohh.. aahh.. aahh..” desahnya liar.
Sesaat berikutnya, dia mulai berkelojotan dengan jari yang meremas kuat pundakku, hingga menimbulkan luka gores yang pedih, hal itu justru menambah nilai kenikmatan tersendiri setelah nanti berhubungan intim dengannya.
Aku berganti posisi dengan menggangkat satu kakinya ke atas, sehingga dia berposisi miring, sedangkan aku dengan leluasa melihat batang kemaluanku keluar masuk ke vaginanya yang sudah sangat bajir, berkilat-kilat oleh cairan vaginanya yang memerah dan merekah. Kugoyang terus sampai keringatku pun berjatuhan di pahanya. Bayangan yang tercipta di kaca kamar mandi sungguh terlihat indah, bagai dua mahluk yang terlibat pertempuran sengit. Saling menindih dan saling mengerang kenikmatan.

“Clep.. clep.. cllepp.. ahh.. ahh.. sshh..” suara yang bergema di kamar mandi tersebut.
Beradu dengan gemuruh nafsu di dalam dada ini, keringat pun berjatuhan di perut dan dada Mahony yang berkilat karena mulus kulitnya. Hingga pada akhirnya, sesuatu yang akan meledak bergerak turun dari dalam perut bawahku. Kugoyangkan dengan keras dan irama tempo yang sangat cepat agar kenikmatana itu dapat kuraih bersamaan dengannya.
“Aahh.. ah.. ahh.. oohh.. oohh.. aahh..” desah panjangnya.
Dia keluar untuk yang kedua kalinya dan aku pun dengan mata terpejam berusaha menghancurkan lubang vaginanya dengan sperma yang akan keluar menyembur ke vaginanya.
“Aaahh.. aahh..” desahku mengimbangi semburan spermaku.
“Crroott.. ccrroott.. ccrroott.. sseerr.. serr..” banyak sekali sperma yang keluar menyembur di daerah perut dia.
Tiba-tiba Mahony memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil di kocok.
“Aahh..” membuatku melayang, ditelannya sperma yang keluar dari batang kemaluannku, dijilati sampai terasa linu batang kejantananku.
“Eemm.. srruupp.. srrupp.. ahh.. sshh.. shh..” desisnya.
Aku bersandar pada dinding kamar mandi dengan nafas tidak baraturan seakan mau pacah rongga dada ini. Turut pula dia bersandar di perutku sambil terus menjilati kemaluanku.
Dikecupnya bibirku sambil berucap, “Thanks..!”
Aku hanya terdiam tanpa bisa berkata-kata oleh karena nafasku yang memburu.

Beberapa saat kemudian, aku mandi dengannya di shower sambil bercanda dan tertawa, dan malam harinya, babak kedua terus berlanjut karena dia menyusul ke kamar tidurku. Hingga larut, kami masih bercengkrama dengan nafsu kami sampai tertidur dengan tanpa memakai selembar benang pun.
Pagi yang indah menyambutku dengan sebuah kecupan hangat di kening. Sambil beranjak dari tempat tidurku, dia menenteng celana dalamnya yang belum terpakai semalam. Siang itu, aku pulang ke Bandung, dengan diantarkannya sampai terminal Semarang. Kami berpisah dengan lambaian tangan dan sebuah kecupan panjang bibir di dalam mobil. Sebelumnya, dia memberikan alamat e-mailnya dan berharap aku tidak melupakan kenangan yang kami lakukan berdua.

Beberapa hari kemudian, aku membuka e-mailku. Sebuah e-mail manis dari Mahoney disertai dengan kartu ucapan selamat pagi yang indah, membuat hatiku bersorak gembira. Isi tulisan terakhirnya, “Kapan Kamu maen ke Semarang lagi..?”
“Ha.. ha.. ha..” dalam hati aku tertawa, apakah ini nyata..?
Yang pasti, kutelepon dia malam harinya dan dia mengharapkan aku untuk main dan bermalam lagi di rumahnya, di Semarang.

Mamaku Di Entot Tukang Kebun

Kisah ini adalh kisah yg kuceritakan tentang gairah mama.Usiaku saat ini memasuki 22thn.Aku akan menceritakan pengalaman nonton bokep langsung didepan mata pada saat usiaku memasuki 18tahun.Waktu itu mama masih berumur 50thn.Loh pasti dah tahu gimana kalau cewek memasuki penuaan,pasti gairahnya penurun dan penampilanya berkurang.Tapi hal ini tdk terjadi pada mamaku.
Ntah kenapa,semenjak aku kelas 6sd mama mengikuti fitnes dan aktivitas lainnya.Fitnes itupun masih berlanjut hingga aku tamat sma,tapi agak berkurang karena papa tdk sepertinya tdk suka melihat mama dekat dengan om fandy,seorang intruktur fitnes dan juga seorang dj.Aku tdk tahu sampai mama hubungan mereka,tapi kayaknya udah sampe ranjang,soalnya aku pernah memergoki mama sama om fandy berduan diruang tengah.Badan mereka sama2 basah,daster mama juga kusut dan rambut mama berantakan.Waktu itu aku kelas 2SMP.Dan waktu papa pergi kepapua selama 3hari,mama mengajak om fandy tidur dirumah tanpa sepengetahuanku.Yg kutahu mama pulang jam 11malem dengan memakai gaun dada rendah yg teramat sexy menampakan pugungnya.Dan paginya,om fandy mengantarkan aku kesekolah,selama 2hari aku hanya pura2 bodoh sama mama dan om fandy.Setahun kemudian,tepatnya aku kelas 3 smp,mama sdh jarang ketemu om fandy.Mama lebih sering bergaul dengan ibu2 tetangga.Baiklah cukup ceritanya,akan kuceritakan pengalamanku sewaktu sma.
Setiap bulanya,mama mendapat jatah 2jt dari papa untuk membeli kebutuhan rumah tangga.Karena papa mendapat tugas kerja diluar pulau,tepatnya di p.xxxxx mama meminta papa untuk mencarikan tukang kebun yg merawat kebun kami sama mama,dan juga sebagai seorang penjaga.Akhirnya,dapatlah seorang tukang kebun yg dan penjaga yg mendapat tempat tinggal digudang belakang.Namanya sahrul,pak sahrul kalau siang menjadi tukang becak.Dia adlh seorang bapak 58thn,badanya masih sehat,istrinya tinggal bersama anaknya dikampung yg tak jauh dari kota kami.Pak sahrul mempunyai sifat pendiam dan baik hati.Tapi ternyata,pah sahrul mempunyai nafsu yg cukup tinggi.Dikamarnya,terpampang sticker dan majalah bokep.Tak disangka.Kejadian ini bermula diseminggu pak sahrul di rumahku.Setelah kuperhatikan,kayaknya pak sahrul mempunyai nafsu yg tinggi terhadap mama.Aku melihat dia selama 3hr berturut-turut memandangi mama secara tajam.Mungkin karena tdk pernah lagi dijamah,sampai2 aku melihat dia beronani dan menumpahkan di bh mama yg terjemur didepan kamarnya.Aku hanya mendiamkan kelakunya.Mama pun sepertinya tdk menghiraukan keberadaan pak sahrul,mama malah lebih sering memakai daster 1tali,nampaklah ketiak mama dan tonjolan teteknya dibalik daster yg menyembul keluar.Dan juga mama duduk mengakang ditaman bunga belakang yg mengadap ke wc pak sahrul,ketika itu pak sahrul lagi mandi.Mama jg tdk mengetahui pak sahrul melihatnya,dari sudut kanan dibalik tumpukan barang,pak sahrul sedang asyik mengocok zakarnya yg hitam besar.Pada malam jumat,aku dan mama lagi makan malam sama-sama.Beberapa saat kemudian,pak sahrul datang.Selesai makan malam,aku berbincang dengan mama dikamar mama.Saat itu mama mengenakan daster 1tali tanpa tangan,mama juga gak pake bh.Jadi nampak jelas putingnya yg menempel didaster.Tiba2 aku tertidur dikamar mama.Aku terbangun jam 10 ketika akan kencing.Kulihat mama tak berada disampingku.Setelah kencing aku keluar dari kamar mama.Saat berjalan menuju kamarku.Aku mendengar suara mama dengan pak sahrul diteras taman belakang.Ternyata pak sahrul sedang memijit pundak mama.Saat itu pak sahrul hanya mengenakan kaos dan sarung.”trus pak…enak..lebih keras pak..”kata mama.Karena sangat ngantuk aku masuk kekamar.Terpikir olehku,apa yg terjadi jika pak sahrul memperkosa mama.Karena ketakutanku.Aku kembali keluar.Aku kembali mengintip dari balik jendela dapur.Situasi masih seperti tadi.Tangan pak sahrul secara perlahan menjatuhkan tali daster mama yg kanan.Mama masih memejamkan matanya menikmati pijatan pak sahrul.Lalu tangan kiri pak sahrul menepikan tali daster mama yg kanan.Dan akhirnya tali itu jatuh sendiri.Secara spontan tangan pak sahrul langsung meremas kedua tetek mama yg besar dan padat itu dan mulutnya mencium bibir mama.Mama mencoba melawan,tapi kedua tanganya sudah dalam pelukan tangan pak sahrul yg meremasi payudara mama.Mama juga menggelengkan kepalanya agar lepas dari bibir paksahrul.Tapi apa dikata,mama tidak bisa melepas bibir pak sahrul dari mulutnya.Tangan pak sahrul pun kini mempijit-pijit puting susu mama.Mama terkulai lemas dan menikmati cumbuan pak sahrul.”kamu cantik sekali..”puji pak sahrul melepaskan ciumannya dan mencium pipi mama.Kemudian bibirnya pindah ke payudara mama.Tukang becak itu menjilati puting mama dengan lahapnya.”akh..pak…sudah..Akh..shh”desah mama berulang kali.

Pak sahrul semakin lahap menikmati payudara mama setelah payudara itu mengeluarkan air.”wah..ibu masih bersusu..”katanya sambil menghisap pentil mama.”pak..sdh..oh…”mama terus mendesah.Lama klamaan,mama akhirnya menikmatinya.”trus..pak..sshhss trus..”kata mama.Mendengar perkataan itu,pak sahrul menghentikan kegiatanya.”kok..berhenti pak.”tanya mama.”jangan disini ada anakmu…”jwbnya.Lalu pak sahrul menggendong mama kekamarnya.Sampai dikamarnya.Pak sahrul tinggal mengenakan sarung.Sementara daster mama masih tersangkut menutupi selangkangan mama,mama telentang ditempat tidur pak sahrul.Kemudian pak sahrul mengikat tangan mama dengan kain panjang disisi tmpt tidur.Pak sahrul kembali mencipok mama.Mama hanya memeramkan matanya.Lidah tukang becak itu turun sampai pada puting mama.Dia menjilatinya seperti anak bayi.”pak..sakit..akh..”desah mama sambil menggoyangkan badanya.Pak sahrul semakin melahap tetek mama.Tanganya memplintir puting mama hingga mengeras.Payudara memerah bercak tangan pak sahrul yg meremas payudara mama.Kemudian pak sahrul mengambil jepitan rambut wanita yg ada dilacinya.Dijepitnya kedua puting mama dengan jepitan itu.Mama lantas berteriak kecil.”akh..sshhh..pak..sakit..lepaskan pak..”kata mama.”jangan byk bergerak entar semakin sakit”kata pak sahrul.Pak sahrul kembali menempelkan mulutnya dipayudara mama.Ternyta pak sahrul ingin mengeluarkan dan merasakan susumama lebih banyak.”pak..oh..sakit..”kata mama berulang kali.Pak sahrul semakin menghisap dengan tajam puting mama secara bergantian.Nampak wajah puas pak sahrul setalah melepaskan penjepit rambut itu dari puting mama.Kemudian pak sahrul menurunkan daster mama.Nampaklah tonjolan vagina mama yg berbulu lebat ditutupi cd hitam.Tanpa pikit lagi,pak sahrul menurunkan cd mama sekaligus.Wah udah lama aku gak melihat vagina mama.Jembut mama kini semakin lebat dari 1bulan yg lalu.Wajah pak sahrul sepertinya kurang suka melihat vagina mama.”ayo pak..siksa aku..kayak..tadi..rangsang pak”kata mama.Kemudian pak sahrul menggesakan tanganya dijembut mama.”akh..”teriak mama ketika pak sahrul mencabut 4helai jembut mama.”jelek sekali jembut mu nyonya..”kata pak sahrul.Kemudian pak sahrul membuka lacinya dan mengeluarkan pisau silet cukur.Diambilnya airnya dan dituangnya kemjembut mama.Creek…creek..jembut mama kini sudah agak gundul.”jangan..pak..jangn dipotong..”rintih mama.Ternyata pak sahrul mengukir huruf S divagina mama.Kemudian pak sahrul mengambil kaca dan memperlihatkanya kepada mama.”lihat nyonya…rapikan..”kata pak sahrul.Wajah mama memerah melihat itu.KEmudian pak sahrul menempelkan mulutnya divagina mama.Kemudian lidahnya mencolok-colok vagina mama.”akh..pak. geli..”kata mama.Vagina mama sangat rapet,mungkin karena sudah tdk dijamah sama papa.”sempit sekali bu…”kata pak sahrul.Tangan paksa hrul langsung mencolok-colok vagina mama.Kemudian itil mama dijilat sama pak sahrul.Tak tanggung2,pak sahrul mengisap vagina mama yg agak basah itu.Mama terus mendesah sambil berusaha melepas tanganya yg terikat disisi tempat tidur.Mama melipatkan kakinya dikepala pak sahrul yg menempelkan kepalnya divagina mama.”trus pak..shss”desah mama berulang kali.Mama semakin menekan kepala pak sahrul,”pak..ak mau kelu…ar..tak..taha..”kta mama.Pak sahrul semakin lincah menjilati vagina mama.DAn beberapa saat kemudian,mama menekan kepala pak sahrul dengan kakinya dan tubuh menggelinjang hebat.Mama orgasme untuk pertama kalinya.

Lalu pak sahrul melepas kepalanya dari mulut vagina mama.Lalu pak sahrul menurunkan sarungnya.Penis pak sahrul lebih besar dari punyaku,nampak urat2nya dan jembutnya yg tinggal sedikit.Kemudian dia jongkok diatas dada mama.Penisnya disodoknya kemulut mama.Mama tdk dapat menapung seluruh penis pak sahrul yg panjang.Pak sahrul memejamkan matanya sambil melepas iketan tangan mama.Setelah lepas,tangan mama langsung memegan penis pak sahrul dan mengocoknya.Pak sahrul langsung menghentikan kocokan mama yg dapat membuatnya klimaks.Lalu pak sahrul mengambil sebuah botol yg berisi bir,setelah diteguknya ditumpahanya kebadan mama.”ayo kita mulai nyonya..”kata pak sahrul.Pak sahrul menindih mama yg terlentang dan memasukan penisnya kevagina mama.”akh..pak..”desah mama ketika pak sahrul memaksa penisnya masuk kedalam vagina mama.”akh..shshh..”desah mama.Pak sahrul menggenjotakan penisnya dengan sekencangnya hingga terdengar suara tempat tidur.”akh..pak..oh..sassssh..”desah mama berulnag kali.Tangan pak sahrul memegangi payudara mama agar tdk dari mulut abang becak itu.Sepertinya pak sahrul amat ketagihan dengan payudara mama.Mungkin karena tdk pernah dijamah oleh biniknya dikampung yg sdh tua.”nyon..ya semakin cantik..”kata pak sahrul memuja mama ketika memandang muka mama yg berkringat dan matanya yg terpejam.”leb.ih..cep..at..pa..trus..”kata mama.
Pak sahrul mempercepat gerakanya dan tanganya kini memegani kepala mama dan mulutnya menahan rintihan mama.”pak..sy..tak..tah an..nehh..”kata mama.”akh…sshhhhhhhhhhs..oh….”desah mama.Pak sahrul menekan penisnya divagina mama dengan dalam2.Mama memejamkan matanya seperti yg dilakukan oleh pak sahrul.Lalu pak sahrul melepaskan penisnya dan membopong mama turun dari ranjang.Kemudian kepala dan leher mama diletakan ditepi tempat tidur.Sementara pinggul mama ditunggingkan.Ternyta pak sahrul ingin mendogie mama.”akh..oh..pak..”kata mama ketika pak sahrul menggesekan kontolnya di memek mama.”akhhhhh..pak.”desah mama lagi ketika pak sahrul menusuk vaginanya.”sassshh..oh..”pak sahrul memompa mama dengan sedikit lambat.Dan ahkirnya pak sahrul kembali memompa mama dengan tenaganya.Tanganya memegang perut mama.Mama terus mendesah terus mendesah sambil meremas dsternya diatas tempat tidur.Mulut pak sahrul tdk tinggal diam,dijilatinya punggung mama yg tertutup rmbut dan basah.Tanganya sesekalmemukul pantat mama. .”pak..saya..kluar..akh..ohhhhhhhh” desah mama panjang utk orgasme yg ke-2 kalinya.Pak sahrul kembali menempel penisnya divagina mama.Lalu pak sahrul memangku mama dan duduk diatas bangku kecil.”ayo buk..sedikit lagi..”kata pak sahrul.Tangan pak sahrul meremas payudara mama dan lidahnya menjilati leher mama.”akh..pak..ayo..tumpahkan bibitmu dirahimku ayo..”kata mama.Mendengar perkataan itu pak sahrul langsung menancapkan penis kememek mama.”oh..pak..ayo..oh..”desah mama berulang kali.Tangan pak sahrul semaik leluasa meremas tetek mama.Mulutnyapun menjilati tengkuk mama.Lama klamaan pak sahrul sepertinya tak tahan.Dipompanya mama dengan sekuat-kuatnya,tetek mama bergerak naik turun mengikuti pompaan pak sahrul.”trus pak…laya..ni..aku..”kata mama.”pak….klua..sama…ya..”kata mama.PAk sahrul semakin mempercepat gerakanya.Mama kelihatanya menahan sesuatu”pak..saya..kluar..”kata mama.Pak sahrul mengentikan goyanganya dan menjatuhkan badannya kelantai.
“seka..rang..bu..”jerit pak sahrul.Tubuh mama menggenjang begitu juga pak sahrul.Pak sahrul sengaja menjatuhkan tubuhnya agar spermanya tdk tumpah kelantai.Mereka berdua terkulai lemas.Tapi ternyta pak sahrul tdk,pak sahrul mengangkat badan mama dan mnaruhnya dikasur.Lalu pak sahrul memakai sarungnya.Kemudian dia memakaikan mama daster.Aku bergegas masuk kedalam.Kulihat pak sahrul masih kuat menggendong mama.Setelah dibukanya pintu kamar mama,terdengar suara dikasur,pak sahrul membanting mama dan menutup pintu.Kulihat jam didinding menunjukan pukul 12.10 malam.Sebelum masuk kekamar,kuintip kamar mama.Ternyta pak sahrul menyelimuti mama.Aku masuk kekamar.Setelah kudengar suara pintu teras belakang terkunci aku pun tidur.Jam 5 aku bangun.Penisku telah mengacung tegang.Aku keluar dari kamar dan masuk kekamar mama.Kubuka selimut mama.Kunaikan dasternya keatas.Terlihat jembut mama yg berbentuk S.Karena takut mama bangun aku hany memfoto badan mama.Penisku semakin tegang saja.Karena tak tahan,aku langsung menurunkan celanaku.Kugesekan dimulut vagina mama.Lalu kokocok.Tak lama kemudian maniku aku tumpahkan dimulut vagina mama.Lalu aku bergegas keluar.Jam 6pas,aku telah berpakaian rapi.Dimeja makan telah tersedia teh dan roti.Aku dan mama sarapan bersama.Mama masih memakai daster 1talinya.Aku juga mencium bau sperma sedikit dari badan mama.Lalu aku berangkat sekolah.Karena hari sabtu aku pulang cepat.Jam 12 pas,setelah ngobrol sama temanku aku bergegas kerumah.Aku sengaja melewati pos ronda dimana pak sahrul mangkal.Dia hanya tersenyum kepadaku.Sampai dirumah,mama menyambutku dengan hidangan lezat yg ada diatas meja.Saat itu mama mengenakan daster tangan pendek sepaha.Saat makan,tak disengaja aku menjatuhkan sendok.Tak disangka mama juga tdk memakai kolor.Nama ukiran dijembutnya yg bertuliskan huruf S.Aku berpura-pura tdk mengetahui hal itu.Jam 2siang,aku bosan menonton acara Tv.Terpikir olehku untuk nonton bokep.Dan juga mama biasanya lagi tidur.Sebelum masuk kekamar,aku mengintip mama.Ternyta mama sedang membongkar lemari.”ngapain ma..”tanyaku.”mau cari baju buat entar malam…”jawab mama.”entar malam ada apa memangnya..””ada pesta dirumah tante vida..”jawab mama.Lalu aku masuk kekamar.Kuputar bokep terbaru.Setelah nonton bokep.Penisku kembali tegang.Akhirnya aku memutuskan untuk menidurkan badanku diatas kasur.Jam 4.30 aku bangun.Aku berjalan keluar.Ketika mengambil gelas didapur,mama yg sedang menyiram bunga yg berada 2meter dari kacadapur dipeluk sama pak sahrul dari belakang.Mereka langsung jatuh ketanah,posisi pak sahrul diatas mama.”ih…abang nakal..tuhkan jadi basah..entar ketahuan gimana..”kata mama.Ternyata mama telah jatuh cinta dengan pak sahrul,buktinya dimemanggil abang dengan pak sahrul.”ketahuan..gak papa donk..”jawab pak sahrul.Kemudian pak sahrul mengambil slang dan menyiram selangkangn mama.”akh abang nakal..””masa kebun rumah yg dimandiin kebunmu juga donk.”jwb pak sahrul.Kulihat badan mama telah basah kuyup.Nampak teteknya yg montok dan vaginanya yg terkena spermaku tadi pagi dari dasternya yg sudah basah.Lalu kuambil bangku dan duduk melihat pemandangan itu dengan segelas teh panas.Setelah pak sahrul melepaskan pelukanya.Mama masuk kekamar.Karena kupikir tak ada pertempuran lagi.Aku pun kekamar.

Jam 7mlm,mama pergi menaiki becak pak sahrul.AKu sudah menawarkanya untuk kuantarkan,tapi dia menolaknya.Karena kawatir ada sesuatu dengan mama,jam 8.30 aku pergi kerumah tante vida.Suasana didaerah rumahku malam itu agak sepi,hanya ada 1mobil yg lewat dalam 5mnt.Didaerahku,orangnya semua jarang keluar malam.Aku sengaja melewati pos becak.Hanya ada 2becak disitu.Dari kejauhan aku melihat becak pak sahrul lagi membonceng mama.Aku segera bersembunyi dipinggir gang kosong yg mengarah kesebuah rumah kontrakan yg lagi kosong.Tiba2 pak sahrul memarkirkan becaknya didepan pos.Kemudian pintu warung yg tadinya tertutup terbuka dan mama lari masuk kedalamnya.Pak sahrul membetulkan becaknya.Hpku bergetar,ternyta mama menge-SMSku dan bilang mama pulang malam,aku disuruh tidur duluan.Aku hanya tersenyum membacanya.Lalu kumatikan hpku.Aku masih menunggu digang sempit itu.”ayo neng..”kata pak sahrul dari jendela warung yg tertutup.Lalu pak sahrul melewati belakang warung yg mengarah pada rumah kosong tadi,setelah dibukanya pintu.Mama berlari masuk kedalam.KArena gelap,aku tidak mengetahui ada org dibelakang mama.Perlahan aku berjalan kebelakang rumah itu,dugaanku benar.Dibelakang rumah adlh sebuah ladang yg besar dan menuju pada sebuah sungai.Tak lama kemudian pintu belakang terbuka.”sudah ayo…”kata pak sahrul sambil memegang sebuah lampu teplok.Mama ternyata mengganti pakaianya,mama keluar dengan mengenakan kain sarung yg dililitkan didadanya.Sungguh sexy mama.Dari bawah kain sarung nampak betis mama dan sebagian paha mama yg mulus,sementara payudara yg tertutup sarung seperti ingin berontak keluar.”ayo buruan…”kata pak sahrul.lalu mereka berjalan kearah sungai.Kuikuti dari belakang.Tiba2 pandanganku tertuju pada sebuah rumah yg terbuat dari kayu yg berada dipinggiran sungai.”sudah sampai bu..”kata pak sahrul berada 5mtr didepan rumah yg agak seram itu.Pintu rumah itu terbuka dan keluarlah sosok pria tua yg kira berumur 65thn,yg tak lain adlh pak Ronggo.Pak Ronggo adlh orang pintar,ia dipercaya sebagai tukang pijat.”masuklah…”kata pak Ronggo.Mama dengan gerakan kaku dirangkul oleh pak sahrul dan masuk kedalam.Aku berusaha mendekat,akhirnya aku mendapat lubang disudut kanan rumah.Mama dihadapan pak ronggo sementara pak sahrul disamping kananya.”ada datang non…”tanya pak renggo.”saya..anu…saya ingin mendapat kepuasan yg lebih selama berhubungan intim pak…”kata mama.Tatapan pak renggo mulai menggerayangi badan mama.Mulai dari leher hingga selangkangan mama.”oh..begitu..baiklah kamu harus mengikuti perintah saya.”kata pak renggo.Pak renggo menidurkan mama diatas kasur busa dengan posisi telungkup.Pak renggo mulai melancarkan aksinya.Pertama,ia membasahi punggung dan paha mama dengan minyak.Setelah itu ia menyuruh mama membuka sarungnya.Ternyata mama tdk memakai daleman apapun,dengan sekejap payudara dan vagina mama yg bertuliskan S nampak jelas.”haha…”pak renggo tertawa.Setelah mama terlentang pak renggo meremas-remas tetek mama dengan tangan kasarnya.”akh..ssshhh..akh..”desah mama.Remasan pak renggo membuat badan mama bergoyang-goyang.Mamapun meremas kain sarung yg tadi ia kenakan.”pak…oh…nikmat..pak..asshh..”desah mama lagi.Tak lama,bibir pak renggo mendarat diputing mama.cupphh..suara isapan pak renggo pada puting mama.Pak sahrul memandangi dari pintu sambil berjaga diluar.”oh oh ahkhhhhhhhh…”teriak mama ketika puting mama diplintir dengan sangat keras.Kemudian pak renggo turun menjilati paha mama dan sampai pas didepan bibir vagina mama.Pak renggo menyentil itil mama dan dijilatinya bibir vagina mama yg berwarna merah.”ah..
pak..”mama tak berhenti mendesah nikmat.Tangan pak renggo mulai menyodok2 vagina mama.”pak..akh..”desah mama dan menggerakan pantatnya naik turun.Gerakan itu membuat pak renggo emosi,dengan keras pak renggo memukul belahan pantat mama”pakkkk”.Mama berhenti menggerakan pantatnya dan berganti menggelengakan kepalanya.”aku..akh..klu..ar..pak..”kata mama.Tubuh mama bergetar hebat dan pak renggo langsung membuka mulutnya dan menjilati air orgasme mama.Setelah itu,pak renggo mengambil sesuatu dari luar.

Pak renggo mengambil ujung sebuah kayu dengan ujungnya yg tumpul mirip kepala penis dan dilapisi dengan sebuah plastik tipis.
Kemudian kayu itu dicelupkan kedalam kaleng cet kecil yg berisi 1/2 cairan mirip sperma.”apa itu pak..”tanya pak sahrul.”ya itu air maniku yg kusimpan mulai 3bln yg lalu..”kata pak renggo.kayu yg dilapisi plastik itu telah basah dan pak renggo siap menusukan kedalam vagina mama.”akhhhhh..pak..sakit…”jerit mama.”pak..leps..kan..”tambah mama.Tapi pak rengo terus berusaha memasukan kayu yg diameternya kira 6cm dan panjang 15cm itu.”akhh…”jerit mama.Setelah masuk setengah pak sahrul mengocok kayu itu divagina mama.Mama mendesah panjang.”bu…enak..”tanya pak renggo.”eh..ena..k..pak..sshh..”jawab mama.”kamu ini pasienku atau lonteku..”tanya pak renggo.”pasien pak…”jawab mama.Pak sahrul mengocok dengan sangat cepat.
“pak…aku..lon..temu..”jawab mama.Pak sahrul mencabut kayu itu.”ayo bu…minum ini…”kata pak renggo menyodorkan kaleng cat berukuran kecil kemulut mama.”kamu ini lonteku atau pasienku sih…”tanya pak renggo.”lonte pak..”kata mama yg telah membuka mulutnya.Baru seteguk,mama sedikit memuntahkan sprema dilantai.Pak renggo langsung menjambak rambutnya.”akh..””jangan kau tumpahkan atau akan kusemprotkan kevaginamu..”kata pak renggo.Dengan bantuan tangan pak sahrul yg menjepit hidung mama.Mama meneguk sperma itu.”ha..ha…bagus bu..”kata pak renggo setelah puas melihat mama menghabiskan seluruh spermanya.Mama kelihatan sedikit mual.”kini saatnya penisku bermain..”kata pak renggo.Pak renggo membuka celananya.Nampaklah penis hitam pak renggo yg berukuran org negro itu.Lalu pak renggo menyuruh mama bergaya dogie styel,dan pak renggo menusukan penis itu kevagina mama.”akh…”desah mama.Pak renggo mengoyang dengan penuh sahdu dan pelan.Nampaknya pak renggo tdk ingin terlalu membuat mama letih dan ingin melancarkan asyik yg lain.”ah..bu nikmat sekali vagina mu,,…””oh…terus…aku..milikmu..”kata mama.Goyangan itu membuat bangkit nafsuku,diam2 aku mengocok penisku.Beberapa saat kemudian”pak..saya kuluar.”kata mama dan tiba2 badan mama menggejang kembali,orgasme kedua kalinya.Lalu pak renggo mengganti posisi dengan cara berhadan.Digaya ini pak renggo dengan sadis melahap bibir mama hingga mama hanya bisa mendesah sesekali.Begitu juga tetek mama yg terus diremasnya.Mama kembali orgasme.Dan gaya terakir adlh gaya gunting.Digaya ini pak sahrul mendapat kesempatan memasukan penisnya dianus mama.”akh…sakit..”desah mama.Ketika mulai bergoyang mama tdk lagi mengerang kesakitan tapi semakin bernafsu dan berkata”terus…pua..skan..aku..oh..teru…s”berul ang kali.Terlihat mama terus memejamkan matanya ketika pak renggo meremas payudaranya.”pak..ah..saya..klua..r..”kata mama.Kedua lelaki itu menghentikan gerakanya dan mama mendesah.Setelah mama orgasme pak sahrul ikut orgasme dan menumpahkan dianus mama.Lalu pak renggo mengganti posisinya lagi,kini mama ditelentangaknya dan ia kembali memompa mama.Pak renggo kini bermain cepat.Tanpa henti ia menggoyangkan penisnya sangat cepat hingga tetek mama ikut bergoyang naik turun.Kecepatanya melebihi kecepatan yg kutonton difilm BF.Dan tak lama kemudian,pak renggo mencapai puncaknya dan juga mama orgasme untuk kesekian kalinya.Setelah puas,mama ditelentangkanya dilantai.Sementara pak renggo minum air dan memakai celanya.”dashyat rul….”kata pak renggo.”gimana kita anter sekarang…””ayuk..saya udah ambil bajunya neeh…”kata pak sahrul.Sebelum memakaikan mama baju,pak renggo menyiram badan mama dengan air yg berada di jerigen yg berisi bunga.”biar gak ketahuan..”kata pak renggo.Melihat mereka memakaikan mama baju,aku berlari menuju ketempat keretaku dan pulang kerumah.Sampai dirumah kulihat jam didinding menunjukan pukul 11.45 malam.Tak lama setelah aku minum terdengar suara becak pak sahrul.Aku masuk kekamar.Kuintip dari ventilasi,pak renggo menggendong mama kedalam kamar dan melemparnya kekasur.Mama tdk memakai pakaian awal,melaikan daster yg aku tak tahu dari mana.Tak lama kemudian kudengar suara suara becak pak sahrul yg seperntinya mengantar pak renggo pulang.

Aku keluar dari kamar dan masuk kekamar mama,badan mama wangi,mungkin karena bunga tadi.Sebelum kekamar aku menusukan tanganku kevagina mama dan kucium wangi vagina mama yg bercampur dengan bau sperma.Lalu aku pergi tidur.Paginya aku terbangun pukul 6 lalu aku mandi.Setelah berpakaian,aku keluar.Suasana masih sepi,pintu kamar mama terbuka dan aku mendengar suara air dari dalam kamar mandi.Rupanya mama lagi mandi.Setelah permisi sama mama,aku pergi kesekolah.Jam 2 aku sampai dirumah.Setelah makan,aku pergi untuk membeli pulsa.Aku sengaja tdk memberi tahu mama yg ada dikamar.Karena tdk jauh,berjalan kaki.Setelah membeli pulsa,aku berjalan pulang.”kemana orang2..”gumanku.Suasana siang itu amat sepi,hanya ada beberapa pemulung sepanjang jalan rumahku.Terlihat sebuah mobil minibus hijau terpakir didepan rumahku.Aku kemudian bersembunyi dibak sampah setelah melihat pak sahrul berdiri didepan rumahku.Tak lama kemudian mama keluar dengan memakai tanktop merah keputih-putihan dan celana panjang hitam yg ketat.Pak sahrul ternyata bersama pak renggo dan pak saiful.Pak saiful adlh pemilik mobil yg juga merupakan salah seorang juragan dari pada tukang becak.Konon katanya dia memiliki 3org istri.Setelah menghidupkan mobil mereka pergi.Karena keretaku sengaja kuparkirkan diteras,aku tdk kehilangan jejak mereka.Ternyata mereka menuju sebuah gudang bekas tempat perjudian.Daerahnya dari agak jauh dari rumah penduduk kampung sekitar.Setelah mobil terpakir,mama turun dengan memeluk pinggang pak saiful.Tangan pak saifulpun memeluk sambil mengelus rambut mama yg panjang.Lalu pak sahrul menutup pintu depan gudang itu.Kuparkirkan keretaku dibali1k pohon2 dan kupastikan takkan ada orang yg bisa melihat dari kejauhan.Lalu aku berjalan mengelilingi gedung itu.Berkat keahlianku,aku berhasil masuk tanpa sepengetahuan mereka.Aku bersembunyi dibalik tumpukan tong-tong minyak.Pak saiful yg memakai kemeja pantai dan celana hitam sedang asyik mengelus rambut mama sambil bercerita-cerita.Mereka tampak seperti sepasang kekasih.Mamapun tak henti ketawa dibuatnya.Mereka berdua duduk diatas papan kayu.Tak lama kemudian,pak sahrul membisikan seusatu kepada pak saiful.”sebentar ya sayang..”kata pak saiful.Kemudian pak saiful mengeluarkan 10lmbr uang 100rb dan memberikan kepada pak sahrul.Kemudian pak sahrul dan pak saiful keluar.Sambil berjalan kearah mama,tangan pak saiful membuka 1per1 kancing bajunya.Tepat dibelakang mama,pak saiful hanya mengenakan celana panjangnya.Mama bangkit dan mereka saling berhadapan.Tangan pak saiful memegang pinggang mama.cuppfff…mereka berdua bercium mesra.Tangan mama melingkar dileher pak saiful.Ciuman pak saiful pun turun kepipi dan kuping mama.Dengan kedua tanganya,pak sahrul menurunkan tanktop merah mama sekaligus bh putih mama.Bibir pak sahrul pun turun menjilati payudara mama dengan penuh gairah.Tanganya yg meremas-remas payudara mama membuat mama begitu terangsang.Lidahnya pun secara bergantian menjilat dan mengisap puting mama.Pak saiful seperti seorang anak bayi yg minta ditetekan oleh ibunya.Mamapun tak henti mendesah dan sesekali melirik payudaranya yg dimainkan oleh pak saiful.

Oh….shsshh…akh…desah mama.Telunjuk pak saiful menekan puting mama kedalam.Badan mama semakin menggoyang.”ah susumu msh banyak kan..”kata pak saiful.Dengan mulut yg masih menempel diputing mama,tangan pak saiful menurunkan celana panjang mama.
Tak lama kemudian celana itu beserta cd mama telah turun hingga ke betis mama.Pak saiful langsung mengeluarkan penisnya.Dgn sedikit mencolek dan menjilat vagina mama,diarahkan kontolnya yg hitam itu kevagina mama.”akh.pak…oh..”desah mama.Dan lambat laun penis itu masuk kevagina mama.Pak saiful yg berhadapan dengan mama langsung menggoyang dan mulutnya menempel dimulut mama.Aku tdk mendengar jeritan mama.Goyangan pak saiful sangat cepat.Sesekali pak saiful melepas ciumanya,mama mendesah keras dan ingin mengucapkan sesuatu.Goyangan pak saiful semakin cepat.”akh..akh..akh..”desah mama berulang2.Mereka berdua saling memejamkan mata.Pak saiful menekan keras penisnya kedalam vagina mama.Ternyta mereka berdua telah mencapai orgasme.”oh..ha.ha”desah mama dengan nafas yg tak teratur.Mama langsung terlentang dipapan itu.Kemudia pak saiful memakai bajunya dan bergegas meninggalkan mama.PAk saiful keluar dan tak lama kemudian masuk pak ronggo bersama seorang dokter yg masih muda.Badanya besar dan mempunyai jenggot tipis dan menurutku lumayan ganteng.”ini dia….”kata pak ronggo.Dokter itu mengeluarkan semacam alat yg berbentuk mangkuk kecil.kedua alat itu dipakaikan dikedua payudara mama dan tepatnya diputing mama.Kemudian alat itu bergertar.Mama spontan bangkit dan mendesah tapi mama entah kenapa tak melawan.Setelah 5mnt,alat itu berhenti dan dicabut.Kemudian dokter itu menjepit puting mama dengan tanganya.Susu mama perlahan menetes.”wah ibu masih bersusu yah..”kata dokter itu.Pak ronggo tampak bahagia melihatnya.”silakan kalau dokter mau…”kata mama.Dokter itu menempelkan mulutnya diputing mama,secara bergantian ia menghisap puting mama.mama memejamkan matanya sambil mendesah.Dokter itu menyedot kuat payudara mama.Badan mama mengenjang dan mama orgasme.Kemudian dokter itu bangkit dan akan pergi.”pak apa mungkin istri saya ini dapat hamil…”tanya pak ronggo.”masih bisa…jika bapak mau dapat meminta pertolongan saya..”kata dokter itu.”sekarang pak.”kata pak ronggo.Lalu dokter itu memberikan sebuah resep kepada pak ronggo.”ini silakan dicoba..tapi sebelumnya istri bapak harus saya bersikan vaginanya dari sperma yg ada didalamnya.”kata dokter.Lalu pak ronggo membawa mama dan dokter itu kerumah.Dirumah aku tdk tahu apa yg terjadi karena pak ronggo berjaga didepan rumah.Setelah dokter itu keluar dengan wajah yg berseri dan pergi dengan becak pak renggo,aku masuk.Didalam aku menemukan mama tegeletak dikasur dengan rambut yg berantakan dan bugil.Bulu vagina mama botak dan dari vagina mama menetes air.”oh..ssh…”desah mama keluar dari mulut mama.Mama duduk dikasur dan memegang vaginanya.Kemudian ia masuk ke wc dengan jalan yg tak lurus.Sejak kejadian itu,pak renggo selalu meminta jatah dengan mama.