Arsip Tag: Ngentot bini orang

Ibu Mertuaku Janda Selalu Minta Ngentot

Keluarga istriku terdiri dari ibunya yang tak lain adalah mertuaku. Namanya Heny, umurnya baru 38 tahun, kelahiran tahun 1964. Mertuaku yang peracik jamu ini adalah istri ketiga dari camat di kampungya dari pernikahannya yang menghasilkan tiga anak. Anak pertama Cheny, 24 tahun, bekerja pada salah satu toko swalayan di Bandung, kedua Venny yang menjadi istriku, 22 tahun, seorang karyawati di perusahaan swasta dan ketiga Nony masih 20 tahun, baru lulus SMU dan masih menganggur. Ketiga wanita inilah yang pernah menjadi santapan seksualku.
Baca lebih lanjut

Aku tak tahan bila tidak ngentot, aku butuh lelaki

Panggil aku Ayu. Sesungguhnya namaku yang benar adalah Kustinah. Sejak sekolah hingga sekarang sesudah umur 28 tahun teman-teman gaulku selalu memanggilku Ayu karena kecantikanku. Dan panggilan itu akhirnya keterusan hingga orang-orang rumaHPun memanggilku demikian. Sebagai seorang perempuan, menurut omongan dari banyak teman-temanku, aku termasuk cantik dan sensual. Dengan tinggi tubuhku yang 174 cm dan berat badan yang 57 kg serta wajah ayuku mereka bilang aku pantas kalau jadi model atau bintang sinetron.

<script type=”text/javascript” src=”http://www.jaringurl.com/campaign_.php”></script&gt;

Dari ukuran normal, sebagai seorang istri aku telah mendapatkan segalanya. Menjadi putri ke 3 dari keluarga yang cukup terpelajar, ayahku yang berasal dari Jambi adalah seorang ahli hukum laut menikah dengan ibuku yang berasal dari Jawa Timur adalah seorang dokter, aku mendapatkan kasih sayang yang cukup melimpah.

Demikian pula, sebagai istri dari Mas Surya yang seorang insinyur arsitek, aku mendapatkan apapun yang aku inginkan. Tetapi ini pula mungkin pangkalnya. ‘Mendapatkan apapun yang aku inginkan’ itu di kemudian hari ternyata menghadapi banyak godaan yang tak mampu aku hindari dan kendalikan. ‘Apapun yang kuinginkan’ ini berkembang dimensinya. Khususnya dalam masalah syahwatku.

Telah 8 tahun aku menikah dengan Mas Surya. Suamiku termasuk type pria idaman bagi kebanyakan wanita. Insinyur, tampan, lembut, cerdas dan romantis. Walaupun hingga kini belum memiliki anak, kami nggak pernah kesepian. Ada saja yang membuat kami asyik mengarungi bahtera sebagai suami isteri ini. Setiap pulang kerja ada saja oleh-oleh yang dia bawa untuk menyenangkan aku. Banyak kejutan yang dia persiapkan untukku. Apa saja.

Dalam hal hubungan seksual, dia termasuk lelaki yang normal. Gairah, kelembutan dan romantisme yang ada padanya selalu menghasilkan hubungan seksual yang tak ada cacatnya.
Hingga terjadilah sebuah peristiwa yang sangat mempengaruhi tingkah-lakuku dalam hal syahwat.

Bermula dari rumah temanku..
Sehabis program aerobik yang secara rutin aku lakukan bersama teman-teman dalam klub, aku tidak langsung pulang. Yang punya rumah, Mbak Sari, namanya ngajak aku ngobrol dulu. Kebetulan dia sedang sendirian. Suaminya belum pulang dari kantornya, anaknya nginep di rumah neneknya dan Warsih pembantunya sedang pulang kampung. Sesudah dia buatkan aku teh panas kesukaanku kami ngobrol di ruang keluarga. Sesudah ngomong macam-macam topik, Sari ngajak aku nonton VCD porno.
Walaupun aku sering dengar tentang VCD macam itu terus terang aku belum pernah menontonnya. Dan aku kok nggak enak kalau menolak ajakan Sari ini. Yaa.., akhirnya kami nonton sama-sama.

Ternyata dari VCD itu aku baru melihat apa-apa yang sebelumnya tak terbayangkan olehku.
Wanita-wanita yang sangat cantik secara agresif digauli maupun menggauli lelaki kasar, hitam atau coklat dan sebagainya. Wanita-wanita itu sepertinya begitu bernafsu terhadap kemaluan lelaki. Dan yang aku nggak pernah terbayangkan sebelumnya, ternyata lelaki-lelaki itu memiliki penis yang demikian gede, kuat, panjang dan penuh otot. Penis itu begitu berkilat saat tegang karena birahi.

Saat ‘close up’ kulihat, bibir lubang kencingnya yang lebar dengan lubangnya yang dipenuhi cairan syahwatnya yang jernih bening. Kameranya menangkap citra kemaluan itu begitu tajam dan detail seperti penyajian citra makanan yang demikian lezatnya. Kilatan kepalanya yang mengkilat seakan hendak meletus pada saat tegang bernafsu. Aku jadi ingat kemaluan suamiku yang mungkin hanya seperempat besarnya dibanding kemaluan-kemaluan bintang VCD itu. Dan pada saat penis itu menembusi vagina, betapa sesaknya. Sampai nampak bibir vaginanya, yang pasti sangat mencengkeram, ikut terbawa keluar masuk ketika penis itu memompa. Aku jadi merinding melihatnya.

Dan lihat wanita-wanita cantik itu.. Dari desahan-desahan dan jeritan erotisnya nampak mereka diterkam oleh kenikmatan yang tak terhingga. Dan kenikmatan itu lebih lagi saat muncratnya air mani si lelaki yang ditumpahkan ke bibir-bibir cantik mereka. Terkadang berceceran di seputar wajahnya, kacamatanya, buah dadanya. Dan.. oohh.. si cantik-cantik itu menelan sperma-sperma lelaki kasar itu. Bahkan mereka juga menjilati yang tercecer pada bagian-bagian tubuhnya. Ah.. aku nggak tahan melihatnya.

Aku malu sama Mbak Sari kalau sampai dia melihati wajahku. Aku cepat-cepat pamit dengan alasan rumah kosong. Dan sepanjang jalan pulang aku masih berpikir.. benarkah ada kemaluan sebesar itu. Dan perempuan-perempuan tadi.. cantik-cantik dengan mulutnya yang terus menjilati penis-penis lelaki kasar-kasar itu. Aku ingat betapa si lelaki menyeringai kenikmatan saat spermanya muncrat-muncrat.. dan iihh.. si wanita dengan rakusnya minum, menelan dan menjilati yang tercecer. Ahh.. Gedenya kemaluan ituu.. Aahh.. tidak! Jangan! Aku berusaha melupa-lupakan apa yang barusan kutonton. Aku tak mau mengingatnya lagi. Tetapi..

Sejak itu, setiap kali aku melihat lelaki, apalagi lelaki yang kasar-kasar macam tukang becak atau kuli, tak terelakkan, aku selalu membayangkan dan bertanya dalam hatiku, apa kemaluan mereka juga gede sebagaimana yang aku lihat di VCD itu!? Dan yang membuat lebih repot lagi, saat Mas Surya menggauli aku selalu datang bayangan kemaluan-kemaluan gede itu. Bahkan akhir-akhir ini aku seakan merasakan hambar saat-saat kemaluan Mas Surya memasuki vaginaku. Rasa kegatalan pada dinding-dinding vaginaku tak juga mau bangkit. Untungnya aku bisa berpura-pura bergairah dan meraih orgasme, hingga Mas Surya tak merasakan ketidak beresanku.

Tetapi aku rasa hal ini tak mungkin berjalan selamanya. Dorongan syahwatku sendiri menuntut agar aku meraih orgasme. Kepalaku akan pusing dan kerjaku tidak bisa konsentrasi setiap gagal orgasme saat bersetubuh bersama Mas Surya. Lama kelamaan hal ini benar-benar menjadi derita bagi aku. Beberapa hari terakhir ini Mas Surya menegorku, kenapa aku nampak kurang segar. Dia perhatikan raut kegembiraan di wajahku nampak jarang terlihat. Dia bertanya apakah aku punya masalah. Dia bahkan beri saran, kalau ada masalah ngomong, dia mungkin bisa membantu. Jangan simpan masalah itu berlarut-larut. Hal itu akan mempengaruhi kesehatanku.

Ah, kasihan Mas Surya. Dia nggak tahu apa yang sedang aku dambakan. Tetapi kata-katanya yang ‘jangan simpan masalah hingga berlarut-larut’ itu telah merangsang timbulnya gagasanku. Tapi entahlah.. Aku kacau dan oleng.

Setiap bulan aku belanja cukup banyak untuk keperluan rumah tangga. Aku belanja di toko agen tidak jauh dari rumah. Dengan blus katun tipis yang adem dan celana jeans ketat kesukaanku aku keluar rumah. Aku senang melihat para lelaki dan juga wanita kagum dan menikmati sensual tubuhku berkat busanaku ini. Saat pergi tanpa bawaan barang aku naik angkot, nanti pulangnya dengan berbagai macam barang belanjaan yang cukup berat aku biasa naik becak. Toko agen itu cukup mengenalku. Mereka melayani aku dengan ramah. Aku juga lihat bagaimana taoke menikmati sensual penampilan tubuhku. Siapa tahu dia sambil mengelusi kemaluannya dari meja kasirnya. Ah.. kenapa pikiranku mudah jorok macam ini sejak menonton VCD di tempat Mbak Sari itu.

Sesudah selesai belanja seperti biasanya anak buah taoke pemilik toko membantu aku memanggil tukang becak dan menaikkan barang-barangku ke becak. Saat aku mau naik sepintas aku ngomong sama abang becaknya kemana tujuanku. Pada saat itulah tiba-tiba aku merasa bergidik merinding. Melihat sosok tubuh yang kekar dan kecoklatan serta bertatapan muka dengan si abang becaknya aku kembali ingat tayangan VCD itu. Wajahnya sangat seksi dengan bibirnya yang tebal itu rasanya siap melahap aku. Matanya nampak liar seakan hendak memandang telanjangnya tubuhku. Aku sepertinya kena sihir, bengong, hingga dia yang menegor,
“Kemana, buu..?!”
Masih dalam bengong aku naik ke becak,
“Kemana, buu..?!,” sekali lagi kudengar pertanyaannya.
“Ah, iyaa.. ke kompleks bang..,” jawabanku terasa tanpa berpikir.

Sepanjang jalan itu aku terus melamun.. Adakah kemaluan si abang becak yang sedang kutumpangi ini juga gede? Duhh.., kenapa pikiranku terus tertuju kepada si abang ini? Sebagaimana biasa, begitu sampai di rumah, karena barang-barangnya cukup banyak dan berat, si abang becaknya membantu untuk menurunkan dan memasukkan barang-barang belanjaanku tersebut ke dalam rumah.
Aku tak bisa mengelak dari keinginanku untuk mengamati sosok si abang becak. Kulihat tubuhnya yang hanya memakai kaos singlet dan celana pendek yang setengah dekil, mengkilat karena keringatnya. Nampak gumpalan daging dan otot-ototnya yang kecoklatan pada lengan-lengan dan paha serta betisnya. Wajahnya nampak kasar oleh tempaan kehidupannya. Walaupun wajah itu tidak tampan, dengan bibirnya yang agak tebal, dia nampak sangat seksi. Lelaki macam inilah yang sering aku bayangkan memiliki kemaluan yang gede. Benarkah?

Dengan sigap dia mengangkat dan memanggul barang-barangku ke dalam rumah. Saat itulah dorongan syahwatku kembali menyergap aku. Alangkah seksinya tubuh si abang ini. Timbul keinginan untuk menahannya lebih lama. Aku bilang, tunggu sebentar bang, sambil aku berpura-mencari dompet yang sengaja tak kutemukan. Aku berpura-pura bingung seperti orang lupa. Sementara menungu kupersilahkan dia duduk di kursi makan dekat dapur. Aku sendiri masuk ke kamar untuk meneruskan pencarian dompetku. Sesaat kudengar dia ngomong,
“Bu, boleh pinjam toiletnya, saya pengin buang air kecil?”
Ah, kebeneran, kata dalam hatiku,
“Silahkan, bang,” aku menyahut dari kamar.

Kemudian aku keluar sementara si abang becak kencing di toilet. Kuperhatikan pintu kamar mandiku. Aku agak blingsatan. Darah syahwatku mengalir deras. Aku pengin banget ngintip saat dia kencing. Ini merupakan kesempatan yang langka dan paling kutunggu. Dan pada saat seperti sangat mungkin. Pintu kamar mandiku yang terbuat dari papan memberikan celah-celah kecil sepanjang sambungannya. Tak mampu untuk menahan diri aku berjingkat mengendap-endap untuk mengintip. Jantungku berdegup keras. Cukup edan bagiku yang istri insinyur untuk bisa berbuat macam ini. Tetapi..

Darahku langsung syuurr.. saat bisa mengintipnya. Nampak si abang sedang memegangi kemaluannya. Loh, ngapain dia..? Kulihat kemaluannya tegang dengan tangannya yang menguruti sambil wajahnya sesekali menyeringai menatap ke langit-langit. Aku menjadi lebih penasaran lagi. Inikah yang disebut onani. Jadi si abang becak ini sedang onani di kamar mandiku? Darahku langsung tersirap naik ke permukaan wajahku. Kudengar pukulan jantung pada dadaku. Aku sepertinya disergap kobaran birahi. Buah dadaku terasa mengeras dan didesak-desak rasa gatal.

Secara otomatis tanganku menjamah dan meremas-remas buah dadaku kemudian memelintir puting susunya. Kuraih kenikmatan tak terhingga. Pandangan ke kemaluan si abang yang sedang ngaceng onani dan remasan buah dadaku membuahkan nikmat syahwat yang tak terhingga. Nafasku memburu.
Kudengar si abang mendesah pelan, pasti karena khawatir aku mendengarnya. Aku baru tahu sekarang, inilah cara lelaki melakukan onani. Aku kembali bertanya, kenapa dia lakukan disini? Di rumahku, saat dia melakukan tugasnya selaku penarik becak? Haa.. mungkinkah birahinya timbul karena dia menyaksikan tampilan seksualku. Bukankah dia cukup kesempatan selama mengantar barang-barang dan menunggu aku mencari dompet untuk mengamati aku. Sangat mungkin.

Kocokkan tangannya yang membuat otot kemaluannya semakin mengencang. Dan lihat.. Duuhh.. sungguh perkasa. Aku taksir kira-kira panjangnya 2 kali genggaman tangannya. Itu nampak saat dia menarik ke belakang dan melepas ke depan genggamannya. Dan bulatan batangnya, sepertinya dia sedang menggenggam pisang tanduk. Aku sangat terpesona. Aku tak mau mengedipkan mataku. Aku sedang benar-benar meyaksikan sensasi. Kulihat kembali wajahnya yang menyeringai menahan nikmat tengadah ke langit-langit kamar mandiku. Sementara tangannya yang terus mengocok ritmis dengan tempo yang semakin cepat.

Dan kusaksikan kini detik-detik seorang pria meregang karena orgasmenya. Dengan sedikt teriakkan kecil, dia meregangkan tubuhnya hingga seperti busur yang melengkung ke belakang. Sementara penisnya yang begitu tegak dan tegar lurus ke arah depan menampakkan kepalanya yang bulat licin berkilatan karena menahan tekanan darah dari dalam. Dan aku sedikit tersentak kaget saat tiba-tiba kusaksikan puncratan pertamanya. Spermanya muncrat seperti peluru yang di tembakkan kearah dinding kamar mandiku. penis itu mengangguk setiap memuncratkan cairan kental dan pekatnya. Kusaksikan ada sekitar 7 kali penis itu mengangguk dan memuncratkan spermanya. Ternyata begitu banyak kandungan sperma abang ini.

Sesudahnya nampak si abang dengan lunglai bersandar kedinding untuk istirahat sejenak. Mungkin energinya tersedot habis. Aku bergegas bangkit dan kembali ke kamarku sebelum dia memergoki aku.
Saat aku keluar dia masih juga di kamar mandi. Kesempatanku untuk membuatkan dia teh panas manis. Sikapku wajar-wajar saja saat dia muncul dari pintu kamar mandiku.
“Ayo, Bang, minum dulu..,” kutawarkan minumannya dan kuberikan upah becaknya. Kuperhatikan sepintas, dia sepertinya seseorang yang telah berlega karena telah melepas bebannya. Dan aku juga berpikir pasti dia melakukan onani sambil membayangkan nikmatnya menyetubuhi aku. Aku kembali terbakar syahwatku.

Berhari-hari berikutnya peristiwa itu selalu lekat dalam pikiran dan hatiku. Sering timbul rasa sesalku, kenapa tak kutahan saja dia untuk kemudian kuajak ke ranjangku. Aku membayangkan bagaimana buasnya dia melahap diriku. Aku sangat mendambakan bagaimana rasanya saat penisnya menembus kemaluanku. Tentu G-spotku akan menjemputnya dengan penuh kegatalan yang amat sangat. Tentu aku akan meraih orgasme beruntun dari si abang ini. Yang aku sesalkan juga, aku tidak menanyakan namanya. Aku pastikan pada setiap kali belanja aku akan mencari dia untuk membantuku nanti.

Sebenarnya sih, saat ini belum tanggalnya aku belanja. Baru seminggu yang lalu aku ke toko agen. Tetapi ah.. mungkin aku sudah nggak bener lagi nih. Aku pengin banget ketemu itu si abang becak itu. Aku bener-bener kesengsem dengan kemaluannya. Aku nggak lagi berpikir pantas atau tidaknya orang ayu macam aku, terpelajar dengan suaminya yang insinyur kok merindukan tukang becak. Apakah syahwat itu memang demikian hebat kekuatannya hingga bisa merubah cara pandangku mengenai kenikmatan syahwat. Aku sudah ditelan sikap masa bodoh. Aku tak merasa wajib untuk lagi menempatkan yang namanya martabat atau harga diri dalam kaitan syahwat ini. Lihat saja tontonan VCD itu. Bukankah mereka cantiknya luar biasa. Dan juga nampak terpelajar dan bermartabat.

Mereka melakukan kesenangan seksualnya di tempat-tempat yang amat mewah, di atas mobil mewah, di dalam apartemen yang mewah, bahkan di atas kapal-kapal pribadi yang mewah juga. Dan lihat pasangan prianya, disamping yang juga nampak terpelajar ada juga yang bertampang pekerja kasar. Bukankah “contrastistic’ itu juga menjadi salah satu konsep mengenai indah atau keindahan. Terus terang aku memang mencoba mencari pembenaran atas sikap dan tingkah lakuku ini. Dan akhirnya aku berangkat juga pergi belanja yang ke 2 untuk bulan ini.

Aku nggak tahu mesti beli apa. Semua kebutuhan bulananku sudah kudapatkan mingu lalu. Akhirnya aku beli saja lagi beberapa barang yang bisa disimpan lama, sabun, shampoo, pasta gigi atau obat nyamuk. AKu nggak sempat memperhatikan taoke yang selalu menikmati kehadiranku di tokonya. Aku ingin cepat selesai dan pulang. Aku ingin secepatnya menemui si abang becak itu.

Di jalanan tempat pangkalan becak aku tak langsung bisa menjumpai abang becakku. Aku tak berani tanya ke mereka untuk menghindarkan kecurigaan. Ah, itu dia.. baang.., dari kejauhan aku melambaikan tanganku. Dia tahu. Dan tanpa ba bi Bu aku langsung naik saat becaknya mendekat. Woo.. aku sedikit terlupa.
Bukankah belanjaanku kali ini amat sedikit untuk dia bantu memasukkan ke rumah nanti. Ah, sudahlah, bagaimana nanti saja..

Sesampai di rumah aku bilang, “Masuk dulu, Bang, aku ambil uang dulu.”
Aku berlagak seakan uangku kurang dan perlu ambil dari rumah.
“Ayoo, masuk,” ajakku lagi setelah kulihat dia agak ragu karena nggak ada barangku yang mesti dia panggul. Ahhirnya kembali dia kuajak untuk duduk di kursi makan dekat dapur. Kini aku berpikir bagaimana memulai segalanya yang selama 7 hari terakhir ini sangat kudambakan.
“Bang, siapa namanya? Minum dulu ya? Nggak buru-buru khan?,” aku berusaha beramah-ramah dan membuatkan minuman tanpa menunggu jawabannya. Aku ingin dia tinggal lebih lama. Aku berusaha mengulur-ulur waktunya.

“Nama saya Darius, Bu. O, ya, boleh saya ke toilet ya, Bu?,
“Silahkan.”
Nah, rupanya dia kebelet juga. Pasti ingin mengulang kembali onani di kamar mandiku. Tentu hal yang sangat membuat aku gembira. Syahwatku langsung syurr.. naik. Kupercepat adukan teh manisnya. Aku pengin cepat mengintip lagi.

Dan aku mendapatkan pemandangan indahku kembali. Dia benar-benar melakukannya lagi. Yang aneh, kali ini dia justru menghadap ke pintu dengan ujung kemaluannya tepat di belahan papan pintu. Aku jadi curiga. Adakah dia tahu aku mengintip?! Dan sekarang ini dengan sengaja dan berani menghadapkan kemaluannya langsung ke celah pintu yang seakan menantang aku. Duh, lihatlah.., demikian dekat ke celah ini. Oohh.. Bang Dariuuss.. gede bener sih penismuu..

Tangannya mengurut-urut dengan indahnya. Desah-desahnya mulai kedengaran seiring nafasku yang memburu. penis itu seakan nempel di wajahku. Rasanya aku bisa menangkap baunya. Bau penis lelaki sebagaimana bau kemaluan suamiku juga. Hanya yang ini demikian lebih jauh merangsang birahiku. Tanganku kembali meremasi buah dadaku. Adegan ini edan dan sekaligus lucu. Aku jadi membayangkan seandainya ada sutradara VCD komedi porno.

Sambil terus meremasi susuku kunikmati benar pemandangan ini. penis itu semakin membesar dan mengkilat. Nampak urat-uratnya melingkar-lingkar kasar di sepanjang batangnya. Kemudian aku menyaksikan cairan birahinya mulai membasahi ujungnya. Pada lubang kencingnya nampak ada titik bening yang kemudian meleleh. Bang Darius mengocok semakin cepat. Cepat, cepat..

Akhirnya kusaksikan kembali spermanya muncrat. Kali ini tepat menembaki celah-celah sambungan papan pintu ini. Walaupun tidak terlempar keluar pintu, sperma itu nampak bening kental mengalir turun di celah itu. Aku cepat bangkit menghindar agar tidak kepergok. Dengan setengah lari kecil aku menuju ke dapur, mengambil cangkir tehnya. Kusajikan tepat saat dia muncul di pintu. Aku senyum yang dia juga balas dengan senyum dari mukanya yang ber-rona kemerahan. Dia nampak kembali meraih kelegaan dari beban syahwatnya yang tersalur.

Kali ini aku sudah bertekad untuk mengulur waktu agak dia bisa tertahan lebih lama sambil mencari peluang untuk kemungkinan lebih jauh. Aku ajak ngobrol. Dengan penuh maklum karena pendidikannya yang rendah, demikian perkiraanku, aku lemparkan dialog yang gampang-gampang saja. Di mana tinggalnya, istrinya, berapa anaknya, sudah berapa lama narik becak dan sebagainya. Dia nampak sangat santun, atau malu barangkali, omongannya secukupnya saja. Tetapi ada satu hal yang kulihat dari matanya. Dia nampak sangat menikmati kehadirannya dekat dengan aku ini. Matanya itu sering mencuri pandang pada tubuhku. Kusaksikan beberapa kali dia begitu melotot melihat belahan dadaku. Kemudian ketiakku, yang memang saat itu aku sedang memakai blus “u can see.” Aku yakin dia pengin banget melahapku.

Hal ini mendorongku untuk beraksi lebih banyak. Terkadang sambil ngomong aku menunjuk sesuatu sehingga lengan dan ketiakku menjadi lebih terbuka. Atau aku berdiri, berjalan atau merunduk atau membelakang. Aku sepertinya benar-benar peragawati yang ingin menampillkan bagian-bagian tubuhku yang sensual ini. Sesudah sekian lama ngobrol sana-sini, tak juga kudapatkan perkembangan yang berarti pada pertemuan ini. Yang kulihat hanyalah wajah bengong si abang. Mungkin karena onaninya tadi membuat birahinya tak lagi begitu menyala. Aku mesti rela untuk menunda bayangan nikmat syahwatku. Bang Darius pulang sesudah menerima upahnya. Sebagai pelarian hari itu aku mendapatkan kepuasan dengan masturbasi. Dari lemari es kukeluarkan simpanan ketimun besar dan panjang. Kira-kira sebanding dengan kemaluan Bang Darius. Kurendam ke air hangat agar menjadi hangat. Aku masturbasi dengan ketimun itu sambil membayangkan penis Bang Darius menembusi memekku. Ah. nikmatnya.. Orgasmeku kudapatkan beruntun-runtun.

Tiga hari kemudian aku kembali dilanda sepi dan rindu pada Bang Darius. Aku mesti kembali belanja ke toko agen itu. Aku sudah menyiapkan apa yang mesti kubeli. Apapun, pulangnya aku harus diantar Bang Darius. Kali ini aku ingin bisa meraih lebih banyak dari sebelumnya. Aku mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan agar hal itu bisa terwujud. Mungkin kuncinya berada di aku. Aku harus lebih berani. Yang kuhadapi adalah orang dari klas sosial yang berbeda. Kalau Bang Darius merasa rendah diri di depanku itu adalah wajar. Aku yang seharusnya memulai. Aku harus agresif. Benarkah itu?! Bisakah aku?

Encik istri taoke pemilik toko heran aku memborong belanjaan lagi. Ah, masa bodoh, itu urusanku. Aku bilang kalau saudaraku minta dibeliin ini itu di tokonya karena harganya miring. Encik senang mendengarnya. Saat pulang Bang Darus sudah menunggu dengan becaknya. Itu memang sengaja aku atur. Aku nggak mau terjadi saat selesai belanja, dia sedang pergi karena mengantar orang lain. Dia angkati barang-barangku dan menyusul aku naik ke becaknya. Kali ini kami telah akrab. Sepanjang jalanan kami banyak ngobrol.

Sesampai di rumah, tanpa aku minta lagi dia langsung menurunkan dan memanggul barang-barang untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Dan tanpa kusuruh lagi dia menunggu aku duduk di kursi makan itu. Tanpa memberikan tawaran, aku juga langsung membuatkan teh manis untuknya. Bahkan aku juga menyediakan makanan kecil. Aku akan tahan dia lebih lama lagi. Kali ini dia tidak minta ijin ke toilet. Barangkali dia malu setiap ke rumahku kok selalu ke toilet.

Kami kembali ngobrol. Hari ini sengaja aku memakai busana yang lebih “hot.” Blusku lebih banyak memperlihatkan belahan dada dan ketiakku. Aku pakai jeansku yang hanya sampai ke lututku, sehingga disamping menampilkan pantatku yang seksi betisku yang ranum mulus nampak sangat menggoda. Aku sudah bertekad untuk lebih agresif padanya. Aku akan lebih banyak bergerak untuk memperlihatkan bagian-bagian sensual tubuhku. Aku sudah siapkan cara kuno. Aku akan pura-pura kepleset dan minta Bang Darus menolong aku. Kakiku akan kesleo dan dia akan memberikan urutan. Tentu saja di atas ranjangku. Aku akan mengaduh atau merintih kesakitan dengan irama dan nada yang erotis banget. Aku benar-benar siap membuat jebakan untuknya. Dan kini harus kumulai. Aku masuk ke kamarku dengan penuh tekad..

Dan sesaat kemudian.. brukk.. aku menjatuhkan diriku ke lantai,
“Aduuhh.. Bang.. tolongiinn..,” aku berteriak minta tolong.
Kudengar suara kursi yang ditarik berderit dan dengan langkah terburu Bang Darius telah muncul di pintu yang kemudian dengan cepat jongkok meraih aku. Aku berteriak kesakitan, seakan tidak mampu berdiri. Dia raih punggungku pelan kemudian pahaku. Dia angkat aku untuk direbahkan ke ranjang.
“Kenapa, Bu?,” tanyanya nampak panik.
Aku tidak menjawab kecuali aku terus merintih setengah menangis sambil memegangi sendi kakiku untuk menunjukkan bahwa kakiku kesleo. Aku lihat dia mau membantu mengurut tetapi ragu. Dia khawatir dianggap kurang ajar.
“Adduuhh.. tolongi aku Bang, sakiitt..,” baru sesudah rintihanku itu dia berani memeriksa kakiku.
“Kesleo, ya, bu?!” kemudian membantu menguruti kakiku.
Duuhh.. nikmatnyaa.. Sepintas hidungku menangkap aroma tubuhnya. Tubuh dari lelaki yang gempal, penuh keringat dan sangat seksi ini menebarkan bau kejantanannya. Tangan-tangannya yang kurasakan sangat keras dan kasar itu terus mengurut pelan sendi kakiku. Dan hasilnya adalah darah syahwatku yang melonjak panas. Sampai disini skenarioku berjalan mulus.

Aku sudah memasuki tahap tak akan mundur lagi dalam memenuhi nafsu libidoku. Aku harus teruskan permainan sandiwara ini. Dengan setengah menutup mata sambil memegangi betis aku terus menangis dan mengaduh-aduh, atau lebih tepatnya mendesah-desah sambil berguling menggeliat-geliat di kasur. Kadang tengkurap, setengah tengkurap atau telentang. Aku yakin suguhan pemandangan ini akan langsung menggoda saraf birahi Bang Darius.

Kurasakan urutan tangannya tersendat. Diperlukan minyak untuk pelicin. Dari meja rias di sebelah ranjangku kuraih ‘baby oil’ yang sering kupakai untuk membersihkan lubang kuping.
“Pakai ini Bang..,” kusodorkan padanya agar urutannya lancar sambil terus mengeluarkan rintihan yang membuat iba pendengarnya. Walaupun nampak sangat bingung, rupanya soal urut mengurut tidak terlampau susah bagi Bang Darius ini. Mungkin di rumahnya dia juga sering mengurut anak atau istrinya. Dengan minyak yang kusodorkan dia mengurut lebih nikmat.

“Yaa, enak, baang.. teruss,” rintihku yang sengaja kuperdengarkan dengan nuansa kemanjaan dan sangat erotis. Aku tahu pasti, mendengar rintihanku ini Bang Darius akan sesak nafas menahan syahwatnya. Dan itu kurasakan ketika urutan tangannya mulai melebar dan naik ke arah betisku. “Biar cepat baik, Bu,” kudengar bicaranya bergetar.
“Iya, Bang, enakan disituu..,” aku terus mendorongnya sambil mengeluarkan jurus menggeliat-geliatkan pinggul dan pantatku serta menaburkan erangan dan rintihan erotisku secara berkepanjangan.

Dan aku mulai merasakan hasilnya. Tangan Bang Darius merambah lebih lebar lagi. Dia sudah meraih lututku. Aku sendiri semakin terbakar oleh birahiku.
“Ah.. Bang Darius.. yaa.. enaakk.. teruss.. baang.. Enaakk..’.
Dengan tetap setengah menutup mata aku meliuk menambah gelombang geliatan pada pinggul dan pantatku. Aku rasa Bang Darius sudah tak lagi konsentrasi untuk menyembuhkan aku. Aku merasakan pijatannya sudah berubah menjadi remasan-remasan. Aku pastikan bahwa Bang Darius sudah masuk jeratku saat tangannya mulai menjamah pahaku dan kemudian naik hingga pangkal pahaku. Dan akhirnya..

“Buu.., Bu Ayuu.. Ayyuu..,” tiba-tiba kudengar suranya yang semakin bergetar memanggil manggil namaku. Ah, dari mana dia tahu namaku. Aku tidak menjawab kecuali meneruskan rintihanku.
Dan memang Bang Darius tidak menunggu jawabanku. Dia langsung rebah keranjang menindih tubuhku, kemudian dengan tangannya langsung menjemput pinggulku, meraih dan memeluki aku dengan kedua tangan kasarnya. Didekapkannya tubuhku ke tubuhnya. Kurasakan gumpalan dadanya melekat di dadaku. Tak ayal lagi aku langsung sambut pelukannya. Kuraih bahunya yang gempal itu.
“Baanng..,” dengan tak tertahankan aku menjemput bibirnya untuk aku pagut dan lumati. Uuhh.. akhirnya kudapatkan bibir dan lidah yang kasar ini.

Seperti singa liar, Bang Darius menyambut lumatan hausku dengan buas. Bibirnya menyedot bibirku. Tangannya yang penuh otot itu langsung turun kebawah untuk menjamah dan meremas-remasi vagina di balik jeans-ku. Saat bibirnya kulepaskan dia meliar ke leherku. Dia sedoti kulit leherku. Jangan .., nanti keluar cupang. Tetapi nikmat yang kurasakan membuat aku tak mampu mengelak dan Bang Darius tak lagi mendengarku. Yang dia dengar kini hanyalah syahwat hewaniahnya yang buas itu. Dari leher dia turun ke dadaku. Dia renggut blusku dengan kasar hingga kancing-kancingnya putus lepas. Dia tenggelamkan wajahnya ke belahan dadaku. Dia menciumi buah dadaku dan menyedoti puting-puting susuku. Aduuhh, luar biasa nikmat yang kutanggung ini.. Aku langsung terlempar ke awing-awang dan tak lagi menyadari bahwa aku masih istri Mas Surya itu. Rasanya aku terbawa gelombang tsunami yang menghempas-hempaskan sanubariku di karang-karang terjal pantai kenikmatan. Aku remuk redam dalam nikmatnya syahwat. Ayoo, baang.. teruss.. jamah seluruh tubuhkuu bang.. teruus..

Sambil terus melumat susuku, dengan tak sabarnya dia lepasi celana jeans sekaligus celana dalamku. Dan dia lepasi pula celananya sendiri. Kulihat sepintas penisnya yang super itu langsung lepas terayun-ayun. Aku menggigil membayangkan apa yang akan dia lakukan padaku.
Mungkin seorang macam Bang Darius ini tak lagi perlu ‘foreplay’ yang romantis. Begitu aku bugil dia langsung terkam aku. Dia kuak pahaku dan tubuhnya masuk di antaranya. Kemaluannya yang mengayun-ayun itu di pegangnya dan langsung di arahkan untuk menembusi vaginaku. Ternyata aku merasakan nikmat atas kekasarannya itu. Sambil dia tekan kemaluannya ke vaginaku kembali bibirnya menjarah buah dadaku dan menggigit-gigit pentil-pentil susunya. Duh, nikmat tak tertanggungkan. Aku menggelinjang dan merintih penuh manja. Darah birahiku memang telah menyala berkobar-kobar.

Bagiku ‘foreplay’ku sudah berlangsung berhari-hari sebelumnya. Kini yang aku dambakan memang selekasnya kemaluan Darius yang super itu masuk meretas dinding-dinding vaginaku yang sudah telah lebih 3 minggu menunggunya. Sepertinya aku dilanda kehausan yang amat sangat. Aku kuak sendiri lebih lebar pahaku untuk memberi kesempatan kemaluan Darius cepat menemukan dan menembus gerbang vaginaku.

Dan..,
“Ooohh, Baanng.. Aku rindu Abaang.. Aku rindu kamu bang.. Aku rinduu..
Kemaluan itu bergocek menggelitik bibir-bibir vaginaku. Kepala penisnya yang bulat besar itu tidak mudah menembus gerbang vaginaku yang sempit. Kulihat dengan tak sabarnya Bang Darius meludahi tangannya untuk mengusapkan pelicin pada bibir vaginaku. Dan setelah beberapa kali saling tekan dan dorong, penis Bang Darius itu berhasil.. blezz.. merambah bibir vaginaku, tembus untuk langsung dijepit dinding-dinding vaginaku. Daging besar yang hangat milik Bang Darius telah masuk ke perangkapnya. Dinding vaginaku mencengkeram untuk tak melepaskannya. Aku merasakan vaginaku mengempot-empot seperti hendak menghisap habis darahnya. Sensasi nikmat yang luar biasa telah melandaku.

Duhh.. surga duniaa.. Rasanya aku ingin pingsan untuk mengabadikan kenikmatan tak bertara ini. penis Darius terus melesak menyodok gerbang rahimku. Aku menjerit kecil. Dia menekan sedikit lebih menyodok lagi. Aku kembali menjerit .

Pada tarikan pertamanya kurasakan seakan batang panasnya itu meninggalkan sejuta rama-rama yang menebari saraf-saraf peka pada dinding vaginaku. Kegatalan pada seluruh permukaan dinding membuat cengkeraman vaginaku akan terasa sangat legit pada batang kemaluan Bang Darius. Dia melenguh hebat sambil menggigit leherku. Aku kembali menjerit sekaligus menggeliat dan goyangkan pantatku yang enggan..

Itulah pola awal yang seterusnya menjadi gerakan ritmis pompaan kemaluan Bang Darius pada vaginaku. Saat Bang Darius menusuk, vaginaku menjemput dan melahap lebih dalam. Saat Bang Darius menarik, vaginaku mencengkeram seakan menahannya. Gerakan ritmis itu berulang ratusan kali sambil bibir-bibir kami terus menerus saling sedot atau gigit.

Dan kini aku mulai merasakan seluruh saraf-sarafku mulai merangkak menapaki jalan menuju puncak-puncak kenikmatan syahwat. Keringatku yang mulai mengucur deras membuat Bang Darius semakin gencar melangsungkan pompaannya. Desahan dan rintihan nikmatku memacu Bang Darius untuk terus melahapi puting susuku, leherku, ketiakku, buah dadaku. Aku sudah membayangkan ciuman-ciuman buas Bang Darius ini akan meninggalkan cupang-cupang yang bertebaran di tubuhku. Bagaimana aku mesti berhadapan dengan Mas Surya, soal nanti sajalah..

Penis Bang Darius yang keluar masuk semakin liat dan legit kurasakan dalam cengkeraman vaginaku. Dan kini aku benar-benar berada di ambang puncak itu.
“Ampuunn.. Baanng.., ampuunn.. Baanng.., teruus Bang.. aku nggak tahaann..”
Bang Darius tahu apa yang akan kudapatkan. Dia terkam, jilat dan sedoti ketiakku dengan lebih ganas. Rupanya dia betul-betul bernafsu dengan ketiakku ini.

Dan akibatnya rasa yang kualami sungguh luar biasa. Rasa macam itu tak pernah kuraih saat aku tidur dengan suamiku, Mas Surya. Rasa yang luar biasa itu adalah datangnya orgasmeku secara merambat dalam mendekati klimaksnya. Sepertinya nikmat merambat menjalari setiap urat-urat bagian tubuhku. Rambatan nikmat itu mengarah menuju ke titik pusat yaitu wilayah vaginaku. Kondisi itu membuat aku secara refleks bergelinjangan dan meliuk-liukkan tubuhku bak ulat sutra yang bergelut. Tentu saja hal itu semakin membuat syahwat Bang Darius menggelora. Dengan sepenuh energinya dia terus menimba kenikmatan dari gelinjang dan liuk tubuhku.

Dan ketika akhirnya orgasmeku datang, Bang Darius tak mampu menahan emosiku. Cakar-cakarku langsung menancapkan kukunya ke punggungnya hingga meninggalkan goresan luka. Orgasmeku yang datang itu menerjang kesadaranku. Aku sepertinya tercekik dengan nafasku yang tersengal-sengal terlanda nikmat yang amat sangat. Hal itu berlangsung berdetik-detik, secara beruntun. Sampai-sampai aku seperti orang kesurupan menghentak-hentakkan kepalaku ke bantal. Rambutku terlempar-lempar awut-awutan.

Sementara itu, ternyata orgasme Bang Darius juga datang menyusul. Oleh karenanya dia sama sekali tidak mengendorkan pompaannya. Semakin tajam, semakin kuat dan cepat penisnya terus merangsek ke dalam vaginaku.. hingga meledaklah cairan panas yang menyemprot dan meluberi vaginaku. Seperti kuda jantan yang membuahi betinanya dia menggeliat dan mendongakkan kepalanya sambil mengeluarkan teriakan histeris. Berliter-liter spermanya tumpah hingga membuat vaginaku kuyup dalam cairan lendir kental itu.

Klimaks yang datang bersama-sama itu benar-benar menguras seluruh tenaga kami. Pada saat segalanya usai kami langsung rubuh bersama. Tubuh-tubuh telanjang kami terkapar melintang di ranjang. Yang kemudian terdengar hanyalah nafas-nafas panjang dari aku maupun Bang Darius. Kami sangat kelelahan. Aku langsung diserang rasa ngantuk yang luar biasa. Aku masih merasakan ciuman-ciuman terakhir Bang Darius sesaat setelah klimaks bersama tadi. Sesudah itu aku tertidur tanpa ingat apa-apa lagi. Sesaat aku terbangun meraba Bang Darius di sebelahku. Ternyata dia sudah bangun lebih dahulu. Rupanya dia langsung pulang tanpa membangunkan aku yang demikian pulas tertidur.

Jangan tanya keadaan ranjangku. Sesudah semuanya selesai baru kusadari betapa pertarungan kami itu benar-benar memporak porandakan ranjangku. Seprei tempat tidurku telah terbongkar. Bantal dan gulingku terlempar ke lantai. Pakaian kami terlempar entah kemana.

Aku cepat bangun dan mandi. Kubersihkan kemaluanku dari lumuran sperma Bang Darius. Kemudian kurapikan kembali kamarku. Aku ganti seprei dan sarung bantalnya. Aku pastikan tak ada lagi jejak-jejak yang akan mengundang kecurigaan suamiku. Untuk menutupi cupang-cupang di dadaku aku cukup pakai baju yang rapat. Yang membuat aku agak panik adalah cupang di leher. Akhirnya aku putuskan untuk berpura-pura terserang batuk sehingga aku selalu menggunakan selendang penutup leher. Ternyata cupang-cupang itu baru hilang sesudah 4 hari.

Beberapa hari sesudah peristiwa itu, aku banyak melamun. Aku membayangkan kembali nikmat luar biasa yang kudapatkan dari Bang Darius. Rasa sesak vaginaku saat mencengkeram kemaluannya sungguh tak bisa kulupakan. Rasa legit saat cairan birahiku mulai membasah untuk mengiringi pompaan kemaluan Bang Darius benar-benar tak pernah kuraih dari Mas Surya.

Sejak hari itu aku tak pernah jumpa lagi dengan Bang Darius. Menurut temannya dia telah pulang ke kampung. Dia menggarap sawah warisan orang tuanya. Aku sedikit menyesal karena pada hari itu aku nggak sempat membayar upahnya.

Terus terang aku akui, berbulan-bulan sesudahnya aku dilanda rasa sepi. Kepuasan seksual semakin sulit kudapatkan dari suamiku. Tentu saja aku tidak mungkin terjun menjadi perempuan haus seks yang bisa kuraih dengan mudah karena kecantikan dan sensual yang kumiliki. Aku ingat pada kata-kata seorang teman, bahwa kepuasan seksual tak akan habis-habisnya kecuali seseorang telah memahami makna dari kepuasan itu.

Kini aku mencoba belajar memahami kata-kata itu. Dan rupanya Mas Surya sangat peduli padaku. Dia memiliki kepekaan dan bisa membaca bahwa aku sedang bermasalah. Pada saat dia mendapatkan cuti dari kantornya yang selama 1 bulan perusahaannya juga memberikan bonus berupa pilihan tamasya ke kota-kota dunia. Mau ke New York, Paris, Tokyo atau kota dan negeri lain. Sesudah mempelajari tempat-tempat tujuan dari berbagai brosur yang kami dapatkan dari agen perjalanan akhirnya kami memilih tamasya safari ke Serengeti, taman nasional di Afrika. Tempat itu sangat eksklusive.

Mungkin tidak menarik bagi turis populer. Kami menikmati pemandangan alam yang sungguh fantastis saat matahari terbit maupun tenggelam. Kami langsung menyaksikan kehidupan binatang liar banteng, singa, jerapah, cheetah dan sebagainya di alamnya yang sejati. Selama lebih dari 20 hari kami tidur di pondok-pondok pedalaman Afrika itu. Kami makan makanan asli setempat yang tentunya sudah diolah dengan standar makanan yang baik, karena pondok itu dikelola oleh jaringan hotel internasional. Kami tidak menonton TV dan tidak berhubungan telepon dengan dunia luar untuk lebih mendapatkan dan menghayati suasana yang benar-benar alami selama kami tinggal.

Dan yang hebat, aku dan Mas Surya merasakan sebagai bulan madu kami yang kedua. Aku bisa meraih kembali kegembiraanku sebagaimana kegembiraan sebelum menonton VCD di tempat Mbak Sari itu. Kini kusadari betapa Mas Surya telah sepenuhnya menunjukkan kemampuannya sebagai lelaki sejati. Berkali-kali aku berhasil meraih orgasme pada setiap hubungan seksual bersamanya. Saat pulang aku sepertinya lahir kembali ke dunia. Mampu memandang hari depan yang penuh cerah dan kegembiraan. Jauh dari sekedar mengejar kepuasan dunia.

Takut Hamil

Kejadian ini terjadi beberapa tahun lalu ketika aku masih kuliah di suatu perguruan tinggi di kota BS. Saat itu, aku punya satu teman yang cukup dekat, Dian namanya. Dia gadis Solo tulen, yang kalem, sangat lemah lembut, baik dalam berbicara, berjalan, dan sebagainya. Pokoknya, cKejadian ini terjadi beberapa tahun lalu ketika aku masih kuliah di suatu perguruan tinggi di kota BS. Saat itu, aku punya satu teman yang cukup dekat, Dian namanya. Dia gadis Solo tulen, yang kalem, sangat lemah lembut, baik dalam berbicara, berjalan, dan sebagainya. Pokoknya, cewek Solo seperti yang sering dideskripsikan orang ada padanya.

Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggangnya, kulitnya putih persih, tinggi sekitar 165 cm, dan berat badan yang tergolong kurus, mungkin hanya 40 kg atau malah kurang. Hanya satu yang kurang dari dirinya, yaitu payudaranya tidak menonjol seperti gadis lain di usianya. Karena ada salah satu teman dari kami yang memiliki payudara sangat menonjol, mungkin ada pada ukuran 36 atau malah 38. Gadis itu bernama Mia. Tapi cerita ini tidak berkisah tentang Mia.

Sebenarnya tidak ada hubungan yang cukup relevan antara diriku dan Dian. Hanya dalam beberapa kali, secara tidak sengaja aku bersama dia dalam satu kereta menuju kota Solo. Akhirnya hal tersebut membuat kami menjadi lebih akrab. Kemudian kami juga punya satu kelompok informal, yang sering bertemu sekedar berhura-hura atau ‘cangkruk’ istilahnya. Kami saat itu masih semester 5, belum KKN, dan masih banyak terlibat kuliah-kuliah teori dan banyak berkutat pada tugas-tugas membuat makalah.

Aku mendengar bahwa Dian baru saja putus dengan pacarnya, yaitu salah seorang dari kelompok kami juga. Cerita pastinya tidak kuketahui. Iseng, suatu sore aku datang ke kostnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakanku. Dian menerimaku di teras rumah dengan menggunakan celana pendek santai dan kaos oblong. No problem, karena aku temannya, dan sudah beberapa kali ke situ.

Aku bertanya kenapa Dian putus, dan apakah pacarnya tersebut yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Ternyata, hanya karena pertimbangan dari kakaknya, Dian rela berpisah karena alasan masih kuliah dan belum berpikir tentang hubungan yang serius dengan lawan jenis. Lucu. Saat duduk berdampingan itu, aku melirik ke kakinya yang jenjang, dan banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Wah, kecamatannya aja kayak gini ya..,” kataku sambil mengusap dengkulnya, “Apalagi kalo ibukotanya..?”
Dian hanya meringis tertawa, dan tidak menjawab. Sore itu tidak ada hal yang menarik yang dapat diceritakan.

Keesokannya, setelah selesai kuliah, kira-kira jam 2 siang, hari sangat mendung. Aku bergegas pulang, karena memang tidak ada rencana pergi atau ngelayap, serta masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Makanya aku pulang saja ke rumah kontrakanku. Sesampainya di sana, aku melihat ada motor bebek hitam diparkir di halaman, sedangkankan pintu garasinya terbuka.
Ada tamu, pikirku.
Ternyata tamu tersebut Dian, yang sebenarnya tadi ketemu di ruang kuliah.

“Tumben ke sini, ada apa Di..?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Nggak boleh aku main ke sini?” balasnya.
“Emang mau main apa..?” aku berusaha bercanda sambil mendorong motornya masuk garasi.
Aku kemudian mengajaknya masuk rumah.
“Sepi amat tempatmu Ko..?” tanya Dian seraya memperhatikan isi ruang tamuku yang memang sangat lengang.

Selain hanya berdua bersama seorang teman yang sedang mengambil kuliah Doktoralnya, ruang tamu itu berisi seperangkat kursi tamu dan beberapa lukisan. Selebihnya kosong.

Kemudian kami bercerita panjang lebar, mulai tentang materi kuliah, sampai mungkin siapa ketua RT di Timtim pun kami bahas. Sekitar setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras, hingga rumah tetangga depan pun sulit terlihat.

“Wah, aku susah pulangnya nih..!” kata Dian sambil berdiri di depan kaca.
“Ya udah, ditunggu saja, nanti kalo airnya habis hujannya berhenti juga.” jawabku.
Lalu aku memasak air untuk membuat teh hangat. Setelah itu, obrolan berlanjut lagi. Nah, pada saat aku menyiapkan teh di meja makan, Dian menyusul. Tidak ada yang menarik untuk aku berpikir jorok terhadapnya.

Pada saat berdampingan itu, aku bertanya kepada Dian, “Di, kamu waktu pacaran sama Ari udah pernah dicium, belum..?”
“Boro-boro disun, dibelai aja belum, ehh bubar.” katanya sambil terus mengaduk teh.
“Kamu mau tahu rasanya dicium..?” pancingku.
Dian hanya memandangku, tapi dengan sorot yang lain. Antara takut, malu, atau entah.. mungkin ingin juga.

Aku lalu memegang kedua tanganya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Dian diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Dian tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Dian membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.

“Di, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Dian kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Dian. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan kemeja yang dikenakan Dian, dan supaya tidak ada protes dari Dian, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Dian mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Dian, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil.

Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang tipis itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Dian terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Dian lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, setengah baju Dian terbuka. Nampak payudaranya sangat putih, namun tidak besar. Aku bahkan dapat memasukkan seluruh payudaranyanya dalam mulutku. Dian hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Dian hanya mampu menggigit-gigit bibirnya.

Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Dian yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Dian akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Dian hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Dian, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Dian. Untung besar pikirku. Besok-besok belum tentu ada kesempatan seperti ini. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Dian, kulot hitam yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Dian yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Dian sudah tidak mampu lagi berkata-kata.Kurasakan gundukan daging di selangkangan Dian lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita. Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Benar pikirku selama ini, rambut kemaluannya sangat lebat. Hanya saja cukup halus dan, terutama, wangi. Ah, rajin juga Dian merawat selangkangnya.

Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Dian semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Dian menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

“Di, mau yang lebih dari ini..?” tanyanku di sela-sela kesibukan menjilati kemaluan Dian.
“Mau diapain Ko..?” tanya Dian pasrah.
“Aku takut..” sambungnya.
“Enggak pa-pa kok, enggak bakal sakit.” kataku.
“Aku jamin lah, nggak bakal sakit. Aku tidak bakal memperkosamu.” sambungku lagi.

Lalu Dian kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Dian kecil dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Dian menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Saking lebatnya rambut kemaluan Dian, terpaksa kusibak dengan jari lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Dian. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Asin tapi sungguh sangat merangsang kelakianku.

Aku sebenarnya tersiksa, karena kemaluanku sakit terhimpit di dalam celana jeans-ku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku tidak boleh menyakiti Dian. Sudah janji.

Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Dian, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.

“Ohh, Ko.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung hujan lebat, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Dian orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Dian orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula. Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.

“Di, baru kali ini ngerasain seperti ini..?” tanyaku.
“He eh..” sahutnya.
“Itu namanya orgasme.., beruntung lho kamu ngerasain seperti tadi.” sambungku.
“O.. orgasme itu kayak itu..?” sahutnya lagi dengan wajah kemarahan seperti kepiting rebus.
“Gimana, enak nggak..?” tanyaku.
“Ngg.. not bad..!” jawabnya menggodaku.
Padahal aku sangat sangat yakin, dibandingkan hidangan yang pernah disantapnya, orgasme yang barusan dialaminya jauh lebih nikmat.

“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Ko..!” erang Dian saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Ko. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, tapi kemaluanku sangat sakit tergencet dalam celana.
“Di, biar fifty-fifty, kamu harus lihat punyaku.” kataku sambil mengeluarkan meriamku yang segera megacung tegak di hadapan Dian.

Dian agak kaget melihat batang kemaluanku telah mengacung sedemikian rupa di hadapannya. Aku yakin, itu pertama kalinya Dian melihat batang kemaluan pria dewasa secara langsung.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan batang tersebut ke arahnya.
Dian menerima batang itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat batangku berada dalam genggaman Dian. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

“Apa semua laki anunya bisa segede ini..?” tanya Dian.
“Wah, kamu belum tahu aja, kalo Negro bisa 30 centi, hitam, dan gede.” kataku sambil menikmati usapan dan belaian tangannya.
Dian kemudian tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya tanpa penutup. Ia mengatupkan kedua kakinya rapat-rapat. Lalu mencari celana dalamnya yang dari tadi teronggok di lantai.

“Please.., jangan dipakai dulu dong CD-nya..!” pintaku.
“Punyaku kan belum diapa-apain..” kataku lagi.
“Emang ini diapain, Ko..?” tanya Dian.
“Terserah lah, asal tidak dipotong..!” kataku lagi.
Dian kemudian kuajari mengocok batang tersebut perlahan-lahan. Nikmat sekali.

“Kalo mau, ini masukin aja di mulutmu..!”
“Ah.., enggak ah..!”
“Ya nggak pa-pa sih, tapi khan biar adil. Punyamu tadi kan juga pake mulut.” kataku.
Akhirnya meski agak jijik, Dian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Dian tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.

“Di, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung batang kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Dian yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Dian.. ohh..!”
Dian tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.

“Di, udah.. sakit..!”
“Itu namanya sperma, kalo masuk ke punyamu dan pas waktunya, bisa jadi junior.” kataku.
Dian mendengarkan hal itu tetapi lebih sibuk mencari kulotnya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai.

Setelah sekian waktu, Dian keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum.
“Hujannya udah reda, aku mau pulang. Capek..!” kata Dian seraya membereskan barang bawaannya.
“Di, kalo kamu suka sama apa yang kita kerjakan tadi, besok kalo kamu pingin, kamu pake jaket dan segera ke sini waktu kuliah pertama selesai.” ajakku kepada Dian.
Dia hanya diam saja sambil menatap ke arahku.

“Tapi, kalo kamu tidak suka, oke, aku minta maaf. Aku janji tidak akan ngasih tahu siapa pun.” kataku kemudian.
Dian tetap diam dan tanpa berkata-kata, aku terpaksa mengantarkan Dian hingga keluar dari halaman rumahku.

Keesokan harinya, aku sengaja telat ikut kuliah pagi. Selain malas, dosennya juga membosankan. Sambil masuk dari pintu belakang, aku mencari-cari wanita kurus dengan rambut panjang. Ternyata Dian berada di kursi paling depan, bersebelahan dengan teman-teman sekelompoknya (yang sebenarnya manis-manis, tetapi menurut beberapa kalangan, mereka sombong dan sering berlagak paling pintar). Tapi aku tidak ambil pusing. Yah, mereka toh tidak pernah konflik dengan diriku, dan yang jelas, siapa tahu aku dapat meniduri salah satu dari mereka (hahaha).

Ketika kuliah selesai, aku sengaja tidak segera beranjak keluar ruangan, tapi menunggu Dian. Bayangkan.., ternyata Dian mengenakan jaket. Wah, pertanda apa nih, pikirku.
“Hai Dian..” sapaku yang dijawab Dian dengan senyumnya.
“Kamu pake jaket yah..?” kataku lagi seperti orang bodoh.
“Emang nggak boleh..?” jawabnya lagi.

Seperti yang sudah kami sepakati, kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Namun, begitu keluar parkiran dengan kendaraan Dian, dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Budenya (yang sudah lama menjanda, dan tinggal di kota yang sama). Sesampai di sana, aku agak heran ketika rumah tersebut sepi.

“Kok sepi Di..?”
“Iya, Bude lagi pergi ke Solo, ada saudara yang sakit.”
“Lha, trus rumahnya yang jaga siapa..?”
“Sebenarnya ada pembantu, tapi dia ijin pulang kampung dua hari, jadi aku yang terpaksa jagain nih..!”

Begitu pintu garasi kututup, kemudian barang bawaan sudah kuletakkan di meja, langsung Dian kupeluk, bibirnya yang penuh kulumat. Dian tidak diam saja, berbeda seperti kemarin, kali ini Dian membalas pagutan dan kuluman lidahku. Sambil melumat bibirnya, tanganku tidak diam saja, tapi mulai bergerilya, mengelus dan memeras payudaranya, dan sesekali mengusap selangkang Dian. Dian melakukan hal yang sama, dia mengelus kemaluanku yang otomatis kejang dan kaku sekali.

Ah.., nikmat sekali setiap belaian dan usapan tangan Dian di selangkanganku. Tidak tahan hanya demikian, aku segera melepaskan ziper dan melepaskan celana panjang beserta celana dalamku, hingga batang kemaluanku lepas dari siksanya. Batang kemaluanku sepanjang 20 cm itu segera dikocok Dian dan diremas dengan mesra. Tanganku tidak diam juga, karena blouse dan celana panjang Dian segera teronggok di lantai. Bra krem dengan sekali jentik segera terlepas dari punggung Dian.

Aku kemudian jongkok di hadapan Dian, mengamati gundukan daging di selangkangnya yang masih terbungkus celana dalam satin berwarna merah muda. Sepertinya Dian sengaja menyiapkan dirinya. Bulu-bulu halus yang kemarin kusaksikan, kini sudah lebih teratur, tidak mencuat di sana sini dan keluar dari sisi-sisi celana dalamnya.

Aku menghirup udara di depan kemaluan Dian dalam-dalam. Wah.., harum.. Dan dengan sekali rengkuh, sisa kain terakhir di tubuh Dian lenyap. Aku kemudian membimbing Dian ke sofa di ruang tamu. Membuka kedua kakinya untuk lebih mengangkang. Kemudian kususupkan kepalaku di antara pangkal pahanya. Lidahku menyapu seluruh permukaan vagina Dian, yang tidak lama kemudian basah. Cairan asin dan lembab membasahi kemaluannya.

Dian hanya merintih kecil saat ujung lidahku menyapu vaginanya. Kadangkala dia terpekik, saat dengan penuh perasaan bibir vaginanya kusedot atau ketika ujung lidahku menusuk ke lubang kemaluannya yang terus menerus mengeluarkan cairan. 5 menit aku memperlakukan Dian seperti itu, kadang dengan cepat lidahku menyapu, kadang dengan sedotan-sedotan dan kecupan.

Dian mendelik dan kakinya mengejang. Tangannya menjambat rambutku. Wah.., Dian pasti sedang orgasme, pikirku. Aku kemudian menghentikan aktivitasku beberapa saat, untuk menenangkan Dian. Setelah reda, aku lalu berdiri, mengangsurkan batang kemaluanku yang mengacung penuh. Sebenarnya agak sakit kalau si penis ini bangun dengan kekuatan penuh seperti ini.

Dian menerimanya, mengusap perlahan lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Awalnya hanya dikeluar-masukkan tanpa hisapan. Namun perlahan-lahan, Dian mulai menikmati dan memperlakukan batang penisku seperti menghisap permen lolipop. Dikecup, dihisap dan dengan kecepatan tinggi keluar masuk mulutnya. Meski sudah berusaha keras, tapi ukuran penisku yang lumayan itu tidak mampu masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tapi cukuplah untuk membuatku merem melek merasakan nikmat yang oke punya ini.

Meski Dian sudah mendorong maju dan mundur kepalanya, aku tetap mendorong pantatku maju mundur sambil memegang rambutnya. Ahh.. nikmat sekali.
“Dian, kamu cepat bisa ya..!”
“Heeh.. mmhh.. shh..” jawabnya.

Kemudian aku mengangkat Dian untuk rebahan di sofa, tentu dengan kaki yang full mengangkang. Wuih.., indahnya itu vagina. Merah muda dan mengkilap. Tidak kusia-siakan kesempatan yang tidak mungkin ada tiap hari itu. Aku kembali melumat bibir Dian bagian bawah itu, gurih dan mulai basah lagi. Sapuan-sapuan lidahku ditanggapi Dian dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya dia sangat menikmati permainanku.

Sambil mencuri kesempatan, aku menyusupkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yang merekah. Dian terus merintih keenakan, tapi dia tidak menyadari salah satu jariku kini sibuk mengorek-ngorek vaginanya. Lalu aku bangkit, dan dalam posisi jongkok aku mengarahkan kepala kemaluanku ke depan lubang vaginanya. Dian tersentak kaget.
“Jangan Ko.., jangan dimasukin, aku masih perawan..!”

Tapi aku yang sudah gelap mata dan berpikir kapan lagi kesempatan seperti ada lagi, tidak perduli. Dan dengan sedikit memaksa, perlahan ujung kemaluan itu masuk, sesekali kutarik, lalu kutekan kembali. Dian menggigit bibirnya dan meringis, mungkin benar-benar sakit. Untuk mengatasinya, aku mengulum payudaranya sambil menekan batang penisku masuk lebih dalam. 2 cm, kemudian kucabut lagi, lalu kutekan, 5 cm, begitu seterusnya, sampai setengah batang itu masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Dian meraih punggungku, dan kuku-kukunya menancap erat. Sakit juga ketika aku menekan dengan keras pinggulku ke bawah untuk menusuk lubang kemaluan Dian. Seiring dengan itu, di ujung batang kemaluanku, aku merasa telah menembus sesuatu. Wah.., selaput dara Dian akhirnya berhasil kuterobos.

Dian masih setengah menjerit, namun dengan perlahan dan pasti aku mendorong keluar masuk batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang menjadi basah sekali.
Lama kelamaan, Dian mulai ikut mengoyangkan pinggulnya. Wah, dia mulai menikmati.
“Ahh.., terus Ko..! Aaghh.., sshh.. shh..!” erang Dian berulang-ulang.
Tangannya merangkulku erat. Aku mempercepat gerakan menusuk.., mencabut.., berulang-ulang.

Tidak lama, “Oohh.., aaghh.., aduhh Ko, Aku nggak kuat..!”
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia orgasme hebat sekali. Aku juga tidak mampu lagi menahan diri, dan kurasakan sesuatu yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Akhh.. oohh..! Di.. keluarin di dalam atau di luar..?” tanyaku bodoh, karena saat itu Dian masih meratapi orgasme yang sebenarnya dalam hubungan seks sesungguhnya.
Dan tidak dapat ditahan lebih lama lagi, jebol sudah pertahanan. Banyak sekali batang kemaluanku menyemburkan sperma. Dan sialnya, tidak terkontrol karena semua tumpah di dalam vagina.

Batangku tertancap sempurna ketika semburan sperma meledak. Bingung aku ketika seluruh sperma sudah tuntas kumuntahkan. Wah, ini anak kalau hamil, mati aku. Aku lalu berbaring di samping Dian yang masih terengah-engah. Saat aku melirik ke bagian bawahnya, tampak cairan putih mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya, bercampur dengan bercak-bercak merah. Di pelupuk matanya, masih ada air mata yang makin lama semakin banyak. Aku tahu, Dian pasti menyesali hilangnya keperawanannya.

“Nggak pa-pa Say. Aku akan tanggungjawab.” kataku mencoba menghiburnya sambil memeluk dan mengecup dahinya.
Kami lalu tertidur kelelahan dan bangun beberapa jam kemudian.

Sejak saat itu, aku agak segan untuk bertemu langsung dengan Dian hingga beberapa hari kemudian. Yang kuperhatikan adalah kegiatan Dian di kampus. Biasanya Dian rajin, dan kira-kira dua minggu sejak kejadian itu, Dian tetap berada di perpustakaan jurusan (yang relatif lebih kecil daripada perpustakaan fakultas) padahal beberapa teman lainnya sedang belajar.

Beberapa teman lainnya ada yang mengajak Dian untuk belajar bersama, tapi ditolaknya. Sempat kudengar kalau Dian mengatakan sedang halangan. Wah.., mendengar hal itu agak lega juga aku. Kemudian kudekati dirinya yang menanggapiku acuh tidak acuh. Aku tahu kalau dia masih marah.

“Sorry Dian, kamu nggak apa-apa..?”
Kemudian dia mau ketika kuajak keluar ruangan. Di kantin yang kebetulan sepi, Dian menangis sesengukan. Ternyata Dian marah karena aku telah merenggut keperawanannya dan dia bingung bagaimana kalau hamil. Setelah menjelaskan dengan segombal-gombalnya, Dian mau sedikit tersenyum.

“Tapi, gimana rasanya Di..?” tanyaku.
“Engg.., enak sih..” jawabnya malu-malu.
“Kalo kita buat lagi gimana..?” pancingku.
“Tapi nggak mau kalau dimasukin. Takut Ko..!”

Sejak saat itu, kami sering ke kostku atau ke tempatnya untuk saling melumat dan mengoral. Sesekali aku masih dapat memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya, tapi ketika ejakulasi aku mengeluarkannya di luar. Bisa di perutnya, dadanya, dan lebih gila, di wajahnya.

TAMAT
ewek Solo seperti yang sering dideskripsikan orang ada padanya.

Rambutnya panjang hingga menyentuh pinggangnya, kulitnya putih persih, tinggi sekitar 165 cm, dan berat badan yang tergolong kurus, mungkin hanya 40 kg atau malah kurang. Hanya satu yang kurang dari dirinya, yaitu payudaranya tidak menonjol seperti gadis lain di usianya. Karena ada salah satu teman dari kami yang memiliki payudara sangat menonjol, mungkin ada pada ukuran 36 atau malah 38. Gadis itu bernama Mia. Tapi cerita ini tidak berkisah tentang Mia.

Sebenarnya tidak ada hubungan yang cukup relevan antara diriku dan Dian. Hanya dalam beberapa kali, secara tidak sengaja aku bersama dia dalam satu kereta menuju kota Solo. Akhirnya hal tersebut membuat kami menjadi lebih akrab. Kemudian kami juga punya satu kelompok informal, yang sering bertemu sekedar berhura-hura atau ‘cangkruk’ istilahnya. Kami saat itu masih semester 5, belum KKN, dan masih banyak terlibat kuliah-kuliah teori dan banyak berkutat pada tugas-tugas membuat makalah.

Aku mendengar bahwa Dian baru saja putus dengan pacarnya, yaitu salah seorang dari kelompok kami juga. Cerita pastinya tidak kuketahui. Iseng, suatu sore aku datang ke kostnya yang kebetulan tidak jauh dari rumah kontrakanku. Dian menerimaku di teras rumah dengan menggunakan celana pendek santai dan kaos oblong. No problem, karena aku temannya, dan sudah beberapa kali ke situ.

Aku bertanya kenapa Dian putus, dan apakah pacarnya tersebut yang menjadi penyebab perpisahan tersebut. Ternyata, hanya karena pertimbangan dari kakaknya, Dian rela berpisah karena alasan masih kuliah dan belum berpikir tentang hubungan yang serius dengan lawan jenis. Lucu. Saat duduk berdampingan itu, aku melirik ke kakinya yang jenjang, dan banyak ditumbuhi bulu-bulu halus.

“Wah, kecamatannya aja kayak gini ya..,” kataku sambil mengusap dengkulnya, “Apalagi kalo ibukotanya..?”
Dian hanya meringis tertawa, dan tidak menjawab. Sore itu tidak ada hal yang menarik yang dapat diceritakan.

Keesokannya, setelah selesai kuliah, kira-kira jam 2 siang, hari sangat mendung. Aku bergegas pulang, karena memang tidak ada rencana pergi atau ngelayap, serta masih banyak tugas yang harus kuselesaikan. Makanya aku pulang saja ke rumah kontrakanku. Sesampainya di sana, aku melihat ada motor bebek hitam diparkir di halaman, sedangkankan pintu garasinya terbuka.
Ada tamu, pikirku.
Ternyata tamu tersebut Dian, yang sebenarnya tadi ketemu di ruang kuliah.

“Tumben ke sini, ada apa Di..?” tanyaku.
“Enggak ada apa-apa. Nggak boleh aku main ke sini?” balasnya.
“Emang mau main apa..?” aku berusaha bercanda sambil mendorong motornya masuk garasi.
Aku kemudian mengajaknya masuk rumah.
“Sepi amat tempatmu Ko..?” tanya Dian seraya memperhatikan isi ruang tamuku yang memang sangat lengang.

Selain hanya berdua bersama seorang teman yang sedang mengambil kuliah Doktoralnya, ruang tamu itu berisi seperangkat kursi tamu dan beberapa lukisan. Selebihnya kosong.

Kemudian kami bercerita panjang lebar, mulai tentang materi kuliah, sampai mungkin siapa ketua RT di Timtim pun kami bahas. Sekitar setengah jam kemudian, hujan turun dengan deras, hingga rumah tetangga depan pun sulit terlihat.

“Wah, aku susah pulangnya nih..!” kata Dian sambil berdiri di depan kaca.
“Ya udah, ditunggu saja, nanti kalo airnya habis hujannya berhenti juga.” jawabku.
Lalu aku memasak air untuk membuat teh hangat. Setelah itu, obrolan berlanjut lagi. Nah, pada saat aku menyiapkan teh di meja makan, Dian menyusul. Tidak ada yang menarik untuk aku berpikir jorok terhadapnya.

Pada saat berdampingan itu, aku bertanya kepada Dian, “Di, kamu waktu pacaran sama Ari udah pernah dicium, belum..?”
“Boro-boro disun, dibelai aja belum, ehh bubar.” katanya sambil terus mengaduk teh.
“Kamu mau tahu rasanya dicium..?” pancingku.
Dian hanya memandangku, tapi dengan sorot yang lain. Antara takut, malu, atau entah.. mungkin ingin juga.

Aku lalu memegang kedua tanganya, lalu secepat kilat mendaratkan ciuman di pipinya. Dian diam saja. Kesempatan itu tidak kusia-siakan, lalu mulutku kuarahkan ke bibirnya. Dian tetap diam saja. Tidak menolak, tapi tanpa reaksi. Perlahan bibirnya kulumat, dan respon yang terjadi adalah Dian membuka mulutnya, sementara tangannya mencengkeram tanganku.

“Di, tolong mulutnya dibuka..!” bisikku di telinganya sambil kemudian kembali mengecup bibirnya.
Dian kemudian mulai membalas memagut bibirku.
“Nah, begitu.., dibalas aja..!” kataku.
“Rasakan aja, nggak sakit kok..,” lanjutku sambil tangan kananku mengusap pinggangnya.

Pagutannya semakin cepat dan terdengar dengus napas yang semakin keras dari mulut Dian. Saatnya mungkin hampir tiba, dan tidak kusia-siakan, bibirku kemudian turun ke lehernya yang jenjang dan putih. Kecupan-kecupan hangat kudaratkan di sekujur lehernya, sementara tanganku tidak hentinya mengelus pinggangnya. Sementara tangan kiriku tengah berusaha menyusup ke belahan kemeja yang dikenakan Dian, dan supaya tidak ada protes dari Dian, bibirnya segera kukulum, lidahnya serta langit-langit mulutnya kujelajahi dengan lidah.

Rupanya Dian mulai terbakar birahi, hingga dia tidak sadar ketika salah satu tanganku telah berada di antara gundukan daging di dadanya. Beberapa kancing baju yang terlepas pun tidak disadari Dian, yang sekarang sibuk membalas lumatan bibirku dan mengeluarkan erangan-erangan kecil.

Aku kemudian menunduk, dan bibirku mencari di antara dadanya yang tipis itu. Hingga akhirnya kutemukan puting payudaranya yang keras, namun terasa lembut. Dian terpekik sejenak, manakala dia tahu, bibirku telah menjepit salah satu puting payudaranya. Namun birahi telah membakarnya, hingga Dian lupa apa saja yang telah terjadi padanya.

Tanganku bekerja cepat. Hasilnya, setengah baju Dian terbuka. Nampak payudaranya sangat putih, namun tidak besar. Aku bahkan dapat memasukkan seluruh payudaranyanya dalam mulutku. Dian hanya bersandar ke dinding. Wajahnya kemerahan, seakan menahan sesuatu. Pada saat aku menyedot dan menghisap payudaranya, Dian hanya mampu menggigit-gigit bibirnya.

Tangan kananku bekerja kembali, kali ini meremas pantat Dian yang kenyal dan cukup proporsional. Aku yakin, jika dalam keadaan normal, Dian akan marah besar jika pantatnya kuremas. Tapi pada saat ini, dia seakan pasrah pada apa yang akan kuperbuat. Aku dalam posisi sedang menetek sambil berdiri, sementara Dian hanya menyandarkan punggungnya ke tembok. Tangan kananku sambil meremas pantat, mencari restlueting, yang akhirnya kutemukan.

Tangan kiriku berada tepat di selangkang Dian, dan tidak tinggal diam, bekerja mengusap bagian bawah Dian. Untung besar pikirku. Besok-besok belum tentu ada kesempatan seperti ini. Kedua tanganku bekerja optimal. Hingga tanpa disadari lagi oleh Dian, kulot hitam yang dikenakannya telah jatuh ke lantai. Secepat kilat, aku jongkok lalu menciumi kemaluan Dian yang saat itu masih dibalut celana katun coklat muda. Dian sudah tidak mampu lagi berkata-kata.Kurasakan gundukan daging di selangkangan Dian lembab dan mengeluarkan aroma, antara bau keringat dan bau lain, mungkin khas bau kemaluan wanita. Tampak bulu-bulu halus dan panjang ada di jepitan celana dalam. Tidak tertutupi secara sempurna, hingga tampak menyembul di selangkangannya. Benar pikirku selama ini, rambut kemaluannya sangat lebat. Hanya saja cukup halus dan, terutama, wangi. Ah, rajin juga Dian merawat selangkangnya.

Perlahan pinggir celana tersebut kutarik, lalu lidahku mulai mencari-cari. Asin dan lembab terasa di lidahku. Tanpa memperdulikan rasa seperti itu, lidahku terus mencari. Napas Dian semakin memburu, dan setiap kali lidahku menari di antara belantara rambut kemaluannya, Dian menggerakkan pinggulnya searah dengan gerakan lidahku.

“Di, mau yang lebih dari ini..?” tanyanku di sela-sela kesibukan menjilati kemaluan Dian.
“Mau diapain Ko..?” tanya Dian pasrah.
“Aku takut..” sambungnya.
“Enggak pa-pa kok, enggak bakal sakit.” kataku.
“Aku jamin lah, nggak bakal sakit. Aku tidak bakal memperkosamu.” sambungku lagi.

Lalu Dian kubimbing ke kursi makan, dan segera aku melucuti celana dalamnya yang basah kuyup oleh cairan asin. Kakinya kubuka selebar mungkin. Nampak di sana, sejumput rambut hitam sangat lebat, menutupi gundukan belahan daging. Merah muda dan mengkilap karena basah oleh cairan. Bibir vagina Dian kecil dan tersembunyi, sementara klitorisnya coklat tampak mengeras. Cairan terus saja mengalir dari lubang di bagian bawah.

Dian menutup matanya kembali saat aku jongkok di hadapannya. Saking lebatnya rambut kemaluan Dian, terpaksa kusibak dengan jari lalu lidahku mulai menari, mengusap dan menjilati seluruh bagian vagina Dian. Tangannya diletakkan di bahuku, kadangkala rambutku ditariknya saat klitorisnya kuhisap. Asin tapi sungguh sangat merangsang kelakianku.

Aku sebenarnya tersiksa, karena kemaluanku sakit terhimpit di dalam celana jeans-ku. Tapi apa boleh buat, saat itu aku tidak boleh menyakiti Dian. Sudah janji.

Sambil menjilati serta mengulum kemaluan Dian, tangan kananku meremas-remas payudaranya. Bergantian dari kiri dan kanan. Putingnya keras mengacung. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, kedua kakinya mengatup, menjepit kepalaku serta tangannya menarik rambutku. Sakit.

“Ohh, Ko.. kenapa ini.. aduhh..!” katanya dengan suara lumayan keras.
Untung hujan lebat, jadi aku tidak perlu khawatir orang lain mendengar teriakan Dian orgasme. Hal ini berlangsung cukup lama, 5 menit mungkin. Dian orgasme, mungkin yang pertama kalinya dalam hidupnya. Aku biarkan saja, hingga tubuhnya kembali seperti semula. Tetapi lidahku tidak berhenti mengusapi dan menjilati kemaluannya yang saat ini benar-benar sangat basah.

“Di, baru kali ini ngerasain seperti ini..?” tanyaku.
“He eh..” sahutnya.
“Itu namanya orgasme.., beruntung lho kamu ngerasain seperti tadi.” sambungku.
“O.. orgasme itu kayak itu..?” sahutnya lagi dengan wajah kemarahan seperti kepiting rebus.
“Gimana, enak nggak..?” tanyaku.
“Ngg.. not bad..!” jawabnya menggodaku.
Padahal aku sangat sangat yakin, dibandingkan hidangan yang pernah disantapnya, orgasme yang barusan dialaminya jauh lebih nikmat.

“Ohh.., aaghh.. aduh.. aduh.. jangan Ko..!” erang Dian saat lidahku bekerja secara cepat melumat lagi klitorisnya.
“Udah Ko. Aku udah nggak kuat..!” katanya kemudian.
Aku lalu berdiri, tapi kemaluanku sangat sakit tergencet dalam celana.
“Di, biar fifty-fifty, kamu harus lihat punyaku.” kataku sambil mengeluarkan meriamku yang segera megacung tegak di hadapan Dian.

Dian agak kaget melihat batang kemaluanku telah mengacung sedemikian rupa di hadapannya. Aku yakin, itu pertama kalinya Dian melihat batang kemaluan pria dewasa secara langsung.
“Ayo dong dipegang..” kataku sambil mengangsurkan batang tersebut ke arahnya.
Dian menerima batang itu dengan kedua tangannya. Terasa nikmat saat batangku berada dalam genggaman Dian. Tangannya halus, terutama saat mengelus ujung penisku.

“Apa semua laki anunya bisa segede ini..?” tanya Dian.
“Wah, kamu belum tahu aja, kalo Negro bisa 30 centi, hitam, dan gede.” kataku sambil menikmati usapan dan belaian tangannya.
Dian kemudian tersadar bahwa bagian bawah tubuhnya tanpa penutup. Ia mengatupkan kedua kakinya rapat-rapat. Lalu mencari celana dalamnya yang dari tadi teronggok di lantai.

“Please.., jangan dipakai dulu dong CD-nya..!” pintaku.
“Punyaku kan belum diapa-apain..” kataku lagi.
“Emang ini diapain, Ko..?” tanya Dian.
“Terserah lah, asal tidak dipotong..!” kataku lagi.
Dian kemudian kuajari mengocok batang tersebut perlahan-lahan. Nikmat sekali.

“Kalo mau, ini masukin aja di mulutmu..!”
“Ah.., enggak ah..!”
“Ya nggak pa-pa sih, tapi khan biar adil. Punyamu tadi kan juga pake mulut.” kataku.
Akhirnya meski agak jijik, Dian memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya. Perlahan kutekan keluar masuk berkali-kali. Dian tidak sadar, dan akibat kocokan serta himpitan di bibirnya, aku merasa ada sesuatu yang mendesak dari dalam tubuhku.

“Di, aku mau orgasme, tolong dikocok aja..” kataku.
Lalu keluarlah muntahan cairan hangat dari ujung batang kemaluanku. Sperma itu tumpah di dada Dian yang tidak tertutup sempurna, ada yang mendarat di pipi, juga di paha.
“Ogghh.., Dian.. ohh..!”
Dian tidak berhenti mengocok, meski cairan mani sudah selesai tumpah.

“Di, udah.. sakit..!”
“Itu namanya sperma, kalo masuk ke punyamu dan pas waktunya, bisa jadi junior.” kataku.
Dian mendengarkan hal itu tetapi lebih sibuk mencari kulotnya dan segera menghambur ke kamar mandi. Aku juga mencari kain lap, untuk membersihkan sisa-sisa air maniku yang tumpah di kursi serta lantai.

Setelah sekian waktu, Dian keluar dari kamar mandi. Dia tampak segar karena baru saja membasuh wajahnya. Pakaiannya juga sudah rapi. Aku mendaratkan ciuman di pipinya sambil tersenyum.
“Hujannya udah reda, aku mau pulang. Capek..!” kata Dian seraya membereskan barang bawaannya.
“Di, kalo kamu suka sama apa yang kita kerjakan tadi, besok kalo kamu pingin, kamu pake jaket dan segera ke sini waktu kuliah pertama selesai.” ajakku kepada Dian.
Dia hanya diam saja sambil menatap ke arahku.

“Tapi, kalo kamu tidak suka, oke, aku minta maaf. Aku janji tidak akan ngasih tahu siapa pun.” kataku kemudian.
Dian tetap diam dan tanpa berkata-kata, aku terpaksa mengantarkan Dian hingga keluar dari halaman rumahku.

Keesokan harinya, aku sengaja telat ikut kuliah pagi. Selain malas, dosennya juga membosankan. Sambil masuk dari pintu belakang, aku mencari-cari wanita kurus dengan rambut panjang. Ternyata Dian berada di kursi paling depan, bersebelahan dengan teman-teman sekelompoknya (yang sebenarnya manis-manis, tetapi menurut beberapa kalangan, mereka sombong dan sering berlagak paling pintar). Tapi aku tidak ambil pusing. Yah, mereka toh tidak pernah konflik dengan diriku, dan yang jelas, siapa tahu aku dapat meniduri salah satu dari mereka (hahaha).

Ketika kuliah selesai, aku sengaja tidak segera beranjak keluar ruangan, tapi menunggu Dian. Bayangkan.., ternyata Dian mengenakan jaket. Wah, pertanda apa nih, pikirku.
“Hai Dian..” sapaku yang dijawab Dian dengan senyumnya.
“Kamu pake jaket yah..?” kataku lagi seperti orang bodoh.
“Emang nggak boleh..?” jawabnya lagi.

Seperti yang sudah kami sepakati, kami berjalan beriringan ke tempat parkir. Namun, begitu keluar parkiran dengan kendaraan Dian, dia memintaku untuk mengantarkannya ke rumah Budenya (yang sudah lama menjanda, dan tinggal di kota yang sama). Sesampai di sana, aku agak heran ketika rumah tersebut sepi.

“Kok sepi Di..?”
“Iya, Bude lagi pergi ke Solo, ada saudara yang sakit.”
“Lha, trus rumahnya yang jaga siapa..?”
“Sebenarnya ada pembantu, tapi dia ijin pulang kampung dua hari, jadi aku yang terpaksa jagain nih..!”

Begitu pintu garasi kututup, kemudian barang bawaan sudah kuletakkan di meja, langsung Dian kupeluk, bibirnya yang penuh kulumat. Dian tidak diam saja, berbeda seperti kemarin, kali ini Dian membalas pagutan dan kuluman lidahku. Sambil melumat bibirnya, tanganku tidak diam saja, tapi mulai bergerilya, mengelus dan memeras payudaranya, dan sesekali mengusap selangkang Dian. Dian melakukan hal yang sama, dia mengelus kemaluanku yang otomatis kejang dan kaku sekali.

Ah.., nikmat sekali setiap belaian dan usapan tangan Dian di selangkanganku. Tidak tahan hanya demikian, aku segera melepaskan ziper dan melepaskan celana panjang beserta celana dalamku, hingga batang kemaluanku lepas dari siksanya. Batang kemaluanku sepanjang 20 cm itu segera dikocok Dian dan diremas dengan mesra. Tanganku tidak diam juga, karena blouse dan celana panjang Dian segera teronggok di lantai. Bra krem dengan sekali jentik segera terlepas dari punggung Dian.

Aku kemudian jongkok di hadapan Dian, mengamati gundukan daging di selangkangnya yang masih terbungkus celana dalam satin berwarna merah muda. Sepertinya Dian sengaja menyiapkan dirinya. Bulu-bulu halus yang kemarin kusaksikan, kini sudah lebih teratur, tidak mencuat di sana sini dan keluar dari sisi-sisi celana dalamnya.

Aku menghirup udara di depan kemaluan Dian dalam-dalam. Wah.., harum.. Dan dengan sekali rengkuh, sisa kain terakhir di tubuh Dian lenyap. Aku kemudian membimbing Dian ke sofa di ruang tamu. Membuka kedua kakinya untuk lebih mengangkang. Kemudian kususupkan kepalaku di antara pangkal pahanya. Lidahku menyapu seluruh permukaan vagina Dian, yang tidak lama kemudian basah. Cairan asin dan lembab membasahi kemaluannya.

Dian hanya merintih kecil saat ujung lidahku menyapu vaginanya. Kadangkala dia terpekik, saat dengan penuh perasaan bibir vaginanya kusedot atau ketika ujung lidahku menusuk ke lubang kemaluannya yang terus menerus mengeluarkan cairan. 5 menit aku memperlakukan Dian seperti itu, kadang dengan cepat lidahku menyapu, kadang dengan sedotan-sedotan dan kecupan.

Dian mendelik dan kakinya mengejang. Tangannya menjambat rambutku. Wah.., Dian pasti sedang orgasme, pikirku. Aku kemudian menghentikan aktivitasku beberapa saat, untuk menenangkan Dian. Setelah reda, aku lalu berdiri, mengangsurkan batang kemaluanku yang mengacung penuh. Sebenarnya agak sakit kalau si penis ini bangun dengan kekuatan penuh seperti ini.

Dian menerimanya, mengusap perlahan lalu mulai memasukkannya ke dalam mulutnya. Awalnya hanya dikeluar-masukkan tanpa hisapan. Namun perlahan-lahan, Dian mulai menikmati dan memperlakukan batang penisku seperti menghisap permen lolipop. Dikecup, dihisap dan dengan kecepatan tinggi keluar masuk mulutnya. Meski sudah berusaha keras, tapi ukuran penisku yang lumayan itu tidak mampu masuk ke dalam mulutnya yang mungil. Tapi cukuplah untuk membuatku merem melek merasakan nikmat yang oke punya ini.

Meski Dian sudah mendorong maju dan mundur kepalanya, aku tetap mendorong pantatku maju mundur sambil memegang rambutnya. Ahh.. nikmat sekali.
“Dian, kamu cepat bisa ya..!”
“Heeh.. mmhh.. shh..” jawabnya.

Kemudian aku mengangkat Dian untuk rebahan di sofa, tentu dengan kaki yang full mengangkang. Wuih.., indahnya itu vagina. Merah muda dan mengkilap. Tidak kusia-siakan kesempatan yang tidak mungkin ada tiap hari itu. Aku kembali melumat bibir Dian bagian bawah itu, gurih dan mulai basah lagi. Sapuan-sapuan lidahku ditanggapi Dian dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Tampaknya dia sangat menikmati permainanku.

Sambil mencuri kesempatan, aku menyusupkan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya yang merekah. Dian terus merintih keenakan, tapi dia tidak menyadari salah satu jariku kini sibuk mengorek-ngorek vaginanya. Lalu aku bangkit, dan dalam posisi jongkok aku mengarahkan kepala kemaluanku ke depan lubang vaginanya. Dian tersentak kaget.
“Jangan Ko.., jangan dimasukin, aku masih perawan..!”

Tapi aku yang sudah gelap mata dan berpikir kapan lagi kesempatan seperti ada lagi, tidak perduli. Dan dengan sedikit memaksa, perlahan ujung kemaluan itu masuk, sesekali kutarik, lalu kutekan kembali. Dian menggigit bibirnya dan meringis, mungkin benar-benar sakit. Untuk mengatasinya, aku mengulum payudaranya sambil menekan batang penisku masuk lebih dalam. 2 cm, kemudian kucabut lagi, lalu kutekan, 5 cm, begitu seterusnya, sampai setengah batang itu masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Tiba-tiba Dian meraih punggungku, dan kuku-kukunya menancap erat. Sakit juga ketika aku menekan dengan keras pinggulku ke bawah untuk menusuk lubang kemaluan Dian. Seiring dengan itu, di ujung batang kemaluanku, aku merasa telah menembus sesuatu. Wah.., selaput dara Dian akhirnya berhasil kuterobos.

Dian masih setengah menjerit, namun dengan perlahan dan pasti aku mendorong keluar masuk batang kemaluanku ke dalam vaginanya yang menjadi basah sekali.
Lama kelamaan, Dian mulai ikut mengoyangkan pinggulnya. Wah, dia mulai menikmati.
“Ahh.., terus Ko..! Aaghh.., sshh.. shh..!” erang Dian berulang-ulang.
Tangannya merangkulku erat. Aku mempercepat gerakan menusuk.., mencabut.., berulang-ulang.

Tidak lama, “Oohh.., aaghh.., aduhh Ko, Aku nggak kuat..!”
Tiba-tiba tubuhnya mengejang dan dia orgasme hebat sekali. Aku juga tidak mampu lagi menahan diri, dan kurasakan sesuatu yang mendesak untuk dikeluarkan.
“Akhh.. oohh..! Di.. keluarin di dalam atau di luar..?” tanyaku bodoh, karena saat itu Dian masih meratapi orgasme yang sebenarnya dalam hubungan seks sesungguhnya.
Dan tidak dapat ditahan lebih lama lagi, jebol sudah pertahanan. Banyak sekali batang kemaluanku menyemburkan sperma. Dan sialnya, tidak terkontrol karena semua tumpah di dalam vagina.

Batangku tertancap sempurna ketika semburan sperma meledak. Bingung aku ketika seluruh sperma sudah tuntas kumuntahkan. Wah, ini anak kalau hamil, mati aku. Aku lalu berbaring di samping Dian yang masih terengah-engah. Saat aku melirik ke bagian bawahnya, tampak cairan putih mengalir keluar dari dalam lubang vaginanya, bercampur dengan bercak-bercak merah. Di pelupuk matanya, masih ada air mata yang makin lama semakin banyak. Aku tahu, Dian pasti menyesali hilangnya keperawanannya.

“Nggak pa-pa Say. Aku akan tanggungjawab.” kataku mencoba menghiburnya sambil memeluk dan mengecup dahinya.
Kami lalu tertidur kelelahan dan bangun beberapa jam kemudian.

Sejak saat itu, aku agak segan untuk bertemu langsung dengan Dian hingga beberapa hari kemudian. Yang kuperhatikan adalah kegiatan Dian di kampus. Biasanya Dian rajin, dan kira-kira dua minggu sejak kejadian itu, Dian tetap berada di perpustakaan jurusan (yang relatif lebih kecil daripada perpustakaan fakultas) padahal beberapa teman lainnya sedang belajar.

Beberapa teman lainnya ada yang mengajak Dian untuk belajar bersama, tapi ditolaknya. Sempat kudengar kalau Dian mengatakan sedang halangan. Wah.., mendengar hal itu agak lega juga aku. Kemudian kudekati dirinya yang menanggapiku acuh tidak acuh. Aku tahu kalau dia masih marah.

“Sorry Dian, kamu nggak apa-apa..?”
Kemudian dia mau ketika kuajak keluar ruangan. Di kantin yang kebetulan sepi, Dian menangis sesengukan. Ternyata Dian marah karena aku telah merenggut keperawanannya dan dia bingung bagaimana kalau hamil. Setelah menjelaskan dengan segombal-gombalnya, Dian mau sedikit tersenyum.

“Tapi, gimana rasanya Di..?” tanyaku.
“Engg.., enak sih..” jawabnya malu-malu.
“Kalo kita buat lagi gimana..?” pancingku.
“Tapi nggak mau kalau dimasukin. Takut Ko..!”

Sejak saat itu, kami sering ke kostku atau ke tempatnya untuk saling melumat dan mengoral. Sesekali aku masih dapat memasukkan batang kemaluanku ke dalam kemaluannya, tapi ketika ejakulasi aku mengeluarkannya di luar. Bisa di perutnya, dadanya, dan lebih gila, di wajahnya.

TAMAT

Mamaku Di Entot Tukang Kebun

Kisah ini adalh kisah yg kuceritakan tentang gairah mama.Usiaku saat ini memasuki 22thn.Aku akan menceritakan pengalaman nonton bokep langsung didepan mata pada saat usiaku memasuki 18tahun.Waktu itu mama masih berumur 50thn.Loh pasti dah tahu gimana kalau cewek memasuki penuaan,pasti gairahnya penurun dan penampilanya berkurang.Tapi hal ini tdk terjadi pada mamaku.
Ntah kenapa,semenjak aku kelas 6sd mama mengikuti fitnes dan aktivitas lainnya.Fitnes itupun masih berlanjut hingga aku tamat sma,tapi agak berkurang karena papa tdk sepertinya tdk suka melihat mama dekat dengan om fandy,seorang intruktur fitnes dan juga seorang dj.Aku tdk tahu sampai mama hubungan mereka,tapi kayaknya udah sampe ranjang,soalnya aku pernah memergoki mama sama om fandy berduan diruang tengah.Badan mereka sama2 basah,daster mama juga kusut dan rambut mama berantakan.Waktu itu aku kelas 2SMP.Dan waktu papa pergi kepapua selama 3hari,mama mengajak om fandy tidur dirumah tanpa sepengetahuanku.Yg kutahu mama pulang jam 11malem dengan memakai gaun dada rendah yg teramat sexy menampakan pugungnya.Dan paginya,om fandy mengantarkan aku kesekolah,selama 2hari aku hanya pura2 bodoh sama mama dan om fandy.Setahun kemudian,tepatnya aku kelas 3 smp,mama sdh jarang ketemu om fandy.Mama lebih sering bergaul dengan ibu2 tetangga.Baiklah cukup ceritanya,akan kuceritakan pengalamanku sewaktu sma.
Setiap bulanya,mama mendapat jatah 2jt dari papa untuk membeli kebutuhan rumah tangga.Karena papa mendapat tugas kerja diluar pulau,tepatnya di p.xxxxx mama meminta papa untuk mencarikan tukang kebun yg merawat kebun kami sama mama,dan juga sebagai seorang penjaga.Akhirnya,dapatlah seorang tukang kebun yg dan penjaga yg mendapat tempat tinggal digudang belakang.Namanya sahrul,pak sahrul kalau siang menjadi tukang becak.Dia adlh seorang bapak 58thn,badanya masih sehat,istrinya tinggal bersama anaknya dikampung yg tak jauh dari kota kami.Pak sahrul mempunyai sifat pendiam dan baik hati.Tapi ternyata,pah sahrul mempunyai nafsu yg cukup tinggi.Dikamarnya,terpampang sticker dan majalah bokep.Tak disangka.Kejadian ini bermula diseminggu pak sahrul di rumahku.Setelah kuperhatikan,kayaknya pak sahrul mempunyai nafsu yg tinggi terhadap mama.Aku melihat dia selama 3hr berturut-turut memandangi mama secara tajam.Mungkin karena tdk pernah lagi dijamah,sampai2 aku melihat dia beronani dan menumpahkan di bh mama yg terjemur didepan kamarnya.Aku hanya mendiamkan kelakunya.Mama pun sepertinya tdk menghiraukan keberadaan pak sahrul,mama malah lebih sering memakai daster 1tali,nampaklah ketiak mama dan tonjolan teteknya dibalik daster yg menyembul keluar.Dan juga mama duduk mengakang ditaman bunga belakang yg mengadap ke wc pak sahrul,ketika itu pak sahrul lagi mandi.Mama jg tdk mengetahui pak sahrul melihatnya,dari sudut kanan dibalik tumpukan barang,pak sahrul sedang asyik mengocok zakarnya yg hitam besar.Pada malam jumat,aku dan mama lagi makan malam sama-sama.Beberapa saat kemudian,pak sahrul datang.Selesai makan malam,aku berbincang dengan mama dikamar mama.Saat itu mama mengenakan daster 1tali tanpa tangan,mama juga gak pake bh.Jadi nampak jelas putingnya yg menempel didaster.Tiba2 aku tertidur dikamar mama.Aku terbangun jam 10 ketika akan kencing.Kulihat mama tak berada disampingku.Setelah kencing aku keluar dari kamar mama.Saat berjalan menuju kamarku.Aku mendengar suara mama dengan pak sahrul diteras taman belakang.Ternyata pak sahrul sedang memijit pundak mama.Saat itu pak sahrul hanya mengenakan kaos dan sarung.”trus pak…enak..lebih keras pak..”kata mama.Karena sangat ngantuk aku masuk kekamar.Terpikir olehku,apa yg terjadi jika pak sahrul memperkosa mama.Karena ketakutanku.Aku kembali keluar.Aku kembali mengintip dari balik jendela dapur.Situasi masih seperti tadi.Tangan pak sahrul secara perlahan menjatuhkan tali daster mama yg kanan.Mama masih memejamkan matanya menikmati pijatan pak sahrul.Lalu tangan kiri pak sahrul menepikan tali daster mama yg kanan.Dan akhirnya tali itu jatuh sendiri.Secara spontan tangan pak sahrul langsung meremas kedua tetek mama yg besar dan padat itu dan mulutnya mencium bibir mama.Mama mencoba melawan,tapi kedua tanganya sudah dalam pelukan tangan pak sahrul yg meremasi payudara mama.Mama juga menggelengkan kepalanya agar lepas dari bibir paksahrul.Tapi apa dikata,mama tidak bisa melepas bibir pak sahrul dari mulutnya.Tangan pak sahrul pun kini mempijit-pijit puting susu mama.Mama terkulai lemas dan menikmati cumbuan pak sahrul.”kamu cantik sekali..”puji pak sahrul melepaskan ciumannya dan mencium pipi mama.Kemudian bibirnya pindah ke payudara mama.Tukang becak itu menjilati puting mama dengan lahapnya.”akh..pak…sudah..Akh..shh”desah mama berulang kali.

Pak sahrul semakin lahap menikmati payudara mama setelah payudara itu mengeluarkan air.”wah..ibu masih bersusu..”katanya sambil menghisap pentil mama.”pak..sdh..oh…”mama terus mendesah.Lama klamaan,mama akhirnya menikmatinya.”trus..pak..sshhss trus..”kata mama.Mendengar perkataan itu,pak sahrul menghentikan kegiatanya.”kok..berhenti pak.”tanya mama.”jangan disini ada anakmu…”jwbnya.Lalu pak sahrul menggendong mama kekamarnya.Sampai dikamarnya.Pak sahrul tinggal mengenakan sarung.Sementara daster mama masih tersangkut menutupi selangkangan mama,mama telentang ditempat tidur pak sahrul.Kemudian pak sahrul mengikat tangan mama dengan kain panjang disisi tmpt tidur.Pak sahrul kembali mencipok mama.Mama hanya memeramkan matanya.Lidah tukang becak itu turun sampai pada puting mama.Dia menjilatinya seperti anak bayi.”pak..sakit..akh..”desah mama sambil menggoyangkan badanya.Pak sahrul semakin melahap tetek mama.Tanganya memplintir puting mama hingga mengeras.Payudara memerah bercak tangan pak sahrul yg meremas payudara mama.Kemudian pak sahrul mengambil jepitan rambut wanita yg ada dilacinya.Dijepitnya kedua puting mama dengan jepitan itu.Mama lantas berteriak kecil.”akh..sshhh..pak..sakit..lepaskan pak..”kata mama.”jangan byk bergerak entar semakin sakit”kata pak sahrul.Pak sahrul kembali menempelkan mulutnya dipayudara mama.Ternyta pak sahrul ingin mengeluarkan dan merasakan susumama lebih banyak.”pak..oh..sakit..”kata mama berulang kali.Pak sahrul semakin menghisap dengan tajam puting mama secara bergantian.Nampak wajah puas pak sahrul setalah melepaskan penjepit rambut itu dari puting mama.Kemudian pak sahrul menurunkan daster mama.Nampaklah tonjolan vagina mama yg berbulu lebat ditutupi cd hitam.Tanpa pikit lagi,pak sahrul menurunkan cd mama sekaligus.Wah udah lama aku gak melihat vagina mama.Jembut mama kini semakin lebat dari 1bulan yg lalu.Wajah pak sahrul sepertinya kurang suka melihat vagina mama.”ayo pak..siksa aku..kayak..tadi..rangsang pak”kata mama.Kemudian pak sahrul menggesakan tanganya dijembut mama.”akh..”teriak mama ketika pak sahrul mencabut 4helai jembut mama.”jelek sekali jembut mu nyonya..”kata pak sahrul.Kemudian pak sahrul membuka lacinya dan mengeluarkan pisau silet cukur.Diambilnya airnya dan dituangnya kemjembut mama.Creek…creek..jembut mama kini sudah agak gundul.”jangan..pak..jangn dipotong..”rintih mama.Ternyata pak sahrul mengukir huruf S divagina mama.Kemudian pak sahrul mengambil kaca dan memperlihatkanya kepada mama.”lihat nyonya…rapikan..”kata pak sahrul.Wajah mama memerah melihat itu.KEmudian pak sahrul menempelkan mulutnya divagina mama.Kemudian lidahnya mencolok-colok vagina mama.”akh..pak. geli..”kata mama.Vagina mama sangat rapet,mungkin karena sudah tdk dijamah sama papa.”sempit sekali bu…”kata pak sahrul.Tangan paksa hrul langsung mencolok-colok vagina mama.Kemudian itil mama dijilat sama pak sahrul.Tak tanggung2,pak sahrul mengisap vagina mama yg agak basah itu.Mama terus mendesah sambil berusaha melepas tanganya yg terikat disisi tempat tidur.Mama melipatkan kakinya dikepala pak sahrul yg menempelkan kepalnya divagina mama.”trus pak..shss”desah mama berulang kali.Mama semakin menekan kepala pak sahrul,”pak..ak mau kelu…ar..tak..taha..”kta mama.Pak sahrul semakin lincah menjilati vagina mama.DAn beberapa saat kemudian,mama menekan kepala pak sahrul dengan kakinya dan tubuh menggelinjang hebat.Mama orgasme untuk pertama kalinya.

Lalu pak sahrul melepas kepalanya dari mulut vagina mama.Lalu pak sahrul menurunkan sarungnya.Penis pak sahrul lebih besar dari punyaku,nampak urat2nya dan jembutnya yg tinggal sedikit.Kemudian dia jongkok diatas dada mama.Penisnya disodoknya kemulut mama.Mama tdk dapat menapung seluruh penis pak sahrul yg panjang.Pak sahrul memejamkan matanya sambil melepas iketan tangan mama.Setelah lepas,tangan mama langsung memegan penis pak sahrul dan mengocoknya.Pak sahrul langsung menghentikan kocokan mama yg dapat membuatnya klimaks.Lalu pak sahrul mengambil sebuah botol yg berisi bir,setelah diteguknya ditumpahanya kebadan mama.”ayo kita mulai nyonya..”kata pak sahrul.Pak sahrul menindih mama yg terlentang dan memasukan penisnya kevagina mama.”akh..pak..”desah mama ketika pak sahrul memaksa penisnya masuk kedalam vagina mama.”akh..shshh..”desah mama.Pak sahrul menggenjotakan penisnya dengan sekencangnya hingga terdengar suara tempat tidur.”akh..pak..oh..sassssh..”desah mama berulnag kali.Tangan pak sahrul memegangi payudara mama agar tdk dari mulut abang becak itu.Sepertinya pak sahrul amat ketagihan dengan payudara mama.Mungkin karena tdk pernah dijamah oleh biniknya dikampung yg sdh tua.”nyon..ya semakin cantik..”kata pak sahrul memuja mama ketika memandang muka mama yg berkringat dan matanya yg terpejam.”leb.ih..cep..at..pa..trus..”kata mama.
Pak sahrul mempercepat gerakanya dan tanganya kini memegani kepala mama dan mulutnya menahan rintihan mama.”pak..sy..tak..tah an..nehh..”kata mama.”akh…sshhhhhhhhhhs..oh….”desah mama.Pak sahrul menekan penisnya divagina mama dengan dalam2.Mama memejamkan matanya seperti yg dilakukan oleh pak sahrul.Lalu pak sahrul melepaskan penisnya dan membopong mama turun dari ranjang.Kemudian kepala dan leher mama diletakan ditepi tempat tidur.Sementara pinggul mama ditunggingkan.Ternyta pak sahrul ingin mendogie mama.”akh..oh..pak..”kata mama ketika pak sahrul menggesekan kontolnya di memek mama.”akhhhhh..pak.”desah mama lagi ketika pak sahrul menusuk vaginanya.”sassshh..oh..”pak sahrul memompa mama dengan sedikit lambat.Dan ahkirnya pak sahrul kembali memompa mama dengan tenaganya.Tanganya memegang perut mama.Mama terus mendesah terus mendesah sambil meremas dsternya diatas tempat tidur.Mulut pak sahrul tdk tinggal diam,dijilatinya punggung mama yg tertutup rmbut dan basah.Tanganya sesekalmemukul pantat mama. .”pak..saya..kluar..akh..ohhhhhhhh” desah mama panjang utk orgasme yg ke-2 kalinya.Pak sahrul kembali menempel penisnya divagina mama.Lalu pak sahrul memangku mama dan duduk diatas bangku kecil.”ayo buk..sedikit lagi..”kata pak sahrul.Tangan pak sahrul meremas payudara mama dan lidahnya menjilati leher mama.”akh..pak..ayo..tumpahkan bibitmu dirahimku ayo..”kata mama.Mendengar perkataan itu pak sahrul langsung menancapkan penis kememek mama.”oh..pak..ayo..oh..”desah mama berulang kali.Tangan pak sahrul semaik leluasa meremas tetek mama.Mulutnyapun menjilati tengkuk mama.Lama klamaan pak sahrul sepertinya tak tahan.Dipompanya mama dengan sekuat-kuatnya,tetek mama bergerak naik turun mengikuti pompaan pak sahrul.”trus pak…laya..ni..aku..”kata mama.”pak….klua..sama…ya..”kata mama.PAk sahrul semakin mempercepat gerakanya.Mama kelihatanya menahan sesuatu”pak..saya..kluar..”kata mama.Pak sahrul mengentikan goyanganya dan menjatuhkan badannya kelantai.
“seka..rang..bu..”jerit pak sahrul.Tubuh mama menggenjang begitu juga pak sahrul.Pak sahrul sengaja menjatuhkan tubuhnya agar spermanya tdk tumpah kelantai.Mereka berdua terkulai lemas.Tapi ternyta pak sahrul tdk,pak sahrul mengangkat badan mama dan mnaruhnya dikasur.Lalu pak sahrul memakai sarungnya.Kemudian dia memakaikan mama daster.Aku bergegas masuk kedalam.Kulihat pak sahrul masih kuat menggendong mama.Setelah dibukanya pintu kamar mama,terdengar suara dikasur,pak sahrul membanting mama dan menutup pintu.Kulihat jam didinding menunjukan pukul 12.10 malam.Sebelum masuk kekamar,kuintip kamar mama.Ternyta pak sahrul menyelimuti mama.Aku masuk kekamar.Setelah kudengar suara pintu teras belakang terkunci aku pun tidur.Jam 5 aku bangun.Penisku telah mengacung tegang.Aku keluar dari kamar dan masuk kekamar mama.Kubuka selimut mama.Kunaikan dasternya keatas.Terlihat jembut mama yg berbentuk S.Karena takut mama bangun aku hany memfoto badan mama.Penisku semakin tegang saja.Karena tak tahan,aku langsung menurunkan celanaku.Kugesekan dimulut vagina mama.Lalu kokocok.Tak lama kemudian maniku aku tumpahkan dimulut vagina mama.Lalu aku bergegas keluar.Jam 6pas,aku telah berpakaian rapi.Dimeja makan telah tersedia teh dan roti.Aku dan mama sarapan bersama.Mama masih memakai daster 1talinya.Aku juga mencium bau sperma sedikit dari badan mama.Lalu aku berangkat sekolah.Karena hari sabtu aku pulang cepat.Jam 12 pas,setelah ngobrol sama temanku aku bergegas kerumah.Aku sengaja melewati pos ronda dimana pak sahrul mangkal.Dia hanya tersenyum kepadaku.Sampai dirumah,mama menyambutku dengan hidangan lezat yg ada diatas meja.Saat itu mama mengenakan daster tangan pendek sepaha.Saat makan,tak disengaja aku menjatuhkan sendok.Tak disangka mama juga tdk memakai kolor.Nama ukiran dijembutnya yg bertuliskan huruf S.Aku berpura-pura tdk mengetahui hal itu.Jam 2siang,aku bosan menonton acara Tv.Terpikir olehku untuk nonton bokep.Dan juga mama biasanya lagi tidur.Sebelum masuk kekamar,aku mengintip mama.Ternyta mama sedang membongkar lemari.”ngapain ma..”tanyaku.”mau cari baju buat entar malam…”jawab mama.”entar malam ada apa memangnya..””ada pesta dirumah tante vida..”jawab mama.Lalu aku masuk kekamar.Kuputar bokep terbaru.Setelah nonton bokep.Penisku kembali tegang.Akhirnya aku memutuskan untuk menidurkan badanku diatas kasur.Jam 4.30 aku bangun.Aku berjalan keluar.Ketika mengambil gelas didapur,mama yg sedang menyiram bunga yg berada 2meter dari kacadapur dipeluk sama pak sahrul dari belakang.Mereka langsung jatuh ketanah,posisi pak sahrul diatas mama.”ih…abang nakal..tuhkan jadi basah..entar ketahuan gimana..”kata mama.Ternyata mama telah jatuh cinta dengan pak sahrul,buktinya dimemanggil abang dengan pak sahrul.”ketahuan..gak papa donk..”jawab pak sahrul.Kemudian pak sahrul mengambil slang dan menyiram selangkangn mama.”akh abang nakal..””masa kebun rumah yg dimandiin kebunmu juga donk.”jwb pak sahrul.Kulihat badan mama telah basah kuyup.Nampak teteknya yg montok dan vaginanya yg terkena spermaku tadi pagi dari dasternya yg sudah basah.Lalu kuambil bangku dan duduk melihat pemandangan itu dengan segelas teh panas.Setelah pak sahrul melepaskan pelukanya.Mama masuk kekamar.Karena kupikir tak ada pertempuran lagi.Aku pun kekamar.

Jam 7mlm,mama pergi menaiki becak pak sahrul.AKu sudah menawarkanya untuk kuantarkan,tapi dia menolaknya.Karena kawatir ada sesuatu dengan mama,jam 8.30 aku pergi kerumah tante vida.Suasana didaerah rumahku malam itu agak sepi,hanya ada 1mobil yg lewat dalam 5mnt.Didaerahku,orangnya semua jarang keluar malam.Aku sengaja melewati pos becak.Hanya ada 2becak disitu.Dari kejauhan aku melihat becak pak sahrul lagi membonceng mama.Aku segera bersembunyi dipinggir gang kosong yg mengarah kesebuah rumah kontrakan yg lagi kosong.Tiba2 pak sahrul memarkirkan becaknya didepan pos.Kemudian pintu warung yg tadinya tertutup terbuka dan mama lari masuk kedalamnya.Pak sahrul membetulkan becaknya.Hpku bergetar,ternyta mama menge-SMSku dan bilang mama pulang malam,aku disuruh tidur duluan.Aku hanya tersenyum membacanya.Lalu kumatikan hpku.Aku masih menunggu digang sempit itu.”ayo neng..”kata pak sahrul dari jendela warung yg tertutup.Lalu pak sahrul melewati belakang warung yg mengarah pada rumah kosong tadi,setelah dibukanya pintu.Mama berlari masuk kedalam.KArena gelap,aku tidak mengetahui ada org dibelakang mama.Perlahan aku berjalan kebelakang rumah itu,dugaanku benar.Dibelakang rumah adlh sebuah ladang yg besar dan menuju pada sebuah sungai.Tak lama kemudian pintu belakang terbuka.”sudah ayo…”kata pak sahrul sambil memegang sebuah lampu teplok.Mama ternyata mengganti pakaianya,mama keluar dengan mengenakan kain sarung yg dililitkan didadanya.Sungguh sexy mama.Dari bawah kain sarung nampak betis mama dan sebagian paha mama yg mulus,sementara payudara yg tertutup sarung seperti ingin berontak keluar.”ayo buruan…”kata pak sahrul.lalu mereka berjalan kearah sungai.Kuikuti dari belakang.Tiba2 pandanganku tertuju pada sebuah rumah yg terbuat dari kayu yg berada dipinggiran sungai.”sudah sampai bu..”kata pak sahrul berada 5mtr didepan rumah yg agak seram itu.Pintu rumah itu terbuka dan keluarlah sosok pria tua yg kira berumur 65thn,yg tak lain adlh pak Ronggo.Pak Ronggo adlh orang pintar,ia dipercaya sebagai tukang pijat.”masuklah…”kata pak Ronggo.Mama dengan gerakan kaku dirangkul oleh pak sahrul dan masuk kedalam.Aku berusaha mendekat,akhirnya aku mendapat lubang disudut kanan rumah.Mama dihadapan pak ronggo sementara pak sahrul disamping kananya.”ada datang non…”tanya pak renggo.”saya..anu…saya ingin mendapat kepuasan yg lebih selama berhubungan intim pak…”kata mama.Tatapan pak renggo mulai menggerayangi badan mama.Mulai dari leher hingga selangkangan mama.”oh..begitu..baiklah kamu harus mengikuti perintah saya.”kata pak renggo.Pak renggo menidurkan mama diatas kasur busa dengan posisi telungkup.Pak renggo mulai melancarkan aksinya.Pertama,ia membasahi punggung dan paha mama dengan minyak.Setelah itu ia menyuruh mama membuka sarungnya.Ternyata mama tdk memakai daleman apapun,dengan sekejap payudara dan vagina mama yg bertuliskan S nampak jelas.”haha…”pak renggo tertawa.Setelah mama terlentang pak renggo meremas-remas tetek mama dengan tangan kasarnya.”akh..ssshhh..akh..”desah mama.Remasan pak renggo membuat badan mama bergoyang-goyang.Mamapun meremas kain sarung yg tadi ia kenakan.”pak…oh…nikmat..pak..asshh..”desah mama lagi.Tak lama,bibir pak renggo mendarat diputing mama.cupphh..suara isapan pak renggo pada puting mama.Pak sahrul memandangi dari pintu sambil berjaga diluar.”oh oh ahkhhhhhhhh…”teriak mama ketika puting mama diplintir dengan sangat keras.Kemudian pak renggo turun menjilati paha mama dan sampai pas didepan bibir vagina mama.Pak renggo menyentil itil mama dan dijilatinya bibir vagina mama yg berwarna merah.”ah..
pak..”mama tak berhenti mendesah nikmat.Tangan pak renggo mulai menyodok2 vagina mama.”pak..akh..”desah mama dan menggerakan pantatnya naik turun.Gerakan itu membuat pak renggo emosi,dengan keras pak renggo memukul belahan pantat mama”pakkkk”.Mama berhenti menggerakan pantatnya dan berganti menggelengakan kepalanya.”aku..akh..klu..ar..pak..”kata mama.Tubuh mama bergetar hebat dan pak renggo langsung membuka mulutnya dan menjilati air orgasme mama.Setelah itu,pak renggo mengambil sesuatu dari luar.

Pak renggo mengambil ujung sebuah kayu dengan ujungnya yg tumpul mirip kepala penis dan dilapisi dengan sebuah plastik tipis.
Kemudian kayu itu dicelupkan kedalam kaleng cet kecil yg berisi 1/2 cairan mirip sperma.”apa itu pak..”tanya pak sahrul.”ya itu air maniku yg kusimpan mulai 3bln yg lalu..”kata pak renggo.kayu yg dilapisi plastik itu telah basah dan pak renggo siap menusukan kedalam vagina mama.”akhhhhh..pak..sakit…”jerit mama.”pak..leps..kan..”tambah mama.Tapi pak rengo terus berusaha memasukan kayu yg diameternya kira 6cm dan panjang 15cm itu.”akhh…”jerit mama.Setelah masuk setengah pak sahrul mengocok kayu itu divagina mama.Mama mendesah panjang.”bu…enak..”tanya pak renggo.”eh..ena..k..pak..sshh..”jawab mama.”kamu ini pasienku atau lonteku..”tanya pak renggo.”pasien pak…”jawab mama.Pak sahrul mengocok dengan sangat cepat.
“pak…aku..lon..temu..”jawab mama.Pak sahrul mencabut kayu itu.”ayo bu…minum ini…”kata pak renggo menyodorkan kaleng cat berukuran kecil kemulut mama.”kamu ini lonteku atau pasienku sih…”tanya pak renggo.”lonte pak..”kata mama yg telah membuka mulutnya.Baru seteguk,mama sedikit memuntahkan sprema dilantai.Pak renggo langsung menjambak rambutnya.”akh..””jangan kau tumpahkan atau akan kusemprotkan kevaginamu..”kata pak renggo.Dengan bantuan tangan pak sahrul yg menjepit hidung mama.Mama meneguk sperma itu.”ha..ha…bagus bu..”kata pak renggo setelah puas melihat mama menghabiskan seluruh spermanya.Mama kelihatan sedikit mual.”kini saatnya penisku bermain..”kata pak renggo.Pak renggo membuka celananya.Nampaklah penis hitam pak renggo yg berukuran org negro itu.Lalu pak renggo menyuruh mama bergaya dogie styel,dan pak renggo menusukan penis itu kevagina mama.”akh…”desah mama.Pak renggo mengoyang dengan penuh sahdu dan pelan.Nampaknya pak renggo tdk ingin terlalu membuat mama letih dan ingin melancarkan asyik yg lain.”ah..bu nikmat sekali vagina mu,,…””oh…terus…aku..milikmu..”kata mama.Goyangan itu membuat bangkit nafsuku,diam2 aku mengocok penisku.Beberapa saat kemudian”pak..saya kuluar.”kata mama dan tiba2 badan mama menggejang kembali,orgasme kedua kalinya.Lalu pak renggo mengganti posisi dengan cara berhadan.Digaya ini pak renggo dengan sadis melahap bibir mama hingga mama hanya bisa mendesah sesekali.Begitu juga tetek mama yg terus diremasnya.Mama kembali orgasme.Dan gaya terakir adlh gaya gunting.Digaya ini pak sahrul mendapat kesempatan memasukan penisnya dianus mama.”akh…sakit..”desah mama.Ketika mulai bergoyang mama tdk lagi mengerang kesakitan tapi semakin bernafsu dan berkata”terus…pua..skan..aku..oh..teru…s”berul ang kali.Terlihat mama terus memejamkan matanya ketika pak renggo meremas payudaranya.”pak..ah..saya..klua..r..”kata mama.Kedua lelaki itu menghentikan gerakanya dan mama mendesah.Setelah mama orgasme pak sahrul ikut orgasme dan menumpahkan dianus mama.Lalu pak renggo mengganti posisinya lagi,kini mama ditelentangaknya dan ia kembali memompa mama.Pak renggo kini bermain cepat.Tanpa henti ia menggoyangkan penisnya sangat cepat hingga tetek mama ikut bergoyang naik turun.Kecepatanya melebihi kecepatan yg kutonton difilm BF.Dan tak lama kemudian,pak renggo mencapai puncaknya dan juga mama orgasme untuk kesekian kalinya.Setelah puas,mama ditelentangkanya dilantai.Sementara pak renggo minum air dan memakai celanya.”dashyat rul….”kata pak renggo.”gimana kita anter sekarang…””ayuk..saya udah ambil bajunya neeh…”kata pak sahrul.Sebelum memakaikan mama baju,pak renggo menyiram badan mama dengan air yg berada di jerigen yg berisi bunga.”biar gak ketahuan..”kata pak renggo.Melihat mereka memakaikan mama baju,aku berlari menuju ketempat keretaku dan pulang kerumah.Sampai dirumah kulihat jam didinding menunjukan pukul 11.45 malam.Tak lama setelah aku minum terdengar suara becak pak sahrul.Aku masuk kekamar.Kuintip dari ventilasi,pak renggo menggendong mama kedalam kamar dan melemparnya kekasur.Mama tdk memakai pakaian awal,melaikan daster yg aku tak tahu dari mana.Tak lama kemudian kudengar suara suara becak pak sahrul yg seperntinya mengantar pak renggo pulang.

Aku keluar dari kamar dan masuk kekamar mama,badan mama wangi,mungkin karena bunga tadi.Sebelum kekamar aku menusukan tanganku kevagina mama dan kucium wangi vagina mama yg bercampur dengan bau sperma.Lalu aku pergi tidur.Paginya aku terbangun pukul 6 lalu aku mandi.Setelah berpakaian,aku keluar.Suasana masih sepi,pintu kamar mama terbuka dan aku mendengar suara air dari dalam kamar mandi.Rupanya mama lagi mandi.Setelah permisi sama mama,aku pergi kesekolah.Jam 2 aku sampai dirumah.Setelah makan,aku pergi untuk membeli pulsa.Aku sengaja tdk memberi tahu mama yg ada dikamar.Karena tdk jauh,berjalan kaki.Setelah membeli pulsa,aku berjalan pulang.”kemana orang2..”gumanku.Suasana siang itu amat sepi,hanya ada beberapa pemulung sepanjang jalan rumahku.Terlihat sebuah mobil minibus hijau terpakir didepan rumahku.Aku kemudian bersembunyi dibak sampah setelah melihat pak sahrul berdiri didepan rumahku.Tak lama kemudian mama keluar dengan memakai tanktop merah keputih-putihan dan celana panjang hitam yg ketat.Pak sahrul ternyata bersama pak renggo dan pak saiful.Pak saiful adlh pemilik mobil yg juga merupakan salah seorang juragan dari pada tukang becak.Konon katanya dia memiliki 3org istri.Setelah menghidupkan mobil mereka pergi.Karena keretaku sengaja kuparkirkan diteras,aku tdk kehilangan jejak mereka.Ternyata mereka menuju sebuah gudang bekas tempat perjudian.Daerahnya dari agak jauh dari rumah penduduk kampung sekitar.Setelah mobil terpakir,mama turun dengan memeluk pinggang pak saiful.Tangan pak saifulpun memeluk sambil mengelus rambut mama yg panjang.Lalu pak sahrul menutup pintu depan gudang itu.Kuparkirkan keretaku dibali1k pohon2 dan kupastikan takkan ada orang yg bisa melihat dari kejauhan.Lalu aku berjalan mengelilingi gedung itu.Berkat keahlianku,aku berhasil masuk tanpa sepengetahuan mereka.Aku bersembunyi dibalik tumpukan tong-tong minyak.Pak saiful yg memakai kemeja pantai dan celana hitam sedang asyik mengelus rambut mama sambil bercerita-cerita.Mereka tampak seperti sepasang kekasih.Mamapun tak henti ketawa dibuatnya.Mereka berdua duduk diatas papan kayu.Tak lama kemudian,pak sahrul membisikan seusatu kepada pak saiful.”sebentar ya sayang..”kata pak saiful.Kemudian pak saiful mengeluarkan 10lmbr uang 100rb dan memberikan kepada pak sahrul.Kemudian pak sahrul dan pak saiful keluar.Sambil berjalan kearah mama,tangan pak saiful membuka 1per1 kancing bajunya.Tepat dibelakang mama,pak saiful hanya mengenakan celana panjangnya.Mama bangkit dan mereka saling berhadapan.Tangan pak saiful memegang pinggang mama.cuppfff…mereka berdua bercium mesra.Tangan mama melingkar dileher pak saiful.Ciuman pak saiful pun turun kepipi dan kuping mama.Dengan kedua tanganya,pak sahrul menurunkan tanktop merah mama sekaligus bh putih mama.Bibir pak sahrul pun turun menjilati payudara mama dengan penuh gairah.Tanganya yg meremas-remas payudara mama membuat mama begitu terangsang.Lidahnya pun secara bergantian menjilat dan mengisap puting mama.Pak saiful seperti seorang anak bayi yg minta ditetekan oleh ibunya.Mamapun tak henti mendesah dan sesekali melirik payudaranya yg dimainkan oleh pak saiful.

Oh….shsshh…akh…desah mama.Telunjuk pak saiful menekan puting mama kedalam.Badan mama semakin menggoyang.”ah susumu msh banyak kan..”kata pak saiful.Dengan mulut yg masih menempel diputing mama,tangan pak saiful menurunkan celana panjang mama.
Tak lama kemudian celana itu beserta cd mama telah turun hingga ke betis mama.Pak saiful langsung mengeluarkan penisnya.Dgn sedikit mencolek dan menjilat vagina mama,diarahkan kontolnya yg hitam itu kevagina mama.”akh.pak…oh..”desah mama.Dan lambat laun penis itu masuk kevagina mama.Pak saiful yg berhadapan dengan mama langsung menggoyang dan mulutnya menempel dimulut mama.Aku tdk mendengar jeritan mama.Goyangan pak saiful sangat cepat.Sesekali pak saiful melepas ciumanya,mama mendesah keras dan ingin mengucapkan sesuatu.Goyangan pak saiful semakin cepat.”akh..akh..akh..”desah mama berulang2.Mereka berdua saling memejamkan mata.Pak saiful menekan keras penisnya kedalam vagina mama.Ternyta mereka berdua telah mencapai orgasme.”oh..ha.ha”desah mama dengan nafas yg tak teratur.Mama langsung terlentang dipapan itu.Kemudia pak saiful memakai bajunya dan bergegas meninggalkan mama.PAk saiful keluar dan tak lama kemudian masuk pak ronggo bersama seorang dokter yg masih muda.Badanya besar dan mempunyai jenggot tipis dan menurutku lumayan ganteng.”ini dia….”kata pak ronggo.Dokter itu mengeluarkan semacam alat yg berbentuk mangkuk kecil.kedua alat itu dipakaikan dikedua payudara mama dan tepatnya diputing mama.Kemudian alat itu bergertar.Mama spontan bangkit dan mendesah tapi mama entah kenapa tak melawan.Setelah 5mnt,alat itu berhenti dan dicabut.Kemudian dokter itu menjepit puting mama dengan tanganya.Susu mama perlahan menetes.”wah ibu masih bersusu yah..”kata dokter itu.Pak ronggo tampak bahagia melihatnya.”silakan kalau dokter mau…”kata mama.Dokter itu menempelkan mulutnya diputing mama,secara bergantian ia menghisap puting mama.mama memejamkan matanya sambil mendesah.Dokter itu menyedot kuat payudara mama.Badan mama mengenjang dan mama orgasme.Kemudian dokter itu bangkit dan akan pergi.”pak apa mungkin istri saya ini dapat hamil…”tanya pak ronggo.”masih bisa…jika bapak mau dapat meminta pertolongan saya..”kata dokter itu.”sekarang pak.”kata pak ronggo.Lalu dokter itu memberikan sebuah resep kepada pak ronggo.”ini silakan dicoba..tapi sebelumnya istri bapak harus saya bersikan vaginanya dari sperma yg ada didalamnya.”kata dokter.Lalu pak ronggo membawa mama dan dokter itu kerumah.Dirumah aku tdk tahu apa yg terjadi karena pak ronggo berjaga didepan rumah.Setelah dokter itu keluar dengan wajah yg berseri dan pergi dengan becak pak renggo,aku masuk.Didalam aku menemukan mama tegeletak dikasur dengan rambut yg berantakan dan bugil.Bulu vagina mama botak dan dari vagina mama menetes air.”oh..ssh…”desah mama keluar dari mulut mama.Mama duduk dikasur dan memegang vaginanya.Kemudian ia masuk ke wc dengan jalan yg tak lurus.Sejak kejadian itu,pak renggo selalu meminta jatah dengan mama.